RADARBONANG.ID — Pernah membatalkan janji penting karena tiba-tiba merasa malas tanpa alasan jelas? Atau mengajukan cuti, resign, bahkan belanja impulsif hanya karena “lagi nggak mood”? Jika iya, Anda tidak sendiri.
Belakangan, keputusan hidup berdasarkan suasana hati menjadi fenomena yang semakin terlihat, terutama di kalangan generasi muda.
Tanpa disadari, banyak pilihan besar—mulai dari karier, relasi, hingga keuangan—ditentukan oleh perasaan sesaat.
Fenomena ini tidak selalu viral atau ramai dibahas, tetapi dampaknya nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Mahkamah Agung China Tegaskan Hukuman Mati untuk Pelaku Pelecehan Seksual Berat terhadap Anak
Dari Pertimbangan Matang ke Validasi Perasaan
Dulu, keputusan hidup identik dengan proses panjang: mempertimbangkan logika, risiko, rencana jangka panjang, serta masukan dari orang sekitar. Kini pendekatannya mulai bergeser.
Narasi seperti “kalau capek mental jangan dipaksa” atau “pilih yang bikin kamu bahagia” terdengar menenangkan dan terasa relevan.
Kesadaran akan kesehatan mental memang meningkat, dan itu kabar baik. Namun di sisi lain, muncul kecenderungan baru: mood dijadikan kompas utama dalam mengambil keputusan.
Akibatnya, tidak sedikit orang yang:
-
Menunda pekerjaan karena sedang tidak bersemangat
-
Menghindari percakapan penting karena suasana hati buruk
-
Mengambil keputusan besar saat sedang sangat senang atau sangat sedih
Semua terasa sah karena dibungkus dengan istilah self-love dan healing.
Peran Media Sosial dan Validasi Instan
Media sosial ikut memperkuat pola ini. Timeline dipenuhi pesan seperti, “Kalau nggak bahagia, tinggal pergi,” atau “Dengarkan mood kamu, bukan tuntutan orang lain.”
Pesan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Namun ketika suasana hati yang sifatnya fluktuatif dijadikan dasar keputusan besar, risiko mulai muncul.
Psikolog menjelaskan bahwa mood bersifat sementara, sementara keputusan hidup sering membawa dampak jangka panjang. Ketika keduanya tidak dipisahkan dengan jelas, kebingungan arah hidup bisa terjadi.
Antara Kesehatan Mental dan Impulsivitas
Meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan mental membawa banyak manfaat. Orang lebih berani mengatakan “cukup” saat merasa lelah atau tidak dihargai.
Namun garisnya menjadi kabur ketika setiap ketidaknyamanan dianggap sebagai alasan untuk berhenti.
Tantangan kecil bisa langsung diberi label “toxic”. Rasa bosan sesaat dimaknai sebagai tanda harus resign. Ketidaknyamanan dalam relasi dianggap sebagai bukti hubungan harus diakhiri.
Di titik ini, keputusan berbasis mood bergeser menjadi impulsivitas yang dibenarkan.
Dampak Nyata di Dunia Kerja dan Relasi
Di dunia kerja, fenomena ini terlihat dari meningkatnya resign mendadak tanpa rencana matang, inkonsistensi kinerja, hingga kesulitan menjaga komitmen jangka panjang.
Dalam relasi, dampaknya tidak kalah nyata: ghosting tanpa penjelasan, hubungan putus-nyambung, serta komunikasi yang tidak pernah benar-benar selesai. Semua berawal dari satu kalimat sederhana, “Aku lagi nggak mood.”
Jika pola ini terus berulang, stabilitas hidup bisa terganggu. Keputusan yang diambil dalam kondisi emosional ekstrem sering kali menimbulkan penyesalan ketika suasana hati kembali stabil.
Bukan Soal Benar atau Salah
Menjadikan perasaan sebagai bahan pertimbangan bukanlah kesalahan. Justru berbahaya jika emosi diabaikan sepenuhnya. Namun masalah muncul ketika mood menjadi satu-satunya penentu.
Keputusan yang sehat berada di tengah: mendengarkan emosi, tetapi tetap mempertimbangkan konsekuensi.
Bukan menekan perasaan, tetapi juga tidak menyerahkan arah hidup sepenuhnya pada suasana hati yang bisa berubah dalam hitungan jam.
Baca Juga: Bukan Sekadar Teknologi, AI Kini Jadi Bagian Hidup Sehari-hari — Siapkah Gen Z Menghadapinya?
Mengelola Mood, Bukan Dikuasai Mood
Para ahli menyarankan langkah sederhana: tunda keputusan besar saat emosi sedang ekstrem, bedakan rasa lelah dengan ketidakcocokan mendasar, dan beri jeda antara perasaan dan tindakan.
Mood adalah sinyal, bukan perintah.
Di era serba cepat, tekanan sosial tinggi, dan banjir informasi, fenomena keputusan hidup berdasarkan mood kemungkinan akan terus tumbuh.
Pertanyaannya bukan lagi apakah kita pernah melakukannya, tetapi seberapa sering kita membiarkan suasana hati mengambil alih kendali.
Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang bagaimana perasaan kita hari ini, tetapi juga tentang arah yang ingin kita tuju esok hari.
Editor : Muhammad Azlan Syah