RADARTBONANG.ID – Fenomena anak muda yang merasa kehilangan arah atau mengalami krisis eksistensial di tengah gempuran media sosial semakin sering terlihat.
Tidak sedikit generasi muda yang mengaku merasa hidupnya berjalan di tempat, bingung menentukan tujuan, hingga terjebak dalam pencarian jati diri yang tak kunjung usai.
Digital creator sekaligus pegiat literasi, Erik Tjokrorahardjo, memberikan pandangan tegas soal persoalan ini.
Dalam perbincangan bersama Rory Asyari, ia menyampaikan pesan yang cukup menohok: berhenti mencari jati diri, karena sejatinya jati diri itu harus diciptakan, bukan ditemukan.
Pria yang telah menamatkan lebih dari 360 buku dalam lima tahun terakhir itu menilai, problem utama anak muda hari ini bukan semata tekanan eksternal, melainkan pola pikir dan kebiasaan yang terbentuk dari dalam diri sendiri.
Baca Juga: Diam-Diam Banyak Dipakai di Indonesia, Ini Deretan Aplikasi HP Buatan Eks Intelijen Israel
Bahaya Kesenangan Instan
Menurut Erik, musuh terbesar generasi muda saat ini adalah budaya instant gratification atau kesenangan instan.
Kemudahan mengakses hiburan, media sosial, hingga video singkat membuat otak terus-menerus dibanjiri dopamin tanpa usaha berarti.
Ia menyebut kondisi ini sebagai “junk information” yang efeknya tak kalah berbahaya dari junk food.
Tubuh memang tidak bergerak, tetapi mental menjadi cepat lelah karena sistem reward di otak terus dipicu oleh distraksi.
Akibatnya, banyak anak muda merasa kehabisan energi sebelum melakukan aktivitas produktif.
Mereka merasa capek, padahal belum benar-benar bekerja keras. Erik menegaskan, keberhasilan bukan ditentukan oleh mimpi besar yang hanya berhenti di angan-angan, melainkan oleh sistem kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.
Prinsip 4K untuk Maskulinitas Sehat
Dalam diskusi tersebut, Erik juga menyoroti pentingnya membangun maskulinitas yang sehat, khususnya bagi laki-laki muda.
Ia menolak anggapan bahwa maskulinitas identik dengan sikap ugal-ugalan atau gaya hidup hedonis.
Sebagai gantinya, ia memperkenalkan prinsip “4K” sebagai fondasi karakter pria masa kini: Kekuatan, Keberanian, Kompetensi, dan Kehormatan.
Kekuatan tidak hanya berarti fisik, tetapi juga mental. Keberanian bukan nekat tanpa arah, melainkan kemampuan mengambil risiko yang terukur. Kompetensi berbicara tentang penguasaan keahlian, sementara Kehormatan merupakan buah dari tiga pilar sebelumnya.
“Laki-laki boleh menangis, tapi tidak boleh cengeng. Ada perbedaan besar antara meregulasi emosi dengan menyerah pada keadaan,” tegasnya.
Identitas Menentukan Arah Hidup
Erik juga mengutip konsep dari buku Atomic Habits karya James Clear. Ia menjelaskan bahwa perubahan hidup yang permanen tidak dimulai dari target atau resolusi, melainkan dari identitas.
Seseorang yang ingin berhenti dari kebiasaan buruk, misalnya, sebaiknya tidak lagi berkata “saya sedang mencoba berhenti”, tetapi menggantinya dengan “saya bukan orang yang melakukan itu lagi”. Perubahan identitas ini akan memengaruhi cara berpikir, bertindak, hingga mengambil keputusan.
Dengan mengadopsi identitas baru, seseorang lebih mudah menolak distraksi dan tekanan lingkungan yang tidak sehat.
Motivasi bisa naik turun, tetapi identitas yang kuat akan menjadi jangkar yang menjaga konsistensi.
Lingkungan dan Literasi sebagai Fondasi
Di akhir perbincangan, Erik mengingatkan pentingnya memilih lingkungan pertemanan yang mendukung pertumbuhan.
Ia menilai konsep lone wolf atau sosok penyendiri yang kuat sering kali terlalu didramatisir dan tidak realistis dalam kehidupan nyata.
Anak muda, menurutnya, tetap membutuhkan ekosistem yang sehat untuk bertumbuh. Lingkaran pertemanan yang tepat dapat menjadi sistem pendukung yang memperkuat kebiasaan baik.
Selain itu, ia menekankan pentingnya literasi. Membaca buku bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi melatih kedalaman berpikir.
Proses membaca memungkinkan seseorang memahami konteks, bukan hanya potongan informasi seperti yang sering ditemui dalam video singkat.
Di tengah era serba cepat dan instan, pesan Erik menjadi pengingat bahwa membangun karakter membutuhkan proses.
Jati diri bukanlah sesuatu yang ditemukan secara ajaib, melainkan dibentuk melalui kebiasaan, disiplin, dan keberanian mengambil tanggung jawab atas hidup sendiri.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah