Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Waspada Penipuan Digital Menjelang Pencairan THR, Ini Dua Modus yang Sering Terjadi

Siti Rohmah • Senin, 9 Maret 2026 | 13:34 WIB

Penipuan digital meningkat menjelang pencairan THR. Waspadai modus phishing dan malware yang kerap menyasar masyarakat melalui pesan palsu.
Penipuan digital meningkat menjelang pencairan THR. Waspadai modus phishing dan malware yang kerap menyasar masyarakat melalui pesan palsu.

RADARBONANG.ID – Menjelang pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) yang biasanya terjadi sebelum Lebaran, masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk penipuan digital.

Momen meningkatnya aktivitas transaksi dan mobilitas masyarakat sering dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk melancarkan aksinya.

Berdasarkan data dari perusahaan identitas digital VIDA, kasus penipuan digital cenderung mengalami lonjakan menjelang periode pencairan THR.

Hal ini dipicu oleh tingginya aktivitas keuangan masyarakat yang membuka lebih banyak peluang bagi pelaku kejahatan untuk menipu korban.

Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, mengingatkan masyarakat agar lebih waspada serta memahami berbagai modus penipuan yang sering muncul pada periode tersebut.

Baca Juga: Bangga! 7 Brand Fashion Lokal Milik Perempuan Indonesia Ini Berhasil Tembus Pasar Dunia

Menurutnya, pelaku penipuan digital terus beradaptasi mengikuti perkembangan teknologi. Setiap kali sistem keamanan diperkuat, para pelaku akan mencari celah baru untuk melancarkan aksinya.

“Penipuan digital terus beradaptasi. Ketika sistem pertahanan diperkuat, pelaku akan mengubah strategi dan mencari celah baru untuk kembali menyerang,” ujar Niki dalam keterangannya di Jakarta.

Ia menambahkan bahwa para pelaku biasanya memanfaatkan tiga hal utama, yakni celah keamanan sistem, rendahnya literasi digital masyarakat, serta momentum tertentu seperti musim pencairan THR.

Modus Phishing dan Smishing

Salah satu modus yang paling sering terjadi adalah phishing dan smishing. Dalam metode ini, pelaku berusaha memancing korban untuk mengklik tautan tertentu atau membagikan data pribadi.

Biasanya korban akan menerima pesan melalui SMS, email, atau aplikasi pesan yang berisi tautan berbahaya. Pesan tersebut sering kali menyamar sebagai lembaga resmi, perusahaan logistik, atau promosi khusus Ramadhan.

Ketika korban mengklik tautan tersebut, mereka akan diarahkan ke halaman palsu yang dirancang menyerupai situs resmi. Di halaman tersebut, korban diminta memasukkan informasi sensitif seperti username, password, hingga kode One-Time Password (OTP).

Selain itu, modus ini juga berkembang melalui teknik fake BTS (Base Transceiver Station). Metode ini memungkinkan pelaku mengirim pesan SMS palsu secara massal yang tampak seperti berasal dari institusi resmi, sehingga lebih mudah meyakinkan korban.

Modus Malware Berbentuk Aplikasi

Modus kedua yang juga sering terjadi adalah penyebaran malware melalui file aplikasi berbahaya.

Dalam skema ini, korban biasanya diminta mengunduh file aplikasi berformat APK yang dikirim melalui pesan. File tersebut sering disamarkan sebagai dokumen penting seperti undangan pernikahan, dokumen pengiriman paket, atau informasi promo tertentu.

Jika korban mengunduh dan memasang aplikasi tersebut di perangkatnya, malware akan aktif dan dapat mengakses berbagai data pribadi di dalam ponsel.

Data yang dapat dicuri pelaku antara lain password akun, informasi perbankan, hingga data pribadi lainnya yang tersimpan di perangkat korban.

Tujuan utama dari kedua modus ini sebenarnya sama, yaitu memperoleh akses ke kredensial pengguna untuk kemudian disalahgunakan oleh pelaku kejahatan.

Pentingnya Perlindungan Perangkat dan Identitas

Niki menekankan bahwa perlindungan keamanan digital tidak cukup hanya mengandalkan password saja.

Menurutnya, masyarakat perlu memperhatikan dua aspek penting, yaitu keamanan perangkat serta perlindungan identitas biometrik.

Perangkat seperti ponsel, tablet, maupun laptop biasanya menyimpan akses ke berbagai layanan penting, terutama layanan finansial. Jika perangkat tersebut berhasil diretas, maka data penting pengguna dapat dengan mudah diakses oleh pelaku.

Baca Juga: Bukan Sekadar Nama dan Umur, Ini Daftar Lengkap Data Pribadi Pengguna yang Dikumpulkan Google dari Aktivitas Internet

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, VIDA juga meluncurkan gerakan #JanganAsalKlik yang bertujuan mengingatkan publik agar lebih berhati-hati dalam menerima pesan digital.

Melalui kampanye tersebut, masyarakat diimbau untuk tidak sembarangan mengklik tautan, mengunduh aplikasi dari sumber tidak jelas, atau membagikan data pribadi kepada pihak yang tidak dikenal.

Kesadaran dan kewaspadaan menjadi kunci utama agar masyarakat tidak terjebak dalam berbagai modus penipuan digital yang semakin canggih menjelang momen pencairan THR.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#modus phishing smishing #penipuan online Indonesia #malware APK berbahaya #penipuan digital THR #keamanan data digital