Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Ramai Tren Masak Tanpa MSG, Benarkah Lebih Sehat? Ahli Gizi Bongkar Fakta yang Jarang Diketahui

Arinie Khaqqo • Sabtu, 7 Februari 2026 | 10:50 WIB

Tren masak tanpa MSG makin populer. Benarkah lebih sehat? Simak penjelasan ahli gizi soal MSG, mitos, dan fakta yang jarang diketahui.
Tren masak tanpa MSG makin populer. Benarkah lebih sehat? Simak penjelasan ahli gizi soal MSG, mitos, dan fakta yang jarang diketahui.

RADARBONANG.ID — Tren memasak tanpa MSG belakangan semakin ramai diperbincangkan.

Di media sosial, banyak konten kreator kuliner mengklaim bahwa masakan tanpa tambahan monosodium glutamate (MSG) terasa lebih sehat, lebih alami, bahkan dianggap bebas racun.

Tak heran jika label “no MSG” kini sering dijadikan nilai jual, baik di restoran, katering rumahan, hingga produk makanan kemasan.

Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan penting: benarkah memasak tanpa MSG otomatis lebih sehat, ataukah ini sekadar tren yang dibesarkan oleh persepsi publik?

Baca Juga: APBN 2026 Resmi Alokasikan Anggaran Program Gentengisasi, Dipastikan Tak Sampai Rp1 Triliun

MSG: Musuh Lama yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

MSG sudah lama mendapat stigma negatif. Sejak istilah Chinese Restaurant Syndrome populer pada era 1960-an, MSG kerap dikaitkan dengan keluhan seperti pusing, jantung berdebar, hingga rasa lemas setelah makan.

Meski demikian, berbagai penelitian ilmiah modern menunjukkan hasil yang berbeda. Organisasi kesehatan dunia seperti WHO dan FAO telah menyatakan bahwa MSG aman dikonsumsi dalam batas wajar. Hingga kini, belum ada bukti ilmiah kuat yang menyatakan MSG berbahaya bagi kesehatan masyarakat umum.

Ahli gizi klinis menjelaskan bahwa MSG tersusun dari natrium dan asam glutamat, yaitu senyawa yang secara alami juga terdapat dalam bahan pangan seperti tomat, keju, jamur, dan rumput laut. Bahkan, tubuh manusia sendiri memproduksi glutamat sebagai bagian dari fungsi normal sistem saraf.

Dengan kata lain, MSG bukan zat asing bagi tubuh.

Mengapa Banyak Orang Tetap Menghindari MSG?

Meski dinyatakan aman, tidak sedikit masyarakat yang memilih menjauhi MSG. Ada beberapa alasan utama di balik sikap ini.

Pertama, pengalaman pribadi. Sebagian orang merasa tidak nyaman jika mengonsumsi makanan dengan MSG dalam jumlah besar, meski reaksi tersebut bersifat individual.

Kedua, persepsi negatif yang diwariskan secara turun-temurun. Stigma lama tentang MSG sulit dihapus, terutama jika sudah melekat dalam budaya keluarga.

Ketiga, faktor pemasaran. Label “tanpa MSG” terdengar lebih sehat dan natural di mata konsumen. Padahal, banyak produk yang mengklaim bebas MSG tetap mengandung glutamat alami dari bahan seperti kaldu jamur, kecap, atau ekstrak ragi.

Mana yang Lebih Sehat: Pakai MSG atau Tidak?

Jawaban atas pertanyaan ini tidak sesederhana ya atau tidak. Jika dibandingkan dengan garam dapur, MSG justru mengandung natrium lebih rendah. Artinya, penggunaan MSG dalam jumlah kecil dapat membantu mengurangi kebutuhan garam tanpa mengorbankan rasa gurih.

Bagi penderita hipertensi, pengendalian asupan garam jauh lebih krusial daripada sekadar menghindari MSG. Namun demikian, baik MSG maupun garam tetap harus digunakan secara bijak. Konsumsi berlebihan tetap tidak dianjurkan.

Kuncinya terletak pada takaran dan keseimbangan.

Masak Tanpa MSG: Lebih Sehat atau Sekadar Preferensi?

Memasak tanpa MSG tentu sah-sah saja. Banyak orang memilih mengandalkan rempah alami seperti bawang putih, bawang merah, kemiri, terasi, atau kaldu tulang untuk menciptakan rasa umami.

Namun, menyimpulkan bahwa masakan tanpa MSG otomatis lebih sehat tidak sepenuhnya tepat. Faktor yang jauh lebih berpengaruh terhadap kesehatan justru meliputi jumlah gula dan garam, metode memasak, porsi makan, serta komposisi gizi secara keseluruhan.

Sayur bening yang dimasak dengan sedikit MSG tetap jauh lebih sehat dibandingkan makanan cepat saji tinggi lemak, meski produk tersebut berlabel “no MSG”.

Mengapa Tren Ini Tetap Laris?

Popularitas tren masak tanpa MSG tidak terlepas dari meningkatnya kesadaran hidup sehat. Generasi muda kini lebih kritis membaca label komposisi bahan makanan. Media sosial pun berperan besar dalam mempercepat penyebaran opini, termasuk soal MSG.

Menariknya, sejumlah pelaku UMKM kuliner mengakui bahwa label “tanpa MSG” efektif menarik konsumen, terutama dari kalangan keluarga muda. Hal ini menunjukkan bahwa tren ini tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga strategi pemasaran dan persepsi konsumen.

Baca Juga: Prediksi Skor Persib Bandung vs Malut United di BRI Super League Liga Indonesia, Adu Kuat Rekor Head to Head dan Keunggulan Kandang Maung Bandung

Jadi, Perlukah Takut MSG?

Ahli gizi sepakat bahwa MSG aman dikonsumsi dalam batas wajar. Tidak perlu panik, tetapi juga tidak perlu berlebihan.

Untuk hidup lebih sehat, fokus utama sebaiknya tetap pada pola makan seimbang, memperbanyak sayur dan buah, serta membatasi gula dan garam.

MSG hanyalah satu komponen kecil dalam keseluruhan pola makan. Pada akhirnya, pilihan kembali pada preferensi masing-masing.

Memasak tanpa MSG boleh, menggunakan MSG secukupnya pun tidak masalah, selama dilakukan secara bijak dan tidak terjebak mitos. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#fakta MSG #MSG aman atau tidak #bahaya MSG #Mitos MSG #indonesia arena