RADARBONANG.ID – Kepercayaan diri kerap dianggap sebagai anugerah lahiriah atau hasil dari privilege semata.
Namun bagi artis sekaligus aktivis Cinta Laura Kiehl, rasa percaya diri bukanlah sesuatu yang datang begitu saja.
Ia menyebutnya sebagai pilihan sadar untuk terus “berenang” di tengah tantangan hidup yang berpotensi menenggelamkan.
Dalam perbincangan di kanal YouTube Suara Berkelas, Cinta membagikan filosofi hidup yang ia ibaratkan seperti berada di sebuah kolam renang.
Baca Juga: Tak Hanya Soal Ekspor, Ini Ancaman Tersembunyi Perjanjian Dagang RI–AS
Air di dalam kolam itu melambangkan ketakutan, kegagalan, hingga rasa kecewa. Ketika seseorang tercebur ke dalamnya, menurut Cinta, hanya ada dua pilihan: berenang atau tenggelam.
“Kadang-kadang kekurangannya manusia adalah saat dihadapi situasi yang sulit atau rasa takut, mereka memilih untuk terpuruk dan diam di situ sehingga tidak bisa berproses dan berprogres. They choose to drown, I choose to swim every day no matter what I do,” tegasnya.
Baginya, rasa insecure adalah hal yang manusiawi. Bahkan, ia mengakui pernah merasa tidak percaya diri terhadap penampilannya.
Namun yang membedakan adalah keputusan untuk tetap melangkah meski rasa takut itu hadir.
Privilege Bukan Alasan untuk Menyerah
Menanggapi anggapan publik soal beauty privilege dan latar belakang pendidikan internasional yang dimilikinya, Cinta tidak menampik bahwa ia memiliki sejumlah keuntungan.
Namun ia menolak jika hal tersebut dijadikan alasan oleh orang lain untuk berhenti berusaha.
Menurutnya, seseorang yang terlihat percaya diri dan menarik sering kali merupakan hasil dari proses panjang—belajar, mengasah wawasan, hingga membangun karakter.
Ia bahkan mengenang masa mudanya ketika masih belum memahami dunia fashion dan makeup.
“Memang aku punya privilege, tapi bukan berarti bagi kalian yang merasa tidak punya apa yang aku punya, kalian berhak untuk diam saja dan hanya komplain tentang kehidupan ini,” ujarnya.
Cinta menegaskan bahwa setiap orang memiliki titik awal berbeda, tetapi semua orang tetap punya ruang untuk bertumbuh.
Belajar dari Asmat
Pengalaman yang membentuk cara pandangnya salah satunya datang saat ia mengunjungi Kabupaten Asmat, Papua.
Di sana, ia melihat langsung bagaimana masyarakat hidup jauh dari standar kemewahan modern, tetapi tetap memiliki kebahagiaan yang tulus.
Ia menyadari bahwa sebagai manusia modern, kita sering kali membuat hidup terasa lebih rumit dari yang seharusnya.
Padahal, kebutuhan dasar manusia sejatinya sederhana: akses terhadap kebutuhan pokok, rasa aman, komunitas, dan dukungan sosial.
“Pada dasarnya yang kita butuhkan hanya stabilitas dalam mengakses kebutuhan mendasar, komunitas, dan merasa didukung,” ungkapnya.
Baca Juga: Usai Gandeng Pentagon, ChatGPT Mulai Ditinggalkan Penggunanya di Amerika
Little Effort, Big Impact
Melalui refleksi tersebut, Cinta mengajak masyarakat untuk berhenti membandingkan diri secara berlebihan dengan orang lain.
Alih-alih terjebak dalam rasa iri, ia mendorong setiap individu untuk memberikan sedikit usaha setiap hari.
Baginya, perubahan besar tidak lahir dari satu langkah spektakuler, melainkan dari konsistensi kecil yang dilakukan terus-menerus.
Filosofi “choose to swim” menjadi pengingat bahwa kepercayaan diri bukan soal siapa yang paling beruntung, melainkan siapa yang memilih untuk terus bergerak meski diterpa rasa takut.
Editor : Muhammad Azlan Syah