RADABONANG.ID– Istilah Strawberry Generation semakin sering terdengar dalam perbincangan tentang dunia kerja dan pola asuh anak.
Generasi ini sering digambarkan sebagai generasi muda yang kreatif dan penuh ide, namun dianggap mudah rapuh ketika menghadapi tekanan.
Fenomena tersebut menjadi perhatian serius bagi banyak pihak, termasuk pakar kesehatan jiwa Elvine Gunawan.
Ia menilai bahwa label tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan berkaitan erat dengan pola asuh yang diterapkan dalam keluarga.
Baca Juga: Ngabuburit Ala Gamer: Main PlayStation Jadi Cara Favorit Anak Muda Menghabiskan Waktu Menjelang Buka
Menurutnya, banyak anak muda saat ini tumbuh dalam lingkungan yang serba nyaman namun kurang mendapatkan pembelajaran tentang ketahanan mental dan empati.
Fasilitas Banyak, Empati Berkurang
Dalam penjelasannya, Elvine Gunawan menyoroti kecenderungan orang tua modern yang ingin memberikan kehidupan lebih baik dibanding masa kecil mereka sendiri. Keinginan tersebut sering diwujudkan dalam bentuk fasilitas yang melimpah.
Namun tanpa disadari, pendekatan ini justru bisa membuat anak kehilangan pengalaman penting dalam belajar menghadapi kesulitan.
Anak yang tumbuh dengan berbagai kemudahan terkadang tidak terbiasa menghadapi tantangan atau penolakan. Akibatnya, ketika mereka memasuki dunia kerja yang penuh tekanan dan kompetisi, sebagian dari mereka mengalami kesulitan beradaptasi.
Ia juga menyoroti pola pikir yang terlalu menekankan kepentingan pribadi tanpa mempertimbangkan orang lain. Hal ini dinilai dapat mengurangi rasa empati dan inisiatif dalam bekerja maupun berinteraksi sosial.
Dampaknya, tempat kerja sering dipandang semata-mata sebagai tempat mencari uang, bukan ruang untuk belajar, berkembang, atau membangun hubungan profesional.
Peran Ayah Sering Terabaikan
Salah satu poin penting yang disampaikan oleh Elvine Gunawan adalah peran ayah dalam proses tumbuh kembang anak.
Menurutnya, banyak ayah masih memandang peran mereka hanya sebatas pencari nafkah. Padahal kehadiran emosional seorang ayah dalam kehidupan anak sangat penting untuk membentuk karakter, kepercayaan diri, serta kemampuan sosial.
Tidak sedikit orang tua merasa telah menjalankan tanggung jawabnya dengan memberikan pendidikan terbaik atau menyekolahkan anak di tempat bergengsi.
Namun, menurutnya, anak tidak hanya membutuhkan fasilitas atau barang-barang mahal. Kehadiran orang tua dalam bentuk perhatian, komunikasi, serta dukungan emosional jauh lebih penting dalam membangun kesehatan mental anak.
Tanpa kehadiran tersebut, anak berpotensi mencari validasi atau pelarian dari lingkungan lain yang belum tentu memberikan pengaruh positif.
Pentingnya Mengizinkan Anak Gagal
Sebagai solusi, Elvine Gunawan menyarankan orang tua untuk tidak terlalu protektif terhadap anak.
Ia menilai bahwa salah satu cara terbaik untuk membangun ketahanan mental adalah dengan memberikan ruang bagi anak untuk mengalami kegagalan.
Pengalaman gagal akan membantu anak memahami konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil. Dari proses tersebut, mereka dapat belajar mengenai tanggung jawab, kepemimpinan, serta kemampuan memecahkan masalah.
Menurutnya, kemampuan seperti leadership dan problem solving tidak muncul secara instan, melainkan terbentuk melalui pengalaman, latihan, serta proses belajar dari kesalahan.
Baca Juga: Isyana Sarasvati: Musik Jadi Bahasa Hati dan Jalan Penyembuhan Diri
Anak Bukan Trofi Orang Tua
Di akhir penjelasannya, Elvine Gunawan mengingatkan bahwa keberhasilan menyekolahkan anak di sekolah mahal atau internasional bukan berarti tanggung jawab orang tua sudah selesai.
Ia menegaskan bahwa anak tidak seharusnya diperlakukan sebagai simbol keberhasilan atau “trofi” bagi orang tua. Sebaliknya, anak adalah individu yang membutuhkan pendampingan dalam proses pertumbuhan, baik secara emosional maupun sosial.
Dengan komunikasi yang sehat dan hubungan keluarga yang hangat, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh serta siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan, termasuk di dunia kerja yang semakin kompetitif.
Editor : Muhammad Azlan Syah