Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Bukan Lagi Pamer Mobil atau Outfit, Kini Gen Z ‘Flexing’ Ketenangan Diri: Tren Baru yang Diam-Diam Jadi Standar Sosial

Arinie Khaqqo • Kamis, 26 Februari 2026 | 07:15 WIB

Dulu pamer mobil, sekarang pamer ketenangan. Inner peace jadi standar sosial baru Gen Z—positif atau justru tekanan baru?
Dulu pamer mobil, sekarang pamer ketenangan. Inner peace jadi standar sosial baru Gen Z—positif atau justru tekanan baru?

RADARBONANG.ID – Jika beberapa tahun lalu media sosial dipenuhi konten pamer mobil mewah, gadget terbaru, atau outfit branded dari ujung kepala hingga kaki, kini arah angin tren mulai berubah.

Generasi Z menghadirkan bentuk “flexing” yang lebih halus, lebih abstrak, namun tak kalah kuat pengaruhnya: memamerkan ketenangan diri.

Narasi seperti “lagi menikmati hidup tanpa drama”, “nggak butuh validasi siapa-siapa”, hingga “lebih pilih tenang daripada ramai” semakin sering berseliweran di linimasa.

Sekilas terdengar sederhana dan penuh makna positif. Namun jika dicermati lebih dalam, fenomena ini menyimpan dinamika sosial yang cukup kompleks.

Baca Juga: 5 Sahabat Nabi Paling Kaya Sepanjang Sejarah Islam, Ini Rincian Harta dan Warisannya

Ketenangan Jadi Simbol Level Hidup

Bagi sebagian Gen Z, terlihat tenang kini sama prestisiusnya dengan terlihat kaya.

Jika dulu standar “naik level” identik dengan nongkrong di tempat mahal atau liburan ke luar negeri, kini indikatornya berubah menjadi hal-hal yang lebih personal.

Punya waktu sendiri (me time), tidak mudah terpancing drama, mampu mengatur emosi, hingga terlihat “healed” secara mental menjadi simbol kematangan baru. Ketenangan bukan lagi sekadar kondisi batin, tetapi citra sosial.

Di era personal branding yang kuat, citra tersebut punya nilai tersendiri. Terlihat stabil secara emosional memberi kesan dewasa, bijak, dan matang.

Dan seperti flexing pada umumnya, citra itu—secara sadar atau tidak—ingin dilihat dan diakui orang lain.

Dari Healing ke Ajang Pamer Halus

Istilah seperti self healing, self love, dan growth kini menjadi bahasa sehari-hari anak muda.

Konten journaling estetik, meditasi di sudut kafe sunyi, solo date dengan caption reflektif, atau unggahan tentang “cut off toxic people” menjadi tren yang masif.

Awalnya, proses healing bersifat personal dan privat. Namun media sosial mengubahnya menjadi konsumsi publik.

Proses yang seharusnya intim berubah menjadi konten yang dikurasi. Bukan hanya dilakukan, tetapi juga ditampilkan dengan visual yang menarik dan narasi yang menyentuh.

Di sinilah muncul pertanyaan: apakah ini benar-benar proses penyembuhan yang autentik, atau sekadar soft flexing versi baru? Batasnya sangat tipis.

Karena ketika sesuatu diunggah ke ruang publik, selalu ada dimensi pencitraan di dalamnya.

Tekanan Sosial yang Lebih Halus

Jika dulu tekanan sosial datang dari materi—“kapan punya mobil?”, “kapan liburan ke luar negeri?”—kini tekanannya jauh lebih abstrak dan psikologis.

Banyak anak muda mulai merasa tertinggal bukan karena tidak punya barang mahal, tetapi karena merasa belum “setenang” orang lain.

Muncul pikiran seperti, “Kenapa aku masih overthinking?”, “Kenapa aku belum bisa berdamai?”, atau “Kok hidupku belum terlihat healed seperti mereka?”

Ironisnya, tren yang seharusnya mendorong kesehatan mental justru berpotensi melahirkan kecemasan baru.

Standar sosial bergeser: bukan lagi soal terlihat sukses, tetapi terlihat baik-baik saja.

Inner Peace sebagai Identitas Baru

Di era digital, identitas tidak lagi hanya dibentuk dari pekerjaan, status ekonomi, atau gaya hidup. Kondisi mental pun menjadi bagian dari identitas sosial.

Label seperti “anaknya kalem”, “anti drama”, atau “punya boundaries kuat” dianggap sebagai nilai tambah.

Inner peace menjadi semacam badge of honor. Ia dipamerkan secara tidak langsung melalui cara berbicara, pilihan konten, hingga respons terhadap konflik.

Bahkan, tidak jarang ketenangan dijadikan bagian dari strategi personal branding untuk membangun citra dewasa dan bijak.

Namun realitasnya, hidup tidak selalu stabil. Emosi naik turun adalah hal wajar. Tidak semua hari harus produktif, tidak semua masalah harus disikapi dengan kepala dingin.

Antara Autentik dan Pencitraan

Tentu, tidak semua konten tentang ketenangan adalah pencitraan. Banyak juga yang benar-benar sedang berproses dan ingin berbagi pengalaman sebagai bentuk dukungan bagi orang lain.

Masalah muncul ketika ada tekanan untuk selalu terlihat tenang. Ketika seseorang merasa harus konsisten dengan citra “healed”, ia bisa saja menekan emosi yang sebenarnya valid.

Baca Juga: Prediksi Skor Atalanta vs Borussia Dortmund di UEFA Champions League: Tuan Rumah Menang Tipis, Die Borussen Tetap Difavoritkan Lolos Agregat

Padahal marah, sedih, kecewa, dan bingung adalah bagian alami dari kehidupan.

Tren ini bisa menjadi hal positif karena menunjukkan bahwa Gen Z lebih peduli pada kesehatan mental, lebih sadar batas diri, dan tidak lagi memuja materialisme berlebihan. Namun di sisi lain, standar baru ini bisa menjadi beban baru yang tak kasatmata.

Flexing tidak benar-benar hilang—ia hanya berubah bentuk. Dari yang dulu terlihat di garasi dan lemari pakaian, kini berpindah ke pikiran dan perasaan.

Dan mungkin, pertanyaan terpenting bukanlah: “Apakah kita sudah cukup tenang?” Melainkan: “Apakah ketenangan itu benar-benar kita rasakan, atau hanya kita tampilkan di layar?”(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#self healing generasi Z #tren Gen Z 2026 #flexing ketenangan diri #inner peace di media sosial #tekanan sosial anak muda