RADARBONANG.ID — Pernah mengalami atau menyaksikan seseorang mendadak berubah galak, sensitif, bahkan agresif ketika ditagih utang? Nada bicara meninggi, emosi mudah meledak, dan percakapan yang awalnya biasa bisa berubah menjadi konflik.
Fenomena ini ternyata bukan semata-mata soal etika, karakter, atau sikap tidak tahu diri.
Menurut dunia psikologi dan psikiatri, respons emosional berlebihan saat ditagih utang berkaitan erat dengan mekanisme kerja otak dan respons biologis tubuh terhadap stres berat, khususnya tekanan finansial.
Psikiater Dr. Riati Sri Hartini, SpKj, MSc, yang juga pengajar di Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, menjelaskan bahwa penagihan utang dapat menjadi pemicu stres yang sangat kuat, terutama jika kondisi ekonomi seseorang sedang berada di titik terendah.
Baca Juga: WFH, WFO, atau Hybrid? Pertarungan Sistem Kerja yang Paling Manusiawi
“Tekanan ekonomi sering kali tidak hanya dirasakan sebagai masalah uang, tetapi juga sebagai ancaman terhadap harga diri, martabat, dan identitas seseorang,” jelas dr. Riati, dikutip dari portal resmi IPB University, Jumat (6/2).
Utang Dianggap Ancaman Psikologis
Dalam perspektif psikologi dan ilmu saraf, beban keuangan kerap dipersepsikan otak sebagai bentuk intimidasi. Situasi terdesak tersebut membuat kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi menurun drastis.
Ketika seseorang ditagih utang, terutama dalam kondisi tidak siap secara finansial, otak dapat menafsirkan situasi itu sebagai bahaya. Akibatnya, sistem pertahanan mental menjadi rapuh dan kendali emosi melemah.
Secara biologis, tekanan ini memicu peningkatan aktivitas amigdala, bagian otak yang berfungsi mendeteksi ancaman dan rasa takut. Pada saat yang sama, prefrontal cortex—area otak yang berperan dalam berpikir logis, mengambil keputusan, dan mengatur emosi—mengalami penurunan fungsi.
“Kondisi ini membuat otak otomatis masuk ke mode bertahan hidup atau fight or flight,” terang dr. Riati.
Otak Masuk “Mode Perang”
Saat mekanisme fight or flight aktif, respons manusia cenderung impulsif, defensif, dan emosional. Bukan logika yang memimpin, melainkan insting bertahan.
Inilah sebabnya mengapa sebagian orang bisa bersikap keras, mudah tersinggung, atau tampak menyerang saat ditagih utang.
Reaksi tersebut bukan selalu cerminan kepribadian, melainkan respons stres akut terhadap tekanan mendadak.
Meski tampak ekstrem, dr. Riati menegaskan bahwa kondisi ini bukan indikasi gangguan jiwa.
“Selama kemarahan hanya muncul pada situasi tertentu, seperti saat ditagih utang, dan tidak berlangsung terus-menerus, itu masih termasuk reaksi stres yang normal,” ujarnya.
Kapan Perlu Diwaspadai?
Namun, respons emosional ini patut mendapat perhatian lebih jika muncul secara berulang di berbagai situasi, sulit dikendalikan, hingga menimbulkan dampak serius seperti melukai orang lain, merusak hubungan sosial, atau mengganggu pekerjaan.
Terlebih jika disertai gejala lain seperti:
-
insomnia parah
-
rasa putus asa berkepanjangan
-
perilaku berisiko atau berbahaya
Dalam kondisi tersebut, bantuan profesional sangat disarankan.
Siapa yang Menagih Juga Berpengaruh
Menariknya, tingkat emosi seseorang saat ditagih utang juga dipengaruhi oleh siapa yang melakukan penagihan.
Jika penagih adalah teman atau keluarga dekat, emosi yang muncul sering berupa rasa malu, tersinggung, atau defensif karena takut hubungan sosial rusak.
Sementara jika penagihan dilakukan oleh pihak luar, seperti debt collector, situasi tersebut kerap dipersepsikan sebagai ancaman keamanan, sehingga memicu stres dan respons emosional yang jauh lebih tinggi.
Meski berbeda pemicu, dr. Riati kembali menekankan bahwa kedua reaksi tersebut tetap bukan tanda gangguan mental.
Baca Juga: Lari di Taman Vs. Treadmill: Mana yang Bikin Kamu Lebih Fit, Happy, dan Sadar Diri?
Cara Bijak Menghadapi Orang yang Emosional Saat Ditagih
Untuk mencegah konflik membesar, dr. Riati menyarankan agar pihak penagih tidak membalas dengan tekanan atau emosi yang sama.
Pendekatan yang lebih efektif adalah:
-
menurunkan volume suara
-
menghindari kata-kata yang memojokkan
-
menjaga nada bicara tetap tenang
-
mengajak berdiskusi mencari solusi bersama
“Orang yang terlihat galak saat ditagih utang sebenarnya sedang merasa sangat terdesak. Mereka tidak butuh dimarahi, tapi ditenangkan,” jelasnya.
Pendekatan yang kalem dinilai mampu menurunkan emosi, mengaktifkan kembali logika, dan membuka ruang dialog yang lebih sehat.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah