Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Drama & Buku Refleksi: Dua ‘Pelarian Sehat’ Gen Z Saat Otak Penat dan Hidup Terasa Flat

Widodo • Jumat, 13 Maret 2026 | 11:45 WIB

Di balik rebahan, ada tubuh yang lelah dan pikiran yang butuh jeda. Bukan malas, tapi cara bertahan orang dewasa.
Di balik rebahan, ada tubuh yang lelah dan pikiran yang butuh jeda. Bukan malas, tapi cara bertahan orang dewasa.

RADARBONANG.ID – Ada hari-hari ketika hidup terasa berjalan terlalu datar. Rutinitas terasa berulang: bangun pagi, bekerja atau kuliah, pulang, lalu kembali lagi ke siklus yang sama keesokan harinya.

Tidak selalu ada kesedihan besar. Tapi juga tidak ada semangat yang benar-benar menyala. Semuanya terasa biasa saja—flat.

Di momen seperti ini, banyak anak muda memilih “kabur sebentar”. Bukan ke tempat jauh atau liburan mahal, melainkan ke dunia cerita.

Entah lewat drama yang membuat hati ikut berdebar, atau lewat buku refleksi yang diam-diam menampar kesadaran.

Dua hal sederhana ini belakangan menjadi semacam healing kit bagi generasi muda.

Baca Juga: Film Na Willa Ajak Penonton Dewasa dan Anak-Anak Nostalgia ke Masa Bahagia dengan Imajinasi dan Kejujuran Dunia Anak

Tenggelam Sebentar di Dunia Drama

Menonton drama kini bukan lagi sekadar hiburan ringan. Bagi banyak orang, ini juga menjadi cara paling mudah untuk mengistirahatkan pikiran setelah hari yang melelahkan.

Beberapa orang memilih drama romantis yang hangat dan ringan. Sebagian lain justru menikmati cerita penuh konflik yang membuat emosi naik turun.

Platform streaming seperti Netflix dan Viu bahkan mencatat peningkatan konsumsi serial drama dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan penonton muda.

Fenomena ini bukan tanpa alasan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Psychology of Aesthetics, Creativity, and the Arts menunjukkan bahwa menikmati cerita fiksi dapat membantu seseorang mengalami emotional release atau pelepasan emosi.

Ketika seseorang ikut tertawa, menangis, atau marah bersama karakter di layar, otak sebenarnya sedang memproses emosi yang mungkin selama ini tertahan.

Dengan kata lain, menonton satu episode drama kadang bisa terasa seperti mengambil “liburan kecil” dari realitas.

Beberapa serial bahkan membuat penonton merasa lebih terhubung dengan pengalaman manusia lain—tentang cinta, kegagalan, kehilangan, atau harapan.

Dan dari situlah muncul perasaan bahwa kita tidak sendirian dalam menghadapi hidup.

Buku Refleksi: Saat Kata-Kata Jadi Cermin

Jika drama memberi ruang untuk merasakan emosi, buku refleksi justru mengajak pembaca berhenti sejenak dan berpikir.

Belakangan, buku bertema refleksi kehidupan semakin populer di kalangan Gen Z. Berbeda dengan buku motivasi lama yang sering dipenuhi kalimat bombastis, buku refleksi biasanya ditulis dengan bahasa sederhana, personal, dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Salah satu contoh buku yang banyak dibaca anak muda adalah Filosofi Teras karya Henry Manampiring.

Buku ini memperkenalkan prinsip filsafat Stoicism dengan cara yang ringan dan mudah dipahami.

Dalam dunia filsafat, Stoicism mengajarkan bahwa manusia perlu membedakan antara hal yang bisa dikendalikan dan hal yang berada di luar kendali.

Alih-alih terus mengkhawatirkan sesuatu yang tidak bisa diubah, Stoicism mengajak seseorang untuk fokus pada sikap dan tindakan yang berada dalam kontrol dirinya.

Konsep ini terasa sangat relevan di era modern yang penuh tekanan sosial, ekspektasi, dan perbandingan hidup—terutama di media sosial.

Menurut laporan literasi dari UNESCO, membaca buku reflektif juga dapat membantu meningkatkan self-awareness atau kesadaran diri.

Selain itu, aktivitas membaca terbukti membantu seseorang mengelola emosi dan memahami pengalaman hidup dengan lebih jernih.

Tidak heran jika banyak anak muda mulai menjadikan membaca sebagai cara “menata ulang” pikiran yang terasa berantakan.

Baca Juga: Pemerintah Mulai Program Gentengisasi, Serap Produk UMKM Jatiwangi hingga Rp3 Miliar

Pelarian yang Justru Membantu Pulang ke Diri Sendiri

Sekilas, menonton drama atau membaca buku mungkin terlihat seperti bentuk pelarian dari kenyataan.

Namun bagi banyak orang, justru dari situlah mereka menemukan cara untuk kembali memahami diri sendiri.

Drama memberi ruang untuk merasakan emosi yang mungkin selama ini dipendam. Sementara buku refleksi membantu merangkai kembali pikiran yang terasa kusut.

Kadang seseorang tidak membutuhkan solusi besar untuk memperbaiki hidup. Cukup satu episode drama yang hangat.

Atau beberapa halaman buku yang terasa seperti sedang berbicara langsung ke hati. Dua hal yang terlihat sederhana. Namun sering kali cukup untuk membuat hari yang terasa datar menjadi sedikit lebih ringan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#manfaat menonton drama #filosofi teras henry manampiring #gen z dan drama #healing lewat membaca #buku refleksi gen z