RADARBONANG.ID – Bahagia zaman sekarang sering terasa seperti notifikasi: muncul, berbunyi, lalu hilang begitu saja. Cepat, singkat, dan mudah tergantikan oleh hal lain yang lebih baru.
Anak muda hari ini hidup di era serba instan. Lapar? Tinggal pesan lewat aplikasi seperti GoFood atau GrabFood.
Ingin belanja? Flash sale di Shopee hanya perlu satu kali checkout. Butuh hiburan? Scroll TikTok tanpa sadar waktu berlalu berjam-jam.
Semuanya cepat. Termasuk rasa senang.
Namun pertanyaannya, apakah itu kebahagiaan yang sesungguhnya? Ataukah hanya jeda singkat dari rasa kosong yang belum sempat dihadapi?
Baca Juga: Jangan Melulu Salahkan Maag! Perut Kembung Meski Makan Sedikit? Bisa Jadi SIBO Pelakunya
Budaya Instan: Cepat, Praktis, Tapi Dangkal?
Generasi Z tumbuh bersama internet cepat dan algoritma yang seolah memahami keinginan mereka bahkan sebelum disadari.
Laporan Digital 2023 Indonesia dari We Are Social menunjukkan anak muda Indonesia menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari di media sosial. Dunia digital bukan lagi sekadar pelarian, tetapi sudah menjadi ruang hidup kedua.
Masalahnya, media sosial bekerja dengan sistem dopamin. Setiap notifikasi, like, komentar, atau jumlah views memicu rasa senang sesaat.
Dalam psikologi, pola ini dikenal sebagai reward loop—siklus penghargaan instan yang membuat seseorang terdorong untuk terus mengulang perilaku yang sama.
Riset dari American Psychological Association menemukan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan berkaitan dengan meningkatnya kecemasan dan perasaan kesepian pada remaja serta dewasa muda.
Ironisnya, seseorang bisa terhubung dengan ribuan orang secara daring, tetapi tetap merasa sendiri secara emosional.
Standar Bahagia yang Terkurasi
Di Instagram, kebahagiaan sering terlihat seragam: liburan estetik, outfit mahal, kopi di kafe minimalis, hingga pencapaian karier sebelum usia 25 tahun. Semua tampak rapi dan mengesankan.
Padahal yang ditampilkan hanyalah highlight kehidupan. Tidak ada yang mengunggah momen menangis tengah malam karena overthinking soal masa depan, atau rasa cemas saat membandingkan diri dengan teman sebaya.
Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai social comparison theory—kecenderungan manusia membandingkan diri dengan orang lain untuk menilai diri sendiri.
Di era digital, perbandingan itu berlangsung tanpa jeda, 24 jam sehari. Setiap scroll bisa menjadi pemicu rasa kurang.
Akibatnya, standar bahagia menjadi tidak realistis. Jika teman sudah memiliki bisnis, kita merasa tertinggal.
Jika orang lain bisa traveling ke luar negeri, kita merasa kurang produktif. Padahal setiap orang memiliki ritme dan perjalanan hidup yang berbeda.
Healing atau Sekadar Pelarian?
Belakangan, kata “healing” menjadi istilah populer. Capek kerja? Healing. Putus cinta? Healing. Burnout? Healing.
Namun sering kali healing dimaknai sebagai konsumsi: staycation, belanja barang baru, atau nongkrong di tempat mahal.
Aktivitas tersebut memang bisa memberi kesenangan sementara, tetapi belum tentu menyentuh akar persoalan emosional.
Data survei kesehatan mental global oleh World Health Organization menunjukkan prevalensi gangguan kecemasan dan depresi meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada kelompok usia muda.
Artinya, di balik feed yang tampak bahagia, ada generasi yang sebenarnya sedang rapuh dan berjuang diam-diam.
Healing sejati bukan sekadar mengalihkan perhatian, melainkan memberi ruang untuk memahami diri sendiri—mengakui lelah, menerima luka, dan berani mencari bantuan bila diperlukan.
Bahagia Butuh Proses
Budaya instan membentuk ekspektasi serba cepat. Karier harus segera sukses. Hubungan harus cepat serius. Hasil harus langsung terlihat.
Padahal hidup jarang bergerak secepat layanan same day delivery. Kebahagiaan yang lebih dalam justru sering lahir dari proses panjang: dari kegagalan yang mengajarkan ketahanan, dari obrolan sederhana tanpa kamera, dari pencapaian kecil yang tidak selalu diumumkan ke publik.
Bahagia tidak selalu estetik. Tidak selalu bisa difoto. Tidak selalu viral.
Mencari Makna di Tengah Kecepatan
Teknologi bukan musuh. Media sosial pun tidak sepenuhnya salah. Semua kembali pada cara kita menggunakannya.
Sebagian anak muda mulai lebih sadar. Mereka mengurangi screen time, lebih selektif mengonsumsi konten, dan mencoba membangun koneksi nyata di luar layar.
Validasi digital perlahan diganti dengan percakapan tatap muka dan relasi yang lebih tulus.
Mungkin, bahagia bukan soal seberapa cepat kita mendapatkannya, melainkan seberapa dalam kita merasakannya.
Di era serba instan ini, yang paling langka bukanlah uang atau popularitas. Melainkan ketenangan. Dan untuk menemukannya, kita mungkin perlu belajar satu hal yang mulai jarang dilakukan: sabar.
Editor : Muhammad Azlan Syah