RADARBONANG.ID – Menjadi pribadi yang selalu ingin menyenangkan orang lain atau dikenal sebagai people pleaser sering kali terlihat baik di mata sosial.
Namun di balik itu, kebiasaan tersebut bisa menguras energi mental dan membuat seseorang mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri.
Hal ini juga pernah dialami oleh aktris dan produser muda Prilly Latuconsina.
Dalam sebuah perbincangan santai, ia membagikan kisah transformasi dirinya yang kini lebih berani menetapkan batasan demi menjaga kesehatan mental.
Menurut Prilly, perubahan sikap untuk lebih selektif dalam mengatakan “iya” bukanlah tanda bahwa seseorang berubah menjadi pribadi yang buruk.
Sebaliknya, hal tersebut merupakan proses perkembangan diri yang wajar seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup.
Memprioritaskan Kebahagiaan dan Kewarasan Diri
Prilly mengaku bahwa dalam setahun terakhir dirinya mengalami perubahan besar dalam cara memandang hubungan sosial.
Jika dahulu ia sering mendahulukan kepentingan orang lain, kini ia belajar untuk menempatkan kebahagiaan dan kewarasan dirinya sebagai prioritas utama.
“Dulu aku selalu memikirkan kebahagiaan orang lain dulu. Sekarang, aku memikirkan kebahagiaan dan kewarasan diri aku dulu,” ungkapnya.
Ia menyadari bahwa seseorang tidak akan mampu memberikan energi positif kepada orang lain jika dirinya sendiri sedang berada dalam kondisi mental yang tidak sehat.
Oleh karena itu, menjaga keseimbangan emosional menjadi hal yang sangat penting.
Menurutnya, memprioritaskan diri sendiri bukan berarti bersikap egois. Justru dengan kondisi mental yang stabil, seseorang akan lebih tulus dalam membantu dan membahagiakan orang lain.
Berani Berkata “Tidak”
Salah satu perubahan terbesar yang ia rasakan adalah keberanian untuk menolak hal-hal yang tidak sesuai dengan kebutuhan atau batasannya.
Namun keputusan tersebut tidak selalu diterima dengan mudah oleh lingkungan sekitar. Beberapa orang yang terbiasa dengan sikap penurutnya justru menganggap Prilly telah berubah.
“Mungkin orang bisa bilang, ‘lu berubah Pril’. Padahal sebenarnya kita berkembang,” ujarnya.
Bagi Prilly, orang-orang yang benar-benar peduli justru akan memahami proses tersebut.
Bahkan mereka akan merasa bangga melihat seseorang mampu menjaga batasan diri atau personal boundaries dengan lebih sehat.
Menurutnya, kemampuan berkata “tidak” merupakan salah satu tanda kedewasaan emosional.
Hal itu menunjukkan bahwa seseorang telah memahami nilai dirinya dan tidak lagi takut mengecewakan orang lain demi menjaga kesejahteraan mental.
Memilih Lingkaran Pertemanan yang Sehat
Selain soal batasan diri, Prilly juga berbagi pandangannya mengenai pentingnya memilih lingkungan pertemanan yang sehat. Ia memiliki definisi unik tentang apa yang ia sebut sebagai “teman berkelas”.
Menariknya, definisi tersebut tidak berkaitan dengan status sosial, jabatan, ataupun kekayaan. Bagi Prilly, ukuran sebenarnya dari seseorang adalah sikapnya ketika tidak ada orang yang melihat.
“Teman berkelas buat aku adalah bagaimana dia berperilaku di saat tidak ada yang melihat,” jelasnya.
Di era media sosial yang sering dipenuhi pencitraan, ia lebih menghargai ketulusan dibandingkan kebaikan yang hanya ditunjukkan demi mendapat perhatian publik.
Prilly juga menyoroti perbedaan antara personal branding dan pencitraan.
Personal branding menurutnya adalah cara seseorang menunjukkan nilai dirinya secara konsisten, sementara pencitraan sering kali hanya ditampilkan demi terlihat baik di depan kamera.
Ia berharap memiliki lingkaran pertemanan yang dipenuhi orang-orang yang tetap berbuat baik tanpa perlu sorotan publik atau imbalan apa pun.
“Aku mau orang baik di saat enggak ada siapapun yang melihat, karena dia memang pure baik dari hatinya,” pungkasnya.
Kisah Prilly menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan mental adalah bagian penting dari perjalanan hidup.
Belajar berkata “tidak”, menetapkan batasan, dan memilih lingkungan yang sehat bukanlah tanda perubahan negatif, melainkan langkah menuju versi diri yang lebih matang dan seimbang.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah