RADARBONANG.ID – Setiap menjelang Lebaran, ada satu notifikasi yang paling ditunggu banyak orang, terutama para pekerja: Tunjangan Hari Raya atau THR yang masuk ke rekening. Nominalnya sering terasa cukup besar dan memberi rasa lega setelah menjalani bulan puasa.
Bagi sebagian orang, momen menerima THR bahkan terasa seperti hujan deras yang turun setelah musim kemarau panjang.
Namun, ada satu hal yang sering terjadi setelahnya: uang tersebut seolah cepat sekali menghilang.
Baru beberapa hari masuk rekening, saldo sudah jauh berkurang. Bahkan banyak orang bercanda menyebut fenomena ini sebagai “uang lewat doang”—datang sebentar lalu pergi tanpa terasa.
Baca Juga: Trauma Bisa Diwariskan Lewat Genetik, dr Jiemi Ardian Ungkap Fakta Mengejutkan tentang Luka Batin
Tradisi THR yang Sudah Mengakar
Di Indonesia, tradisi pemberian Tunjangan Hari Raya sudah berlangsung lama dan menjadi bagian penting dari perayaan Lebaran.
Bagi pekerja formal, pemberian THR bahkan telah diatur secara resmi oleh pemerintah melalui kebijakan dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia.
Dalam aturan tersebut, perusahaan diwajibkan memberikan THR kepada karyawan paling lambat tujuh hari sebelum hari raya keagamaan.
Kebijakan ini bertujuan membantu para pekerja memenuhi berbagai kebutuhan tambahan menjelang perayaan.
Mulai dari persiapan mudik, membeli pakaian baru, hingga menyiapkan hidangan khas Lebaran bersama keluarga.
Banyak Pos Pengeluaran Sekaligus
Masalahnya, bagi banyak orang, THR jarang sekali benar-benar “menganggur” di rekening. Begitu uang masuk, sudah ada daftar panjang kebutuhan yang menunggu untuk dipenuhi.
Beberapa di antaranya seperti membeli baju baru, menyiapkan makanan khas Lebaran, biaya perjalanan mudik, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.
Belum lagi tradisi berbagi kepada keluarga atau kerabat yang lebih muda. Memberikan amplop Lebaran kepada anak-anak sering menjadi kebiasaan yang sulit dilewatkan.
Tanpa disadari, satu per satu pengeluaran tersebut mulai menggerus saldo. Hari pertama setelah menerima THR mungkin terasa aman. Namun beberapa hari kemudian, jumlahnya sudah jauh berbeda dari angka awal.
Efek Psikologis “Uang Tambahan”
Fenomena cepat habisnya THR ternyata juga bisa dijelaskan dari sisi psikologi keuangan.
Penelitian tentang perilaku finansial yang dipublikasikan oleh Financial Planning Standards Board menyebutkan bahwa uang yang dianggap sebagai “bonus” atau “uang tambahan” cenderung dibelanjakan lebih cepat dibandingkan pendapatan rutin.
Fenomena ini dikenal sebagai mental accounting, yaitu cara manusia mengelompokkan uang berdasarkan persepsi emosional, bukan semata-mata logika.
Karena THR sering dianggap sebagai “uang ekstra”, banyak orang menjadi lebih santai dalam menggunakannya. Pengeluaran yang mungkin biasanya dipikirkan dua kali menjadi terasa lebih mudah dilakukan.
Lebaran dan Lonjakan Konsumsi
Momentum Lebaran memang identik dengan meningkatnya aktivitas belanja masyarakat. Data dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga biasanya mengalami lonjakan signifikan menjelang hari raya.
Hal ini dipicu oleh berbagai kebutuhan tambahan, mulai dari mudik, persiapan makanan khas Lebaran, hingga tradisi berbagi dengan keluarga dan tetangga.
Peningkatan konsumsi tersebut membuat perputaran uang di masyarakat ikut meningkat. Dari sisi ekonomi, kondisi ini justru menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi tahunan.
Namun dari sisi individu, banyak orang merasakan hal yang sama: uang terasa cepat sekali habis.
Baca Juga: Ramadan Jadi “Bootcamp” Frugal Living: Saat Puasa Diam-Diam Mengajarkan Hidup Lebih Hemat
Antara Euforia dan Realita
Meski sering terasa “menghilang begitu saja”, sebenarnya THR jarang benar-benar terbuang percuma. Uang tersebut biasanya digunakan untuk berbagai hal yang memiliki nilai emosional bagi banyak orang.
Misalnya membeli baju baru untuk anggota keluarga, membantu orang tua, atau memberi kebahagiaan kecil kepada keponakan lewat amplop Lebaran.
Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki makna yang besar dalam tradisi kebersamaan saat Lebaran.
Di sinilah letak uniknya. THR memang datang seperti hujan deras yang tiba-tiba turun.
Namun ketika perlahan “meresap” ke berbagai kebutuhan—seperti air yang menyerap ke tanah kering—uang tersebut sering berubah menjadi sesuatu yang lain: kebahagiaan kecil yang tersebar di banyak tempat saat hari raya tiba.
Editor : Muhammad Azlan Syah