RADARBONANG.ID – Ramadan identik dengan menahan diri, bukan hanya dari lapar dan haus, tetapi juga dari emosi. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit orang justru merasa lebih mudah tersinggung, cepat marah, bahkan sulit mengendalikan diri saat berpuasa.
Fenomena ini sering dianggap wajar karena perubahan pola makan. Padahal, penyebabnya lebih kompleks dan melibatkan faktor biologis serta psikologis.
Saat Gula Darah Turun, Emosi Ikut Terganggu
Selama berpuasa, tubuh tidak mendapat asupan makanan selama berjam-jam. Akibatnya, kadar gula darah menurun. Kondisi ini berdampak langsung pada otak, khususnya bagian yang mengatur kontrol diri dan stabilitas emosi.
Menurut Mayo Clinic, kadar gula darah yang rendah dapat memengaruhi fungsi otak dan memicu iritabilitas.
Saat energi berkurang, tubuh menjadi lebih sensitif terhadap stres. Hal kecil yang biasanya bisa diabaikan tiba-tiba terasa mengganggu.
Istilah populer untuk kondisi ini adalah “hangry” (hungry + angry). Meski terdengar ringan, efek biologisnya nyata dan dapat memengaruhi cara seseorang merespons situasi.
Kurang Tidur, Pemicu yang Sering Diremehkan
Perubahan jadwal selama Ramadan membuat pola tidur ikut berubah. Bangun lebih awal untuk sahur dan tidur lebih larut karena ibadah atau aktivitas malam mengurangi durasi istirahat.
Padahal, kurang tidur memiliki dampak besar terhadap regulasi emosi. Centers for Disease Control and Prevention menyebutkan bahwa kurang tidur kronis dapat meningkatkan risiko gangguan suasana hati, menurunkan konsentrasi, dan membuat seseorang lebih reaktif.
Ketika tubuh tidak mendapatkan pemulihan optimal, ambang toleransi terhadap stres pun menurun. Inilah sebabnya seseorang bisa lebih mudah tersulut emosi meski pemicunya sederhana.
Dehidrasi Ringan yang Sering Tak Disadari
Selain lapar, tubuh juga menahan haus. Dehidrasi ringan saja sudah cukup memengaruhi suasana hati dan fungsi kognitif.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kurang cairan dapat menyebabkan kelelahan, sulit fokus, hingga perubahan mood yang signifikan. Menjelang sore hari, ketika cadangan cairan tubuh semakin menipis, sensitivitas emosional cenderung meningkat.
Faktor inilah yang sering paling sering terjadi namun jarang disadari. Banyak orang fokus pada rasa lapar, padahal kekurangan cairan juga berperan besar dalam perubahan suasana hati.
Ekspektasi Tinggi, Realitas Tak Selalu Sejalan
Ramadan sering dimaknai sebagai bulan untuk menjadi pribadi yang lebih sabar dan tenang. Namun ketika realitas sehari-hari tetap penuh tekanan—pekerjaan menumpuk, kemacetan saat ngabuburit, antrean panjang—muncul rasa frustrasi karena ekspektasi tidak terpenuhi.
Tekanan internal ini bisa memicu ledakan emosi. Bukan karena puasanya gagal, melainkan karena ada konflik antara harapan dan kondisi nyata.
Lingkungan Turut Memengaruhi
Kondisi eksternal juga memberi kontribusi besar. Jadwal kerja yang padat, target yang tetap berjalan normal, hingga aktivitas sosial yang meningkat menjelang berbuka bisa menambah beban mental.
Dalam kondisi tubuh yang lapar, haus, dan kurang tidur, kemampuan mengelola stres otomatis menurun. Akibatnya, reaksi emosional terasa lebih intens dibandingkan hari biasa.
Bukan Alasan untuk Marah, Tapi Sinyal untuk Lebih Sadar
Penting dipahami, puasa bukan penyebab utama kemarahan. Ia hanya memperlihatkan respons alami tubuh terhadap perubahan biologis dan psikologis.
Justru di sinilah letak maknanya. Ramadan menjadi momen untuk mengenali emosi, memahami pemicunya, dan melatih pengendalian diri.
Ketika sadar bahwa gula darah turun atau tubuh kelelahan, seseorang bisa memilih untuk mengambil jeda sebelum bereaksi.
Cara Mengontrol Emosi Saat Puasa
Agar Ramadan tetap tenang dan bermakna, beberapa langkah sederhana bisa dilakukan:
-
Pilih menu sahur dengan karbohidrat kompleks dan protein agar energi lebih stabil
-
Cukupi kebutuhan cairan saat malam hari
-
Atur pola tidur dan hindari begadang berlebihan
-
Ambil jeda beberapa detik saat emosi mulai naik
-
Kurangi paparan stres yang tidak perlu
Langkah-langkah kecil ini membantu menjaga kestabilan fisik sekaligus emosional.
Pada akhirnya, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga proses memahami diri sendiri. Jika selama ini merasa lebih mudah marah saat berpuasa, mungkin itu bukan kegagalan, melainkan kesempatan untuk belajar mengelola emosi dengan lebih bijak.
Editor : Muhammad Azlan Syah