Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Rahasia Sukses Didik Gen Alpha, Yuda Fajrin Tekankan Pentingnya Kehadiran Jiwa Ayah di Rumah

Adinda Dwi Wahyuni • Senin, 9 Maret 2026 | 14:00 WIB

Yuda Fajrin menegaskan peran ayah tak cukup hanya hadir secara fisik. Kehadiran emosional dan nilai agama menjadi kunci mendidik Gen Alpha.
Yuda Fajrin menegaskan peran ayah tak cukup hanya hadir secara fisik. Kehadiran emosional dan nilai agama menjadi kunci mendidik Gen Alpha.

RADARBONANG.ID – Pasangan muda Marsha Natika dan Yuda Fajrin tengah menjadi perhatian warganet berkat konten parenting yang mereka bagikan di media sosial.

Berbeda dari konten hiburan biasa, pasangan ini konsisten membagikan pengalaman mendidik anak dengan pendekatan yang dinilai relevan dengan tantangan zaman.

Menariknya, popularitas mereka bermula dari hal sederhana. Sebuah video yang merekam momen ketika Yuda menegur anaknya justru viral dan ditonton lebih dari 10 juta kali oleh warganet.

Kisah di balik pola asuh mereka kemudian dibahas lebih dalam dalam tayangan di kanal YouTube DMITV melalui program WiFi (Widya Fida) – Dari Hati ke Hati.

Baca Juga: Utang Pinjol Hangus Setelah 90 Hari? Cek Penjelasan Lengkap dari OJK Berikut Ini!

Pasangan yang menikah sejak 2015 tersebut secara terbuka menceritakan dinamika kehidupan rumah tangga mereka, termasuk cara mendidik empat anak di tengah tantangan era digital.

Menurut Yuda, salah satu motivasi utama dirinya aktif berbagi konten parenting adalah kegelisahan melihat mulai memudarnya adab dan sopan santun pada generasi muda, khususnya di kalangan Gen Z dan Gen Alpha.

Gagalkan Stigma Fatherless

Salah satu isu penting yang dibahas oleh pasangan ini adalah fenomena fatherless yang semakin sering diperbincangkan.

Yuda menilai banyak anak yang sebenarnya masih memiliki ayah, tetapi tidak benar-benar merasakan kehadiran sosok tersebut secara emosional.

Menurutnya, kehadiran ayah dalam keluarga tidak boleh hanya sebatas fisik, tetapi juga harus hadir secara jiwa dan perhatian.

Ia menyoroti kebiasaan sebagian orang tua yang secara fisik berada di rumah, namun secara mental justru sibuk dengan ponsel atau pekerjaan lain.

“Banyak ayah yang di rumah fisiknya ada, tapi jiwanya tidak benar-benar hadir karena sibuk bermain ponsel,” ujar Yuda.

Ia menegaskan bahwa sebagai ayah, dirinya ingin terlebih dahulu menanamkan nilai-nilai agama kepada anak-anak sebelum mereka berhadapan dengan dunia luar yang penuh tantangan.

Ketegasan Ayah Bukan Berarti Galak

Yuda juga mengakui bahwa dirinya kerap dianggap sebagai ayah yang tegas atau bahkan galak oleh sebagian orang.

Namun ia menjelaskan bahwa sikap tersebut bukanlah bentuk kemarahan tanpa alasan, melainkan bagian dari tanggung jawab untuk melindungi keluarga.

Menurutnya, ketegasan dalam mendidik anak justru muncul karena rasa cinta yang besar kepada keluarga.

“Aku keras di rumah bukan sekadar galak, tapi karena aku punya ketakutan. Aku sangat sayang dengan keluarga,” ungkapnya.

Strategi Good Cop dan Bad Cop

Dalam mendidik empat anak mereka—dua laki-laki dan dua perempuan—Marsha dan Yuda juga memiliki strategi khusus.

Mereka menerapkan pendekatan good cop dan bad cop, yakni berbagi peran dalam menghadapi situasi tertentu agar emosi anak tetap stabil.

Ketika Yuda bersikap tegas, Marsha mengambil peran sebagai sosok yang lebih lembut dan menjadi tempat anak-anak bercerita.

“Kalau Yuda sedang marah, aku tidak boleh ikut marah. Aku harus menjadi tempat mereka pulang untuk bercerita,” jelas Marsha.

Menurutnya, keseimbangan ini penting agar anak tidak merasa tertekan di rumah dan justru mencari pelarian di luar lingkungan keluarga.

Marsha juga menceritakan bahwa awalnya ia lebih dikenal sebagai kreator konten fashion dan kecantikan.

Namun atas dorongan sang suami, ia mulai menyisipkan konten edukasi parenting yang lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Ternyata langkah tersebut mendapat respons positif. Jumlah pengikut mereka di media sosial meningkat pesat karena banyak orang tua merasa terbantu dengan konten yang mereka bagikan.

Kembali ke Nilai-Nilai Agama

Di akhir perbincangan, pasangan ini sepakat bahwa dasar terbaik dalam mendidik anak tetaplah nilai-nilai agama.

Baca Juga: Lebaran 2026 Versi Muhammadiyah Sudah Ditetapkan, Ini Penjelasan Metode Hisab dan Tanggal Pastinya

Mereka berusaha menanamkan kesadaran beribadah kepada anak-anak sejak dini, termasuk membiasakan salat sebagai bentuk komunikasi dengan Tuhan.

Dalam program tersebut, Ustaz Margiono juga menegaskan pentingnya peran ayah sebagai pemimpin keluarga.

Ia mengingatkan bahwa keluarga yang harmonis dapat tercipta ketika ayah mampu menjadi teladan dan pelindung bagi anggota keluarga.

Kisah perjalanan Marsha dan Yuda menjadi pengingat bagi banyak orang tua bahwa di tengah perkembangan teknologi yang pesat, hubungan emosional antara orang tua dan anak tetap menjadi fondasi utama dalam membangun generasi masa depan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#orang tua #konten #gen alpha #warganet #Ilmu Parenting #media sosial