Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Scrolling Tanpa Henti: Kenapa Setelah Berjam-jam Main HP Kita Justru Merasa Lelah dan Kosong?

Widodo • Jumat, 13 Maret 2026 | 10:32 WIB

Scrolling sebentar berubah jadi berjam-jam. Ketika HP akhirnya ditutup, yang tersisa justru rasa lelah dan kosong. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ini penjelasan psikologinya.
Scrolling sebentar berubah jadi berjam-jam. Ketika HP akhirnya ditutup, yang tersisa justru rasa lelah dan kosong. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ini penjelasan psikologinya.

RADARBONANG.ID – Pernah mengalami situasi seperti ini? Kamu membuka ponsel hanya untuk “sebentar”.

Awalnya mungkin hanya ingin mengecek notifikasi, membaca pesan, atau melihat unggahan terbaru teman di media sosial. Namun tanpa sadar, jempol terus bergerak. Scroll, swipe, lalu scroll lagi.

Video demi video lewat di layar. Timeline berganti tanpa henti. Beberapa konten bahkan terasa menarik, lucu, atau menghibur.

Tapi ketika akhirnya ponsel diletakkan dan kamu melihat jam, waktu yang berlalu bisa mencapai satu hingga dua jam.

Anehnya, setelah itu muncul perasaan yang sulit dijelaskan: tubuh terasa lelah, tetapi pikiran juga kosong. Seolah waktu habis begitu saja tanpa menghasilkan sesuatu yang benar-benar berarti.

Baca Juga: One Piece Live Action Season 2 Resmi Tayang di Netflix, Ini Sinopsis Cerita dan Deretan Karakter Baru yang Muncul

Fenomena ini semakin sering dialami banyak orang, terutama generasi muda yang hidup di era digital.

Aktivitas sederhana seperti scrolling ternyata bisa memicu kelelahan mental meski secara fisik seseorang hanya duduk atau berbaring.

Jempol Bergerak Tanpa Disadari

Platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube memang dirancang agar pengguna terus bertahan di dalam aplikasi.

Sistem algoritma mereka mempelajari kebiasaan pengguna, mulai dari video yang disukai, yang ditonton lama, hingga yang sering dibagikan.

Berdasarkan data tersebut, aplikasi akan menampilkan konten berikutnya yang kemungkinan besar juga menarik perhatian pengguna. Inilah yang membuat banyak orang merasa sulit berhenti scrolling.

Satu video memancing video lain. Satu postingan memunculkan postingan berikutnya. Tanpa disadari, otak masuk ke mode autopilot—jempol bergerak hampir otomatis tanpa benar-benar memikirkan apa yang sedang dilihat.

Kondisi ini sering disebut sebagai doomscrolling, yaitu kebiasaan menggulir layar secara terus-menerus meski sebenarnya pengguna tidak lagi menikmati kontennya.

Otak Terus Bekerja, Tapi Tidak Puas

Meski terlihat seperti aktivitas santai, scrolling sebenarnya membuat otak terus bekerja. Setiap detik, otak menerima berbagai rangsangan berupa gambar, suara, teks, dan emosi yang berbeda.

Penelitian dari American Psychological Association menunjukkan bahwa konsumsi media digital secara berlebihan dapat memicu kelelahan mental. Hal ini terjadi karena otak harus memproses banyak informasi dalam waktu sangat singkat.

Masalahnya, sebagian besar konten media sosial bersifat sangat pendek dan cepat berganti. Otak menerima rangsangan terus-menerus, tetapi tidak memiliki cukup waktu untuk benar-benar memahami atau menikmati informasi tersebut.

Akibatnya muncul sensasi yang sering disebut sebagai “lelah tanpa hasil”. Energi mental terkuras, tetapi tidak ada rasa puas seperti saat menyelesaikan pekerjaan, membaca buku, atau menonton film hingga selesai.

Studi lain dari Harvard University juga menemukan bahwa aktivitas online yang bersifat pasif—seperti scrolling tanpa tujuan—dapat membuat seseorang merasa kurang puas dibandingkan aktivitas digital yang lebih aktif, seperti berdiskusi, menulis, atau membaca secara mendalam.

Fenomena yang Umum di Generasi Digital

Generasi yang tumbuh bersama smartphone memiliki hubungan yang sangat dekat dengan layar. Ponsel tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga sarana hiburan, informasi, bahkan tempat pelarian dari kebosanan.

Menurut laporan global DataReportal, rata-rata pengguna internet di dunia menghabiskan lebih dari dua jam setiap hari di media sosial. Pada sebagian orang, angka ini bahkan bisa jauh lebih tinggi.

Bagi banyak anak muda, membuka ponsel sering menjadi refleks ketika merasa bosan, cemas, atau tidak tahu harus melakukan apa. Media sosial kemudian menjadi semacam “ruang pelarian cepat”.

Sayangnya, pelarian ini tidak selalu memberikan efek yang menenangkan. Justru setelah berlama-lama scrolling, sebagian orang merasa semakin hampa atau kehilangan waktu.

Waktu terasa habis, tetapi tidak ada pengalaman yang benar-benar diingat.

Ketika Otak Butuh Istirahat dari Layar

Para psikolog menyarankan beberapa cara sederhana untuk mengurangi kelelahan digital. Salah satunya adalah memberikan jeda pada otak dari paparan layar.

Aktivitas seperti berjalan kaki sebentar, membaca buku fisik, menulis, atau berbicara langsung dengan orang lain dapat membantu otak kembali “bernapas”.

Baca Juga: Gen Z Mudah Rapuh di Dunia Kerja? dr. Elvine Gunawan Soroti Pola Asuh Orang Tua yang Terlalu Memanjakan

Mengatur batas waktu penggunaan media sosial juga bisa menjadi langkah penting.

Banyak ponsel saat ini bahkan menyediakan fitur pengingat waktu layar yang membantu pengguna menyadari berapa lama mereka sudah menggunakan aplikasi tertentu.

Bukan berarti media sosial harus dihindari sepenuhnya. Platform digital tetap memiliki banyak manfaat, mulai dari hiburan hingga informasi.

Namun memberi ruang bagi otak untuk beristirahat dari scrolling tanpa henti bisa membantu menjaga keseimbangan mental.

Kadang, yang membuat seseorang benar-benar merasa segar bukanlah video berikutnya di timeline.

Melainkan momen ketika ponsel diletakkan, layar dimatikan, dan dunia nyata kembali terasa hadir di sekitar kita.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Doomscrolling #efek scrolling terlalu lama #dampak media sosial bagi otak #kecanduan media sosial #kelelahan digital