Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Kerja Bukan Cuma Deadline dan Gaji: Kenali Kenapa Mental Health di Kantor Bisa Baper Banget

Widodo • Kamis, 5 Februari 2026 | 13:00 WIB

Kerja bukan cuma soal deadline dan gaji. Kalau mental tumbang, semuanya ikut goyah. Jaga diri, karena hidup lebih mahal dari target kerja
Kerja bukan cuma soal deadline dan gaji. Kalau mental tumbang, semuanya ikut goyah. Jaga diri, karena hidup lebih mahal dari target kerja

RADARBONANG.ID – Pernah ngerasain brain fog, capek tanpa sebab jelas, atau sensasi kerja terus tapi rasanya kosong di dalam? Kalau iya, kamu tidak sendirian.

Di berbagai belahan dunia, pekerja dari lintas usia—termasuk Gen Z dan milenial—sedang menghadapi tekanan mental serius di tempat kerja.

Isu kesehatan mental di kantor kini bukan lagi topik pinggiran. Menurut data World Health Organization (WHO), sekitar 15 persen orang dewasa yang bekerja pernah mengalami gangguan mental seperti depresi atau kecemasan pada periode tertentu.

Angka ini belum termasuk mereka yang mengalami stres kronis, burnout, atau kelelahan emosional berkepanjangan.

Baca Juga: Can This Love Be Translated? Viral di Netflix: Drama Romantis yang Menguji Batas Bahasa dan Hati

Secara global, WHO mencatat sekitar 12 miliar hari kerja hilang setiap tahun akibat depresi dan kecemasan.

Dampaknya bukan main—kerugian produktivitas ekonomi diperkirakan mencapai lebih dari 1 triliun dolar AS per tahun. Artinya, mental health bukan cuma urusan personal, tapi juga persoalan sistem kerja.

Mental Health di Kantor: Masalah yang Lebih Dekat dari yang Kita Kira

Banyak orang masih menganggap stres kerja sebagai hal “wajar”. Padahal, data menunjukkan kenyataan yang cukup mengkhawatirkan.

Survei global menyebutkan lebih dari 80 persen pekerja mengaku menghadapi tantangan kesehatan mental—mulai dari stres berat, kelelahan, hingga kehilangan motivasi—dalam setahun terakhir.

Budaya kerja modern sering kali mendorong orang untuk bekerja lebih lama, selalu siap dihubungi, dan tampil produktif meski kondisi mental sudah menurun.

Ironisnya, burnout sering dianggap sebagai tanda loyalitas atau kerja keras, bukan sinyal bahaya.

Padahal ketika mental tidak sehat, produktivitas justru menurun. Fokus mudah buyar, emosi tidak stabil, dan energi cepat habis. Deadline terasa lebih berat, dan konflik kecil bisa terasa sangat menguras emosi.

Ini Bukan Sekadar Stres Pribadi

WHO menegaskan bahwa kesehatan mental di tempat kerja sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya organisasi.

Beban kerja berlebihan, atasan yang tidak suportif, jam kerja tidak jelas, hingga budaya kerja toksik dapat memperparah kondisi psikologis karyawan.

Stigma juga masih menjadi masalah besar. Banyak pekerja takut dianggap lemah jika mengaku kelelahan mental.

Akibatnya, mereka memilih diam dan memendam masalah, hingga akhirnya berdampak pada performa dan kesehatan jangka panjang.

Organisasi besar seperti WHO dan International Labour Organization (ILO) kini mendorong perusahaan untuk lebih aktif menciptakan lingkungan kerja yang sehat—bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental dan emosional.

Kenapa Gen Z Merasakannya Lebih Kuat?

Bagi Gen Z yang baru masuk dunia kerja, tekanan ini sering terasa berlipat. Mereka berada di fase transisi, dituntut cepat beradaptasi, sekaligus dibayangi ekspektasi untuk selalu perform.

Banyak Gen Z mengaku kesulitan berkata “tidak” pada pekerjaan tambahan, takut dicap tidak kompeten, atau merasa bersalah saat mengambil cuti.

Di sisi lain, media sosial juga memperparah tekanan—membandingkan diri dengan pencapaian orang lain yang terlihat “lebih sukses”.

Di beberapa pasar kerja, terutama di negara maju, hampir 30 persen pekerja melaporkan stres atau kecemasan terkait pekerjaan.

Tak heran jika semakin banyak perusahaan mulai menyediakan program well-being, konseling, hingga workshop kesehatan mental.

Bukan semata kepedulian, tapi juga kesadaran bahwa karyawan yang sehat mentalnya adalah aset jangka panjang.

Baca Juga: SpaceX dan xAI Resmi Bergabung, Elon Musk Bidik Dominasi Infrastruktur AI Masa Depan

Bertahan Tanpa Kehilangan Diri Sendiri

Di tengah tekanan kerja, menjaga mental health bukan soal lemah atau kuat, tapi soal sadar diri. Beberapa langkah sederhana bisa membantu:

Kerja Penting, Tapi Mental Jauh Lebih Mahal

Di dunia kerja yang makin kompetitif, kesehatan mental bukan lagi sekadar tren atau hashtag. Ini soal kualitas hidup dan cara bekerja yang lebih manusiawi.

Bukan pura-pura kuat, tapi berani jujur. Bukan cuek, tapi peduli. Karena pada akhirnya, kerja hanyalah bagian dari hidup—sementara hidup itu sendiri layak dijaga dan dirawat. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#burnout kerja #kerja keras #mental health di kantor #kesehatan mental kerja #stres kerja #deadline