Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Stop Scrolling! Kebiasaan Sepele Ini Ternyata Bikin Otak “Karatan”, Simak Penjelasan Pakar Neurosains

Lailatul Khusna Febriyanti • Jumat, 6 Maret 2026 | 14:50 WIB

Kebiasaan scrolling tanpa henti dan multitasking ternyata bisa membuat otak cepat lelah dan sulit fokus. Pakar neurosains menjelaskan cara sederhana menjaga otak tetap tajam di era digital
Kebiasaan scrolling tanpa henti dan multitasking ternyata bisa membuat otak cepat lelah dan sulit fokus. Pakar neurosains menjelaskan cara sederhana menjaga otak tetap tajam di era digital

RADARBONANG.ID – Pernah merasa otak tiba-tiba terasa lambat, sulit berkonsentrasi, atau sering lupa hal-hal kecil seperti menaruh kunci? Kondisi ini sering disebut sebagai Brain Fog, dan ternyata tidak selalu disebabkan oleh kelelahan fisik semata.

Di era digital yang serba cepat, kebiasaan seperti scrolling media sosial tanpa henti justru dapat memicu penurunan fungsi kognitif secara perlahan.

Banyak orang tidak menyadari bahwa pola konsumsi informasi yang terlalu cepat dapat membuat otak bekerja lebih keras dan kehilangan kemampuan fokus.

Fenomena ini dibahas oleh Rizki Edmi Edison, seorang pakar neurosains kognitif terapan yang juga mengajar di Universiti Brunei Darussalam.

Baca Juga: Alasan Kenapa Kemampuan Berpikir Kritis Semakin Dibutuhkan di Era Modern

Dalam diskusi di kanal YouTube milik jurnalis Rory Asyari, ia menjelaskan bagaimana gaya hidup digital modern memengaruhi cara kerja otak manusia.

Mitos Multitasking yang Menipu

Banyak orang merasa bangga bisa melakukan banyak hal sekaligus atau multitasking.

Namun menurut Dr. Edmi, secara biologis otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk melakukan beberapa pekerjaan secara bersamaan.

Yang terjadi sebenarnya adalah Rapid task switching, yaitu perpindahan fokus yang sangat cepat dari satu tugas ke tugas lain.

Setiap kali otak berpindah fokus, ia harus menyesuaikan kembali sistem kerja sarafnya. Proses adaptasi yang terjadi berulang kali inilah yang menguras energi mental dan menurunkan efisiensi kerja otak.

“Multitasking itu sesungguhnya tidak ada. Yang kita lakukan hanyalah rapid switching. Setiap kali mengganti pekerjaan, otak dipaksa beradaptasi lagi dan itu sangat menguras energi,” jelas Dr. Edmi.

Bahaya Scrolling Tanpa Henti

Selain multitasking, kebiasaan doom scrolling atau menggulir media sosial tanpa tujuan juga menjadi salah satu penyebab menurunnya kemampuan fokus manusia modern.

Banyak platform digital kini menghadirkan konten berdurasi sangat singkat, bahkan hanya 3 hingga 6 detik.

Pola konsumsi informasi seperti ini membuat otak terus menerima rangsangan baru dalam waktu yang sangat cepat.

Akibatnya, rentang perhatian atau Attention span manusia semakin pendek. Otak menjadi terbiasa dengan stimulasi cepat dan kesulitan bertahan dalam aktivitas yang membutuhkan konsentrasi panjang seperti membaca buku atau bekerja mendalam.

Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, otak dapat mengalami kelelahan kognitif yang memicu gejala seperti sulit fokus, mudah terdistraksi, hingga sering lupa.

“Bengong” Justru Penting untuk Otak

Menariknya, di tengah budaya hustle culture yang menuntut semua orang selalu terlihat produktif, Dr. Edmi justru menyarankan masyarakat untuk meluangkan waktu tanpa melakukan apa pun.

Dalam kondisi santai atau “bengong”, otak mengaktifkan sistem yang disebut Default Mode Network.

Sistem ini berfungsi untuk menyaring informasi yang telah diterima otak sepanjang hari, menghubungkan berbagai pengalaman, serta memunculkan ide-ide baru.

“Perbanyaklah bengong. Justru di saat bengong itulah otak kita memproses informasi dan bisa memunculkan ide baru,” ujarnya.

Menurutnya, kemampuan untuk berhenti sejenak dari distraksi digital justru menjadi sebuah “kemewahan” di era modern saat ini.

Cara Menjaga Otak Tetap Tajam

Agar fungsi kognitif tetap optimal, Dr. Edmi juga membagikan beberapa kebiasaan sederhana yang dapat membantu menjaga kesehatan otak.

1. Olahraga ringan secara rutin
Tidak perlu olahraga berat. Jalan kaki selama 20 hingga 30 menit setiap hari sudah cukup untuk meningkatkan aliran oksigen dan glukosa ke otak.

2. Mengontrol asupan kalori
Kelebihan kalori dapat memengaruhi metabolisme tubuh dan kinerja otak. Karena itu, kebiasaan berhenti makan sebelum terlalu kenyang ternyata memiliki manfaat kesehatan yang nyata.

3. Perbanyak interaksi sosial langsung
Komunikasi tatap muka membantu melatih kemampuan membaca ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan intonasi suara. Kemampuan ini tidak bisa sepenuhnya didapat hanya dari percakapan melalui pesan digital.

Baca Juga: Jangan Melulu Salahkan Maag! Perut Kembung Meski Makan Sedikit? Bisa Jadi SIBO Pelakunya

Di akhir diskusi, Dr. Edmi menekankan bahwa gangguan fokus sebenarnya bukan semata-mata karena daya ingat yang lemah, melainkan karena terlalu banyak distraksi.

“Otak kita gampang lupa karena otak kita gampang terdistraksi. Cara mengatasinya adalah dengan single tasking, fokus pada satu pekerjaan dalam satu waktu,” pungkasnya.

Di tengah banjir informasi digital, menjaga kesehatan otak ternyata tidak selalu membutuhkan metode rumit. Kadang, cukup dengan berhenti scrolling sejenak, memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat, dan kembali fokus pada satu hal dalam satu waktu.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#penjelasan neurosains tentang fokus #multitasking otak manusia #bahaya scrolling media sosial #tips menjaga kesehatan otak #brain fog penyebab