RADARBONANG.ID — Siapa yang bisa menolak legitnya daging durian yang lembut, manis, dan “nendang” di lidah? Aromanya memang kerap memicu pro dan kontra, tetapi soal rasa, durian seolah tak punya pesaing. Dijuluki The King of Fruit, durian bukan sekadar buah—ia adalah pengalaman.
Namun, di balik satu buah durian yang tersaji di meja makan, tersimpan perjalanan panjang yang jarang diketahui.
Durian tidak muncul begitu saja di lapak pedagang atau rak supermarket. Ada proses bertahun-tahun, penuh kesabaran, risiko, dan ketegangan, sejak masih berupa bunga hingga akhirnya siap disantap.
Baca Juga: Timurnesia: Warna Baru Genre Musik Indonesia Timur yang Siap Mendunia
Berawal dari Kebun Sunyi, Pohon Menjulang Setinggi Gedung
Perjalanan durian dimulai dari kebun yang sering jauh dari hiruk pikuk kota. Pohon durian termasuk raksasa di dunia buah, dengan tinggi bisa mencapai 20–40 meter—setara rumah tiga lantai. Petani harus menunggu sekitar 5–7 tahun sebelum pohon pertama kali berbuah.
Selama masa itu, perawatan dilakukan dengan penuh ketelatenan. Mulai dari pemupukan rutin, pengairan terkontrol, pencegahan hama, hingga penjarangan bunga agar buah yang tumbuh berkualitas. Satu kesalahan kecil bisa berdampak pada hasil panen bertahun-tahun ke depan.
Mekar Tengah Malam, Diserbuki Kelelawar
Fakta unik durian yang jarang diketahui: bunganya mekar pada malam hari. Dan penyerbuk utamanya bukan lebah, melainkan kelelawar buah.
Tanpa bantuan satwa malam ini, proses penyerbukan durian tidak akan optimal.
Inilah bukti bahwa kualitas durian sangat bergantung pada keseimbangan ekosistem. Ketika habitat alami terganggu, produksi durian pun bisa ikut terdampak.
Panen Paling Menegangkan: Menunggu Jatuh Alami
Durian berbeda dari buah kebanyakan. Ia tidak bisa dipanen sembarangan. Ada dua metode panen yang umum digunakan.
Pertama, durian jatuh alami dari pohon. Jenis ini dianggap paling premium karena tingkat kematangannya sempurna, aromanya kuat, dan teksturnya lembut. Konsekuensinya, durian jatuhan alami memiliki umur simpan pendek dan harga yang bisa dua hingga tiga kali lipat lebih mahal.
Kedua, durian dipetik sebelum jatuh. Cara ini membuat buah lebih awet dan aman dikirim jarak jauh, meski rasa dan aroma biasanya sedikit di bawah durian jatuhan.
Perjalanan Ekstrem Menuju Kota
Setelah panen, durian memasuki fase paling krusial: distribusi. Bayangkan durian dari kebun di Medan, Banyuwangi, atau Kalimantan harus menempuh ratusan hingga ribuan kilometer menuju kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya.
Tantangannya tidak main-main. Durian mudah busuk, berduri tajam, beraroma menyengat, dan memiliki umur simpan pendek. Sedikit keterlambatan saja bisa membuat kualitas turun drastis dan harga anjlok.
Seleksi Ketat, Tak Semua Lolos Jual
Sebelum sampai ke tangan pembeli, durian diseleksi ketat. Pedagang memeriksa berat ideal, kondisi kulit, aroma, hingga bunyi “kopong” saat diketuk.
Durian yang tidak lolos biasanya tidak dibuang, melainkan diolah menjadi pancake durian, es krim, atau tempoyak.
Akhir Bahagia di Meja Makan
Saat durian dibelah, aroma khas langsung menyeruak. Daging berwarna kuning keemasan, tekstur lembut, rasa manis berpadu pahit tipis—kombinasi yang membuat banyak orang rela antre dan merogoh kocek dalam-dalam.
Baca Juga: Main Hujan-hujanan Itu Seru Banget, Tapi… Benarkah Bikin Kamu Mudah Sakit? Ini Jawabannya!
Kini, durian premium seperti Musang King, Black Thorn, hingga Montong super bisa dibanderol ratusan ribu hingga jutaan rupiah per buah.
Durian, Buah Lokal Bernilai Ekonomi Tinggi
Durian tak lagi sekadar camilan musiman. Permintaan terus meningkat, banyak petani beralih menanam varietas premium, dan ekspor mulai menembus pasar Asia seperti China dan Asia Tenggara. Durian telah menjelma menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi.
Dari kebun sunyi, malam yang diserbuki kelelawar, panen yang menegangkan, hingga perjalanan panjang ke kota—setiap gigitan durian menyimpan cerita.
Bukan sekadar buah, melainkan hasil perjuangan panjang yang membuat rasanya terasa begitu istimewa.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah