Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Kamu Tanpa Sadar: Emosi Baper Ternyata Ngaruh ke Ginjal, Jantung, hingga Pencernaan

Widodo • Minggu, 1 Februari 2026 | 07:05 WIB

Sering bad mood lalu tubuh ikut terasa tidak enak? Emosi ternyata punya peran besar dalam kesehatan jantung, ginjal, dan pencernaan.
Sering bad mood lalu tubuh ikut terasa tidak enak? Emosi ternyata punya peran besar dalam kesehatan jantung, ginjal, dan pencernaan.

RADARBONANG.ID - Pernah merasa suasana hati buruk seharian lalu tubuh ikut bereaksi, mulai dari pegal, perut tidak nyaman, sampai sulit tidur? Kondisi ini bukan sekadar sugesti. Dunia medis sudah lama mengenali hubungan erat antara emosi dan kesehatan fisik manusia.

Emosi bukan hanya urusan perasaan, tetapi respons biologis yang melibatkan kerja otak, sistem saraf, dan hormon.

Ketika emosi negatif seperti stres, marah, atau cemas muncul terus-menerus, tubuh akan berada dalam kondisi siaga berkepanjangan. Jika dibiarkan, hal ini dapat memicu berbagai gangguan kesehatan.

Baca Juga: UDINUS Terapkan Ijazah Berbasis Blockchain untuk Cegah Ijazah Palsu

Emosi dan Hormon Stres dalam Tubuh

Saat seseorang mengalami tekanan emosional, otak akan memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin.

Dalam jangka pendek, hormon ini membantu tubuh bertahan menghadapi situasi sulit. Namun, jika produksinya berlangsung terlalu lama, efeknya justru merugikan.

Kortisol yang tinggi secara kronis dapat mengganggu metabolisme, meningkatkan tekanan darah, serta melemahkan sistem kekebalan tubuh.

Inilah alasan mengapa orang yang sering mengalami stres berkepanjangan lebih mudah jatuh sakit.

Stres Berkepanjangan dan Risiko Penyakit Jantung

Salah satu organ yang paling terdampak oleh emosi negatif adalah jantung. Stres kronis dapat menyebabkan peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, serta memengaruhi kondisi pembuluh darah.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular seperti hipertensi dan penyakit jantung koroner.

Para ahli menyebut emosi negatif yang tidak terkelola sebagai faktor risiko tersembunyi yang sering luput dari perhatian.

Hubungan Emosi dengan Sistem Pencernaan

Pencernaan juga sangat sensitif terhadap kondisi emosional. Otak dan usus terhubung melalui jalur yang dikenal sebagai gut-brain axis. Karena itu, perubahan emosi dapat langsung memengaruhi kerja lambung dan usus.

Kecemasan dan kemarahan berlebih dapat meningkatkan produksi asam lambung, memperlambat atau mempercepat gerakan usus, hingga memicu gangguan seperti nyeri perut, gangguan lambung, atau sindrom iritasi usus.

Tak heran jika banyak keluhan pencernaan muncul tanpa sebab fisik yang jelas, tetapi berkaitan erat dengan kondisi mental.

Dampak Emosi terhadap Fungsi Ginjal

Meski jarang disadari, emosi juga berpengaruh pada kesehatan ginjal. Stres berkepanjangan dapat memicu tekanan darah tinggi, yang merupakan salah satu faktor risiko utama gangguan ginjal.

Jika tekanan darah tidak terkontrol dalam waktu lama, ginjal harus bekerja lebih keras untuk menyaring darah.

Kondisi ini dapat mempercepat penurunan fungsi ginjal, terutama pada individu yang memiliki riwayat penyakit tertentu.

Emosi Positif sebagai Pelindung Kesehatan

Tidak semua emosi berdampak buruk. Perasaan bahagia, tenang, dan optimistis justru memberi efek perlindungan bagi tubuh.

Emosi positif mendorong pelepasan hormon endorfin dan serotonin yang membantu menurunkan stres, memperkuat sistem imun, dan memperbaiki kualitas tidur.

Aktivitas sederhana seperti tertawa, bersyukur, atau melakukan hobi yang menyenangkan dapat membantu menjaga keseimbangan emosional dan kesehatan fisik secara keseluruhan.

Baca Juga: Syuting Film Netflix Libatkan Lisa BLACKPINK, Sejumlah Jalan di Kota Tangerang Ditutup Sementara hingga Akhir Januari

Cara Mengelola Emosi agar Tubuh Tetap Sehat

Mengelola emosi tidak harus rumit. Beberapa langkah sederhana yang terbukti membantu menjaga kesehatan mental dan fisik antara lain olahraga ringan secara teratur, tidur cukup, latihan pernapasan atau meditasi, serta berbagi cerita dengan orang yang dipercaya.

Mengurangi waktu menatap layar gawai dan memberi jeda bagi diri sendiri juga penting untuk menurunkan tekanan mental.

Tubuh kerap memberi sinyal saat emosi sudah terlalu berat untuk ditanggung, dan sinyal itu sebaiknya tidak diabaikan.

Kesehatan sejati bukan hanya soal fisik yang bugar, tetapi juga keseimbangan antara pikiran, perasaan, dan tubuh yang saling terhubung.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#kesehatan mental dan fisik #emosi dan pencernaan #emosi dan kesehatan #stres kronis dan ginjal #emosi pengaruhi jantung #Dampak stres pada tubuh