RADARBONANG.ID – Arus informasi tentang konflik dan peperangan di berbagai belahan dunia kini semakin mudah diakses.
Dalam hitungan detik, masyarakat bisa mengetahui perkembangan terbaru dari wilayah konflik melalui televisi, portal berita, maupun media sosial.
Namun di balik kemudahan tersebut, tidak sedikit orang yang mengaku merasa cemas, gelisah, bahkan mengalami kesulitan tidur setelah terus-menerus mengikuti berita perang.
Kondisi ini bukan sekadar perasaan biasa, tetapi berkaitan erat dengan cara otak manusia merespons ancaman.
Spesialis kesehatan jiwa Lahargo Kembaren menjelaskan bahwa rasa waspada terhadap situasi dunia sebenarnya merupakan reaksi yang wajar.
Hal itu menandakan seseorang memiliki kepedulian terhadap lingkungan global serta rasa ingin tahu terhadap peristiwa yang sedang terjadi.
Namun, kewaspadaan yang sehat seharusnya tidak sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Waspada Itu Normal, Asal Tidak Berlebihan
Menurut dr Lahargo, seseorang masih dianggap memiliki kewaspadaan yang sehat jika ia hanya mengecek berita seperlunya dan memastikan informasi berasal dari sumber yang terpercaya.
Orang yang waspada secara sehat biasanya tetap mampu menjalani rutinitas dengan baik.
Mereka masih bisa tidur nyenyak, fokus bekerja, berinteraksi dengan keluarga, serta tidak mudah menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya.
Sebaliknya, masalah mulai muncul ketika seseorang merasa terdorong untuk terus memantau perkembangan berita tanpa henti.
Fenomena ini dikenal dengan istilah Doomscrolling, yaitu kebiasaan menggulir berita negatif secara berulang-ulang, terutama melalui media sosial.
Ketika Otak Menganggap Ancaman Itu Nyata
Kebiasaan doomscrolling dapat membuat pikiran terus dipenuhi bayangan kemungkinan buruk di masa depan. Akibatnya, seseorang menjadi sulit tidur karena otaknya tetap berada dalam kondisi siaga.
Ciri-ciri kecemasan berlebihan akibat paparan berita konflik antara lain:
-
Terus-menerus memantau berita secara repetitif
-
Sulit tidur karena pikiran dipenuhi ketakutan
-
Jantung berdebar atau tubuh terasa tegang
-
Asam lambung meningkat akibat stres
-
Mudah tersinggung atau sensitif terhadap hal kecil
Menurut dr Lahargo, hal ini terjadi karena otak manusia memiliki sistem alarm alami yang dirancang untuk melindungi diri dari bahaya.
Ketika seseorang terus membaca berita tentang peperangan, otak dapat mengaktifkan respons Fight-or-flight response, yaitu mekanisme tubuh yang biasanya muncul saat menghadapi ancaman langsung.
Padahal dalam kenyataannya, konflik tersebut mungkin terjadi ribuan kilometer dari tempat tinggal kita. Meski begitu, otak tetap merespons seolah bahaya berada di sekitar kita.
Perbedaan Sikap Responsif dan Reaktif
Dr Lahargo menjelaskan bahwa respons seseorang terhadap berita juga dapat dilihat dari cara berpikir setelah menerima informasi tersebut.
Jika seseorang masih mampu berpikir tenang, memahami konteks berita, dan tidak kehilangan kendali emosi, maka ia termasuk memiliki sikap mental yang responsif.
Sebaliknya, jika seseorang langsung panik, menyebarkan informasi tanpa verifikasi, atau mengalami stres berlebihan hingga mengganggu kehidupan sehari-hari, maka itu menunjukkan respons yang reaktif.
“Waspada akan membuat kita lebih siap dan berpikir positif. Sebaliknya, kecemasan berlebihan hanya membuat kita stres dan kelelahan secara mental,” jelasnya.
Dampak Nyata pada Tubuh dan Keluarga
Paparan berita konflik yang terus-menerus tidak hanya memengaruhi pikiran, tetapi juga kondisi fisik tubuh.
Otot-otot tubuh dapat menjadi lebih tegang karena otak terus berada dalam mode siaga.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu gangguan tidur, rasa gelisah berkepanjangan, serta perasaan bahwa dunia menjadi tempat yang tidak aman.
Yang lebih mengkhawatirkan, kecemasan orang dewasa juga dapat menular kepada anak-anak.
Anak-anak yang melihat orang tuanya terus-menerus cemas terhadap berita perang bisa ikut merasa takut, meskipun mereka tidak sepenuhnya memahami situasinya.
Jika kondisi ini dibiarkan terus berlangsung, suasana rumah bisa berubah menjadi lebih tegang dan tidak nyaman.
Karena itu, para ahli menyarankan agar masyarakat mulai membatasi konsumsi berita, terutama yang berkaitan dengan konflik dan bencana.
Mengatur waktu untuk membaca berita, menjaga kualitas tidur, serta tetap melakukan aktivitas positif dapat membantu menjaga kesehatan mental di tengah derasnya arus informasi global.
Editor : Muhammad Azlan Syah