Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Capung Sebagai Bioindikator: Mengapa Serangga Ini Menjadi Penanda Kualitas Lingkungan?

Amaliya Syafithri • Rabu, 11 Februari 2026 | 15:02 WIB

Capung bukan sekadar serangga indah, tetapi bioindikator alami yang menandakan kualitas air dan kesehatan ekosistem perairan.
Capung bukan sekadar serangga indah, tetapi bioindikator alami yang menandakan kualitas air dan kesehatan ekosistem perairan.

RADARBONANG.ID — Capung kerap terlihat beterbangan di sekitar kolam, sungai, hingga area persawahan. Namun di balik keindahan sayap transparannya, serangga ini menyimpan peran ekologis yang sangat penting.

Capung dikenal sebagai salah satu bioindikator alami yang efektif untuk menilai kualitas lingkungan, khususnya ekosistem perairan.

Bioindikator adalah organisme yang keberadaan, jumlah, atau perilakunya dapat memberikan gambaran tentang kondisi lingkungan tertentu.

Dalam konteks ini, capung memiliki keterkaitan erat dengan kualitas air dan kesehatan habitat di sekitarnya.

Baca Juga: Keputusan Hidup Berdasarkan Mood: Fenomena Sunyi yang Diam-Diam Mengubah Arah Generasi Sekarang

Secara ilmiah, capung termasuk dalam ordo Odonata yang terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu Anisoptera (capung sejati) dan Zygoptera (capung jarum).

Keunikan capung terletak pada siklus hidupnya yang mengalami dua fase berbeda: fase akuatik (nimfa atau larva) dan fase terbang sebagai serangga dewasa.

Pada fase nimfa, capung hidup sepenuhnya di dalam air selama berbulan-bulan bahkan hingga beberapa tahun, tergantung spesiesnya.

Di tahap inilah capung sangat sensitif terhadap perubahan kualitas perairan. Faktor seperti kadar oksigen terlarut, tingkat pencemaran, keberadaan bahan kimia, hingga perubahan suhu air sangat memengaruhi kelangsungan hidup nimfa.

Jika kualitas air menurun akibat limbah industri, pestisida pertanian, atau sedimentasi sungai karena erosi, nimfa capung akan sulit bertahan.

Dampaknya, jumlah capung dewasa yang muncul ke permukaan juga ikut berkurang. Sebaliknya, perairan yang bersih dan kaya oksigen cenderung mendukung keberagaman spesies capung yang lebih tinggi.

Sejumlah penelitian ekologi di berbagai wilayah Indonesia menunjukkan bahwa tingkat keanekaragaman capung berkorelasi kuat dengan kondisi lingkungan yang masih alami.

Para ahli biologi kerap menggunakan metode seperti indeks keanekaragaman spesies untuk menilai kualitas habitat hanya dengan memantau populasi capung di suatu lokasi.

Semakin tinggi variasi jenis capung yang ditemukan, semakin besar kemungkinan bahwa lingkungan tersebut berada dalam kondisi baik. Sebaliknya, jika hanya sedikit jenis yang mampu bertahan, hal itu bisa menjadi sinyal adanya gangguan ekologis.

Selain kualitas air, faktor vegetasi di sekitar perairan juga berpengaruh besar. Capung betina biasanya meletakkan telur di tanaman air atau permukaan air yang tenang.

Jika vegetasi hilang akibat pembangunan atau pencemaran, siklus reproduksi capung pun terganggu.

Aktivitas manusia menjadi ancaman utama bagi habitat capung. Pembuangan limbah tanpa pengolahan, penggunaan pestisida berlebihan, serta alih fungsi lahan menjadi pemukiman atau industri dapat merusak ekosistem perairan.

Kerusakan ini tidak hanya berdampak pada capung, tetapi juga pada organisme lain yang bergantung pada habitat yang sama.

Menariknya, penggunaan capung sebagai bioindikator dinilai praktis dan relatif murah. Pengamatan dapat dilakukan tanpa peralatan laboratorium yang rumit.

Dengan survei lapangan sederhana dan identifikasi spesies, peneliti sudah bisa memperoleh gambaran awal mengenai kondisi ekosistem.

Beberapa jenis capung bahkan diketahui hanya dapat hidup di perairan yang sangat bersih. Kehadiran mereka menjadi penanda alami bahwa sumber air di wilayah tersebut masih terjaga.

Baca Juga: Peluang Kemenangan Chelsea Tembus 66%! Leeds Tantang Dominasi di Stamford Bridge

Dalam konteks konservasi, informasi ini sangat berharga untuk merancang strategi perlindungan lingkungan dan pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan.

Dengan demikian, capung bukan sekadar serangga yang memperindah lanskap alam. Ia adalah “penjaga” ekosistem yang secara diam-diam memberi sinyal tentang kesehatan lingkungan.

Ketika populasi dan keragaman capung menurun, itu bisa menjadi peringatan dini bahwa kualitas lingkungan sedang terancam.

Menjaga kelestarian capung berarti juga menjaga kebersihan air dan keseimbangan alam. Dari makhluk kecil bersayap ini, manusia dapat belajar bahwa indikator alam sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana, namun memiliki makna ekologis yang besar.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#keanekaragaman capung #ordo Odonata #indikator kualitas air #fungsi capung di lingkungan #capung sebagai bioindikator