RADARBONANG.ID – Usia 20-an sering disebut sebagai masa emas: penuh peluang, energi, dan kebebasan.
Namun realitas yang terjadi justru sebaliknya. Banyak anak muda merasa cemas, bingung, bahkan kehilangan arah.
Fenomena ini dikenal sebagai quarter life crisis—dan kini semakin banyak dialami generasi muda, terutama Generasi Z.
Bukan sekadar istilah viral di media sosial, quarter life crisis menjadi fase nyata yang memicu overthinking berkepanjangan. Lantas, mengapa fase ini terasa lebih berat dibanding generasi sebelumnya?
Tekanan untuk “Jadi Seseorang” Lebih Cepat
Jika dulu usia 20-an identik dengan eksplorasi dan pencarian jati diri, kini banyak anak muda merasa harus segera “jadi”. Punya karier mapan, penghasilan stabil, hingga pencapaian besar di usia muda seakan menjadi standar baru.
Paparan kisah sukses di internet memperkuat tekanan ini. Tak sedikit yang mulai membandingkan diri: teman sebaya sudah punya bisnis, bekerja di perusahaan ternama, atau terlihat sukses secara finansial. Tanpa sadar, perbandingan sosial ini memicu rasa tertinggal dan tidak cukup baik.
Media Sosial: Inspirasi atau Sumber Tekanan?
Media sosial memang bisa menjadi sumber motivasi, tetapi juga menyimpan tekanan tersembunyi. Linimasa dipenuhi pencapaian karier, liburan mewah, gaya hidup estetik, dan berbagai “highlight” kehidupan orang lain.
Yang jarang terlihat adalah proses panjang, kegagalan, serta perjuangan di baliknya. Akibatnya, banyak anak muda merasa hidupnya tertinggal, padahal yang mereka lihat hanyalah potongan terbaik dari kehidupan orang lain.
Realita Finansial yang Tak Mudah
Faktor ekonomi juga berperan besar. Harga kebutuhan hidup meningkat, persaingan kerja semakin ketat, sementara ekspektasi sosial tetap tinggi. Banyak anak muda menghadapi dilema antara ingin mandiri namun penghasilan terbatas, ingin menabung tetapi kebutuhan terus bertambah.
Tekanan finansial ini sering kali menjadi sumber kecemasan yang tidak disadari, memperparah perasaan tidak aman di usia 20-an.
Overthinking Jadi “Teman Sehari-hari”
Quarter life crisis kerap muncul dalam bentuk yang halus: sering mempertanyakan pilihan hidup, takut gagal sebelum mencoba, merasa tertinggal dari teman sebaya, hingga bingung menentukan tujuan jangka panjang.
Overthinking menjadi pola pikir yang berulang. Ironisnya, banyak yang mengalaminya dalam diam karena merasa masalah tersebut seharusnya tidak perlu dibesar-besarkan.
Terlalu Banyak Pilihan, Justru Membingungkan
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z memiliki akses luas terhadap berbagai jalur karier dan gaya hidup. Pilihan yang berlimpah—mulai dari pekerjaan konvensional, freelance, wirausaha, hingga kreator konten—justru membuat sebagian orang kesulitan menentukan arah.
Semakin banyak opsi, semakin besar pula rasa takut memilih jalan yang “salah”.
Apakah Ini Normal?
Jawabannya: sangat normal. Quarter life crisis bukan tanda kegagalan, melainkan proses bertumbuh. Fase ini sering menjadi momen seseorang mencari makna, menyusun ulang prioritas, dan membentuk identitas diri.
Meski terasa tidak nyaman, fase ini merupakan bagian penting dari perjalanan menuju kedewasaan.
Baca Juga: Pasutri Wajib Tahu! Hukum Mencium Pasangan Saat Puasa Ramadan, Ternyata Ada Aturannya
Cara Menghadapinya Tanpa Drama Berlebihan
Beberapa langkah sederhana bisa membantu:
-
Fokus pada progres pribadi, bukan perbandingan sosial
-
Batasi konsumsi konten yang memicu rasa insecure
-
Mulai dari langkah kecil, tanpa menuntut kesempurnaan
-
Sadari bahwa setiap orang memiliki timeline berbeda
Quarter life crisis bukan fenomena langka—justru semakin umum di era digital. Di balik tekanan sosial dan derasnya arus informasi, banyak anak muda sedang berjuang diam-diam menemukan arah hidupnya.
Dan mungkin, kabar baiknya sederhana: kamu tidak sendirian.
Editor : Muhammad Azlan Syah