Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Bukber atau Ajang Pamer? Fenomena Tersembunyi di Balik Buka Bersama yang Jarang Dibahas

Arinie Khaqqo • Rabu, 25 Februari 2026 - 09:35 WIB

Bukber seharusnya tentang silaturahmi, bukan kompetisi pencapaian. Sudahkah kita kembali ke esensi kebersamaan Ramadan?
Bukber seharusnya tentang silaturahmi, bukan kompetisi pencapaian. Sudahkah kita kembali ke esensi kebersamaan Ramadan?

RADARBONANG.ID – Undangan buka bersama mulai berdatangan sejak awal Ramadan. Grup WhatsApp mendadak ramai, jadwal akhir pekan penuh, dan agenda sosial terasa padat. Buka bersama atau bukber memang menjadi tradisi tahunan yang dinanti banyak orang.

Sekilas, bukber adalah momen hangat untuk menyambung silaturahmi, melepas rindu, dan mengenang masa lalu.

Namun di balik suasana akrab itu, ada fenomena yang diam-diam dirasakan sebagian orang: bukber berubah menjadi ajang pamer kesuksesan. Apakah anggapan ini berlebihan, atau memang ada pergeseran makna?

Baca Juga: Ramadhan Bukan Cuma Soal Ibadah, Tapi Strategi Finansial: Cara Cerdas Atur Zakat, Infak, dan Sedekah Tanpa Bikin Kantong Jebol

Dari Melepas Rindu Jadi Ajang “Update Status Hidup”

Awalnya sederhana. Teman lama bertemu kembali, berbagi cerita, dan tertawa bersama. Namun dalam praktiknya, tak jarang pertemuan itu berubah menjadi ajang pembaruan status kehidupan.

Obrolan yang semula santai perlahan mengarah ke topik-topik sensitif: pekerjaan, jabatan, penghasilan, pernikahan, hingga pencapaian pribadi.

Pertanyaan seperti “Sekarang kerja di mana?”, “Sudah nikah belum?”, atau “Gajinya berapa?” mungkin terdengar ringan, tetapi bisa menjadi tekanan tersendiri bagi sebagian orang.

Banyak yang datang ke acara bukber dengan versi terbaik dirinya. Outfit dipilih paling rapi, gadget terbaru dibawa, dan cerita karier disusun sedemikian rupa. Tanpa sadar, suasana hangat berubah menjadi ruang perbandingan sosial.

Pengaruh Media Sosial yang Tak Terelakkan

Di era digital, momen kebersamaan hampir selalu diabadikan. Foto makanan, suasana restoran, hingga potret kebersamaan diunggah ke media sosial dalam hitungan menit. Bukber pun terasa belum lengkap tanpa dokumentasi.

Masalahnya, yang ditampilkan di media sosial sering kali adalah versi paling ideal. Tempat makan dipilih yang estetis, busana diatur serapi mungkin, dan sudut foto diperhatikan agar terlihat menarik. Lambat laun, bukber bukan sekadar silaturahmi, tetapi juga menjadi “konten”.

Tekanan sosial pun muncul secara halus. Ada dorongan untuk tampil lebih dari biasanya, mengikuti standar gaya hidup yang terlihat di linimasa, atau memilih tempat yang dianggap layak unggah. Tanpa disadari, makna kebersamaan bisa bergeser.

Dampak Finansial yang Sering Terabaikan

Fenomena lain yang jarang dibahas adalah dampak finansial. Tidak semua orang berada dalam kondisi ekonomi yang sama. Namun demi menjaga relasi atau takut dianggap tidak solid, sebagian orang merasa harus hadir.

Pilihan restoran mahal, sistem split bill yang tidak selalu adil, serta frekuensi bukber yang terlalu sering bisa membuat pengeluaran membengkak. Dalam satu bulan Ramadan, undangan bisa datang dari berbagai lingkup: sekolah, kuliah, kantor, hingga komunitas.

Jika tidak dikelola dengan bijak, tradisi yang seharusnya membahagiakan justru menimbulkan beban keuangan.

Tidak Semua Orang Nyaman

Di balik ramainya suasana bukber, ada pula mereka yang memilih absen. Keputusan itu bukan selalu karena tidak ingin bersosialisasi, tetapi karena ingin menjaga kesehatan mental.

Sebagian orang merasa tertinggal dibanding teman-temannya. Ada yang belum mencapai target karier, belum menikah, atau sedang menghadapi tantangan pribadi. Pertemuan yang dipenuhi perbandingan bisa terasa melelahkan secara emosional.

Sayangnya, perasaan ini jarang diungkapkan secara terbuka. Banyak yang memilih diam atau mencari alasan agar tidak hadir.

Mengembalikan Bukber ke Esensinya

Pada dasarnya, bukber adalah tradisi yang berakar pada nilai kebersamaan dan silaturahmi. Ramadan sendiri identik dengan refleksi diri, kesederhanaan, dan saling menguatkan.

Semestinya, bukber menjadi ruang aman untuk berbagi cerita tanpa tekanan. Setiap orang memiliki perjalanan hidup dan garis waktu yang berbeda. Kesuksesan tidak selalu bisa diukur dari jabatan, materi, atau status pernikahan.

Momen buka bersama akan terasa lebih bermakna ketika diisi dengan empati dan penghargaan terhadap proses hidup masing-masing.

Baca Juga: Kisah Tragis Badak Kalimantan: Kini Hanya Tersisa Dua Betina, Harapan Terakhir di Ambang Kepunahan

Tips Bijak Menghadapi Fenomena Bukber

Agar tetap sehat secara mental dan finansial, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:

Bukber bukan kompetisi. Ia adalah ruang kebersamaan yang seharusnya membawa ketenangan, bukan pembuktian diri.

Pada akhirnya, saat undangan bukber datang, pertanyaannya bukan sekadar datang atau tidak. Lebih dari itu: datang untuk menjalin silaturahmi, atau sekadar menunjukkan pencapaian? Jawabannya kembali pada niat masing-masing.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#whatsapp #akhir pekan #bulan puasa #bukber #jadwal #ramadan