Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Bangunin Sahur Pakai Sound System Keliling: Seru, Sakral, atau Ganggu Warga Sekitar?

Widodo • Jumat, 6 Maret 2026 | 08:20 WIB

Bangunin sahur pakai sound system keliling kini jadi tren di banyak daerah. Seru bagi sebagian orang, tapi ada juga yang merasa terganggu. Tradisi atau kebisingan?
Bangunin sahur pakai sound system keliling kini jadi tren di banyak daerah. Seru bagi sebagian orang, tapi ada juga yang merasa terganggu. Tradisi atau kebisingan?

RADARBONANG.ID – Jam menunjukkan pukul 02.45 WIB. Waktu imsak masih cukup lama, tetapi suasana kampung tiba-tiba berubah. Dentuman bass terdengar keras, mengguncang kaca jendela rumah. Tak lama kemudian terdengar teriakan, “Sahuuur… sahuuur!”

Bagi sebagian orang, momen ini menghadirkan nostalgia Ramadan masa kecil. Dahulu, anak-anak dan remaja berkeliling kampung membawa kentongan atau beduk kecil sambil tertawa bersama teman-teman. Suasananya sederhana, meriah, dan penuh kehangatan.

Namun belakangan, tradisi membangunkan sahur berkembang menjadi lebih “modern”.

Kentongan dan alat sederhana mulai digantikan dengan sound system besar yang kadang diangkut menggunakan mobil bak terbuka.

Baca Juga: Cek Daftarnya! Indonesia Nomor 1 Negara Paling Taat Beribadah, Amerika Kalah Jauh!

Suara musik diputar keras, lengkap dengan efek bass yang menggema di sepanjang jalan.

Niat awalnya tentu baik, yaitu membangunkan warga agar tidak melewatkan sahur. Tetapi dalam praktiknya, tradisi ini kini memicu perdebatan di masyarakat.

Dari Kentongan ke Sound System Besar

Tradisi membangunkan sahur sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari budaya Ramadan di berbagai daerah di Indonesia.

Di masa lalu, warga cukup menggunakan kentongan, beduk kecil, atau alat musik tradisional lain.

Selain lebih sederhana, cara ini juga terasa lebih akrab dan tidak terlalu mengganggu ketenangan malam.

Namun di era media sosial, sebagian kelompok mulai menggunakan speaker berdaya besar untuk menarik perhatian.

Musik yang diputar pun beragam, mulai dari lagu religi, remix, hingga yel-yel yang membuat suasana semakin meriah.

Fenomena ini sering diabadikan dalam video yang kemudian diunggah ke TikTok atau Instagram. Tak jarang konten tersebut mendapat jutaan penonton dan komentar dari berbagai kalangan.

Ada yang menganggapnya seru dan menghidupkan suasana Ramadan. Namun tidak sedikit pula yang mengkritik karena dinilai terlalu bising.

Regulasi Soal Kebisingan Sebenarnya Ada

Kebisingan di lingkungan permukiman sebenarnya bukan persoalan sepele. Pemerintah telah menetapkan batas tingkat kebisingan melalui regulasi lingkungan hidup.

Dalam aturan tersebut, kawasan permukiman memiliki ambang batas suara tertentu yang dianggap aman bagi kesehatan dan kenyamanan masyarakat. Jika suara melebihi batas tersebut, maka berpotensi menimbulkan gangguan bagi warga sekitar.

Selain itu, kalangan ulama juga pernah mengingatkan bahwa kegiatan membangunkan sahur boleh dilakukan selama tidak berlebihan dan tidak mengganggu ketertiban umum.

Artinya, tradisi boleh tetap dijalankan, tetapi harus mempertimbangkan kenyamanan lingkungan sekitar.

Dampak Kebisingan terhadap Kesehatan

Kebisingan berlebih bukan hanya soal rasa tidak nyaman. Dalam jangka panjang, suara keras yang muncul pada waktu istirahat dapat berdampak pada kesehatan.

Paparan kebisingan yang tinggi dapat mengganggu kualitas tidur, meningkatkan stres, hingga memicu masalah tekanan darah bagi sebagian orang.

Bagi lansia, bayi, atau warga yang sedang sakit, suara dentuman bass pada dini hari bisa terasa sangat mengagetkan. Alih-alih bangun sahur dengan semangat, mereka justru terbangun karena kaget atau terganggu.

Kondisi ini menunjukkan bahwa niat baik tetap perlu disertai dengan pertimbangan terhadap situasi sekitar.

Anak Muda di Tengah Dilema Tradisi

Menariknya, generasi muda sering menjadi aktor utama dalam fenomena ini. Banyak remaja merasa bangga dapat ikut meramaikan tradisi Ramadan dengan cara yang lebih modern dan kreatif.

Keliling kampung bersama teman, membawa sound system, dan membuat suasana ramai dianggap sebagai pengalaman seru yang hanya terjadi setahun sekali.

Namun di sisi lain, sebagian anak muda juga mulai mempertanyakan apakah cara tersebut benar-benar nyaman bagi semua orang.

Karena pada dasarnya, Ramadan identik dengan ketenangan, refleksi diri, serta sikap saling menghormati.

Tradisi Bisa Tetap Hidup Tanpa Harus Berisik

Sebenarnya, membangunkan sahur tidak harus identik dengan suara yang sangat keras. Tradisi ini tetap bisa dijalankan dengan cara yang lebih ramah bagi lingkungan sekitar.

Misalnya dengan patrol sahur menggunakan alat tradisional, mengatur jadwal keliling yang tidak terlalu dini, atau menjaga volume suara tetap dalam batas wajar.

Tujuan utamanya bukan sekadar membuat konten viral di media sosial, tetapi benar-benar mengingatkan warga untuk bangun sahur.

Baca Juga: Pori-Pori Wajah Membesar? Ini 5 Bahan Alami yang Bisa Membantu Menyamarkannya

Antara Euforia dan Empati

Pada akhirnya, fenomena sound system sahur bukan sekadar soal benar atau salah. Yang lebih penting adalah mencari keseimbangan antara tradisi dan empati.

Meramaikan Ramadan tentu hal yang baik. Kebersamaan dan semangat gotong royong juga menjadi nilai penting dalam tradisi ini.

Namun di saat yang sama, rasa hormat terhadap kenyamanan warga sekitar juga tidak boleh diabaikan.

Ramadan bukan hanya tentang membangunkan orang dari tidur. Lebih dari itu, bulan suci ini juga mengajarkan manusia untuk membangunkan kesadaran agar saling menghargai.

Sebab ibadah yang baik seharusnya membawa ketenangan bagi banyak orang, bukan justru menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#sound system sahur viral #tradisi sahur keliling #bangunin sahur sound system #patrol sahur #kebisingan sahur Ramadan