Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Budaya Pamer Ketika Ramadan yang Diam-Diam Jadi Kebiasaan

M. Afiqul Adib • Senin, 2 Maret 2026 | 07:10 WIB

Ramadan bukan tentang seberapa banyak yang ditampilkan, tetapi seberapa tulus kita menjalani. Bijaklah di era budaya pamer.
Ramadan bukan tentang seberapa banyak yang ditampilkan, tetapi seberapa tulus kita menjalani. Bijaklah di era budaya pamer.

RADARBONANG.ID– Ramadan selalu identik dengan kesederhanaan, ibadah, pengendalian diri, serta semangat berbagi kepada sesama.

Bulan suci ini seharusnya menjadi ruang refleksi, memperbaiki hubungan dengan Tuhan sekaligus mempererat kepedulian sosial.

Namun, di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, muncul fenomena yang kian terasa: budaya pamer yang perlahan menjadi kebiasaan.

Tanpa disadari, Ramadan kini tidak hanya dirayakan secara spiritual, tetapi juga secara visual. Beragam momen diabadikan, dikurasi, lalu dipublikasikan ke ruang digital.

Dari menu berbuka puasa yang estetik, outfit Lebaran yang serasi, hingga dokumentasi kegiatan ibadah, semuanya tampil dalam bingkai yang rapi dan menarik perhatian.

Baca Juga: Xiaomi 17 Ultra Resmi Dirilis Global dengan Kamera Leica 200MP dan Snapdragon 8 Elite Gen 5 – Spesifikasi Lengkap dan Harga Termurah

Pamer di Media Sosial

Platform seperti Instagram, TikTok, hingga Facebook setiap Ramadan dipenuhi konten bertema religi.

Foto takjil dengan pencahayaan sempurna, video ngabuburit di tempat hits, hingga momen sahur bersama keluarga diunggah hampir setiap hari.

Sekilas terlihat sebagai bentuk berbagi kebahagiaan. Namun, di balik itu, ada dorongan lain yang kerap muncul: kebutuhan akan pengakuan sosial.

Budaya digital mendorong seseorang untuk terus eksis. Jumlah likes, komentar, dan viewers sering kali menjadi tolok ukur kepuasan.

Ramadan pun tak luput dari pola tersebut. Aktivitas yang sebelumnya bersifat personal kini berubah menjadi konsumsi publik.

Akibatnya, fokus yang semula tertuju pada makna ibadah perlahan bisa bergeser menjadi pencitraan diri.

Fenomena ini bukan berarti semua unggahan bernuansa Ramadan bermakna negatif.

Banyak pula konten yang memang bertujuan menginspirasi dan menyebarkan semangat kebaikan. Hanya saja, garis antara berbagi dan pamer terkadang sangat tipis.

Pamer dalam Kehidupan Sehari-hari

Budaya pamer tidak hanya terjadi di dunia maya. Dalam kehidupan nyata, kebiasaan ini juga tampak jelas.

Misalnya, memilih restoran mahal untuk buka puasa bersama demi menunjukkan status sosial, membeli busana Lebaran terbaru agar terlihat lebih menonjol, atau membagikan takjil sambil memastikan dokumentasinya tersebar luas.

Berbagi tentu merupakan nilai utama Ramadan. Namun, ketika niat berbagi bercampur dengan keinginan untuk dipuji, esensi keikhlasan bisa terkikis.

Amal yang seharusnya dilakukan diam-diam dan penuh ketulusan berubah menjadi pertunjukan sosial.

Tidak sedikit pula masyarakat yang merasa tertekan secara tidak langsung. Mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi bisa merasa minder ketika melihat standar gaya hidup Ramadan yang tampak serba mewah.

Padahal, inti Ramadan bukanlah pada kemewahan, melainkan pada kesederhanaan dan pengendalian diri.

Dampak Sosial dan Psikologis

Budaya pamer saat Ramadan memiliki dampak yang cukup signifikan. Pertama, muncul rasa iri atau perasaan tidak cukup pada sebagian orang.

Paparan konten yang serba indah dapat menciptakan standar semu tentang bagaimana Ramadan “seharusnya” dijalani.

Kedua, nilai kesederhanaan perlahan memudar. Jika perhatian lebih banyak tertuju pada tampilan luar, maka dimensi spiritual bisa terpinggirkan.

Ibadah yang mestinya menjadi momen intim antara individu dan Tuhan berisiko kehilangan makna ketika dilakukan demi sorotan.

Ketiga, budaya konsumtif berpotensi meningkat. Demi tampil menarik, sebagian orang rela mengeluarkan biaya lebih besar, bahkan melebihi kemampuan.

Ini bertentangan dengan semangat pengendalian diri yang justru menjadi inti puasa.

Menyikapi dengan Bijak

Meski demikian, budaya pamer tidak selalu harus dipandang sepenuhnya negatif. Media sosial dapat menjadi sarana dakwah, inspirasi, dan penyebaran kebaikan. Kuncinya terletak pada niat dan kesadaran diri.

Baca Juga: Indonesia Serukan Dialog AS–Iran, Siap Fasilitasi Perundingan Redam Ketegangan Timur Tengah

Sebelum membagikan sesuatu, penting untuk bertanya pada diri sendiri: apakah ini untuk memberi manfaat atau sekadar mencari validasi? Refleksi sederhana semacam ini dapat membantu menjaga keseimbangan antara dunia digital dan nilai spiritual.

Ramadan sejatinya bukan tentang seberapa menarik konten yang kita unggah, tetapi tentang seberapa tulus hati kita menjalani ibadah.

Di tengah arus budaya pamer yang kian menguat, menjaga keikhlasan menjadi tantangan tersendiri.

Namun justru di situlah makna Ramadan diuji: bukan pada apa yang terlihat, melainkan pada apa yang tersembunyi di dalam hati. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#dampak budaya pamer #gaya hidup saat puasa #budaya pamer Ramadan #makna Ramadan #Fenomena media sosial Ramadan