RADARBONANG.ID — Generasi Z selama ini kerap dicap tidak peduli terhadap isu ekonomi makro.
Kebijakan fiskal dan moneter dianggap terlalu rumit, jauh dari kehidupan sehari-hari, dan hanya relevan bagi akademisi atau elite kebijakan.
Namun anggapan tersebut perlahan runtuh. Di tengah naik-turunnya harga kebutuhan pokok, bunga kredit yang kian terasa, serta isu pajak dan subsidi yang ramai di media sosial, Gen Z mulai menunjukkan ketertarikan yang nyata terhadap arah kebijakan ekonomi.
Menariknya, kesadaran ini tidak tumbuh dari ruang kuliah atau seminar resmi. Ia justru berkembang pesat di ruang digital.
Baca Juga: Baper, Cemas, Takut Ketinggalan? Ini Cara Instagram Bikin Mental Gen Z Goyah
Thread panjang di X yang membahas APBN bisa menembus ratusan ribu tayangan. Video TikTok tentang BI Rate ditonton jutaan kali.
Podcast ekonomi dengan bahasa ringan menjadi teman perjalanan. Ekonomi tak lagi terasa jauh, melainkan dekat dan berdampak langsung pada dompet.
Dari Istilah Rumit ke Dampak Nyata
Bagi banyak Gen Z, titik balik ketertarikan pada kebijakan moneter terjadi saat dampaknya terasa langsung.
Kenaikan suku bunga bukan lagi grafik abstrak, melainkan cicilan motor atau kredit gadget yang ikut naik. Inflasi bukan sekadar angka, tetapi harga makan siang yang makin mahal.
Kebijakan fiskal pun mulai dipahami secara lebih personal. Pajak tidak lagi sekadar kewajiban negara, melainkan berkaitan dengan PPN, subsidi energi, bantuan sosial, hingga peluang kerja. Ketika kebijakan menyentuh kebutuhan sehari-hari, ekonomi menjadi relevan dan layak dipelajari.
Kreator Konten sebagai Jembatan Literasi
Perubahan ini tidak lepas dari peran kreator konten. Banyak ekonom muda, analis kebijakan, dan edukator finansial mengemas topik berat menjadi konten singkat dan mudah dipahami.
Ilustrasi sederhana, analogi uang jajan anak kos, hingga simulasi APBN dalam format visual membantu Gen Z memahami konsep yang sebelumnya terasa asing.
Pendekatan ini mematahkan kesan bahwa ekonomi adalah ilmu yang menakutkan. Sebaliknya, ia menjadi pengetahuan praktis yang bisa digunakan untuk membaca situasi dan mengambil keputusan hidup.
FOMO Ekonomi dan Identitas Kritis
Fenomena lain yang ikut mendorong minat Gen Z adalah rasa takut ketinggalan isu. Bukan sekadar tren gaya hidup, FOMO kini juga merambah isu ekonomi.
Ketika pajak digital, defisit anggaran, atau inflasi ramai dibahas, banyak Gen Z merasa perlu memahami agar tidak tertinggal dalam percakapan publik.
Melek kebijakan ekonomi perlahan menjadi bagian dari identitas intelektual. Memahami fiskal dan moneter dianggap sebagai bentuk kepedulian, sikap kritis, dan kesadaran sosial.
Ekonomi tidak lagi dipandang kaku, melainkan relevan dan penting.
Dari Melek ke Kritis
Kesadaran ini tidak berhenti pada pemahaman dasar. Sebagian Gen Z mulai berani mempertanyakan kebijakan.
Mereka bertanya mengapa subsidi dikurangi, siapa yang paling diuntungkan dari kenaikan suku bunga, dan apakah sistem pajak sudah adil bagi generasi muda.
Diskusi semacam ini ramai di kolom komentar media daring, forum digital, dan ruang diskusi publik.
Gen Z tidak lagi sekadar menerima kebijakan sebagai fakta, tetapi mulai menuntut transparansi dan akuntabilitas dari pengambil keputusan.
Tantangan di Tengah Arus Informasi Cepat
Meski tren ini positif, tantangan tetap ada. Arus informasi yang cepat membawa risiko salah paham.
Potongan data tanpa konteks, narasi parsial, hingga misinformasi bisa menyesatkan pemahaman.
Karena itu, para pakar menilai literasi fiskal dan moneter perlu diimbangi dengan edukasi resmi yang adaptif.
Pemerintah dan lembaga keuangan dituntut hadir di ruang digital dengan bahasa yang dipahami anak muda, agar diskusi ekonomi tidak dikuasai oleh narasi yang keliru.
Baca Juga: Redmi Note 15 Pro Resmi Meluncur, Baterai Jumbo Diklaim Tahan Seharian untuk Pemakaian Intensif
Modal Menuju Masa Depan
Meningkatnya literasi kebijakan fiskal dan moneter di kalangan Gen Z menjadi sinyal positif bagi masa depan.
Mereka adalah calon pembayar pajak utama, pelaku ekonomi, dan pengambil kebijakan di masa mendatang.
Jika kesadaran ini terus tumbuh, Indonesia berpeluang memiliki generasi yang paham dampak kebijakan ekonomi, kritis namun konstruktif, serta tidak mudah terjebak hoaks. Ekonomi bukan lagi sekadar angka dalam laporan negara, melainkan cerita tentang masa depan mereka sendiri.
Editor : Muhammad Azlan Syah