RADARBONANG.ID — Bangun tidur, tangan refleks membuka Instagram. Sebelum mandi, Stories sudah dicek.
Menjelang tidur, Reels jadi tontonan terakhir. Pola ini terasa begitu akrab, terutama bagi generasi Z.
Namun di balik kebiasaan scrolling yang tampak sepele, tersembunyi fenomena psikologis yang cukup serius: FOMO atau Fear of Missing Out.
FOMO adalah rasa takut tertinggal dari pengalaman orang lain. Saat melihat Story teman nongkrong, liburan, atau sekadar menikmati kopi di kafe estetik, reaksi yang muncul bukan hanya rasa penasaran.
Bagi sebagian orang, itu bisa menjadi alarm mental yang memicu cemas, gelisah, dan perasaan tidak nyaman terhadap diri sendiri.
Baca Juga: Serangan Siber Makin Brutal, Perlindungan Data Indonesia Dinilai Gagal Mengimbangi Digitalisasi
Ketika Melihat Berubah Menjadi Membandingkan
Instagram bekerja sebagai jendela instan ke kehidupan orang lain. Dalam hitungan detik, kita bisa melihat potongan aktivitas teman, selebritas, hingga influencer.
Masalahnya, yang ditampilkan umumnya adalah versi terbaik dari kehidupan seseorang.
Otak manusia secara alami melakukan perbandingan sosial. Ketika melihat orang lain tampak bahagia, produktif, dan sibuk menjalani hidup, muncul pikiran bahwa hidup sendiri terasa kurang menarik, kurang maju, atau tertinggal. Dari sinilah rasa tidak cukup mulai tumbuh.
Sejumlah penelitian lokal menunjukkan bahwa FOMO berperan sebagai penguat kecemasan dan rendahnya rasa percaya diri pada pengguna aktif Instagram, terutama di usia remaja dan awal 20-an.
Semakin sering terpapar kehidupan “ideal” orang lain, semakin besar dorongan untuk terus memantau dan membandingkan.
Instagram dan Standar Hidup yang Tak Terucap
Fenomena FOMO muncul karena Instagram tidak sekadar menyajikan konten, tetapi juga membentuk standar tak tertulis tentang bagaimana hidup seharusnya dijalani.
Pesta, liburan, pencapaian kecil, hingga rutinitas sehat tampil sebagai gambaran keseharian yang terlihat normal.
Ketika standar ini terus diulang, otak mulai bertanya: “Kenapa hidupku tidak seperti itu?” Pertanyaan sederhana ini perlahan memicu kecemasan.
Rasa takut ketinggalan tidak selalu tentang acara besar, melainkan tentang perasaan tidak ikut serta dalam arus kehidupan sosial yang tampak berjalan cepat.
Temuan Penelitian tentang Dampak Mental
Penelitian di Universitas Negeri Malang menemukan bahwa FOMO memiliki hubungan signifikan dengan kesejahteraan psikologis pengguna Instagram aktif.
Meski kontribusinya secara statistik tidak besar, pengaruhnya nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Studi lain menunjukkan bahwa individu dengan tingkat FOMO tinggi cenderung lebih sering membuka Instagram, bahkan saat aktivitas tersebut mengganggu belajar, bekerja, atau interaksi sosial langsung.
Keinginan untuk terus “update” mengalahkan kebutuhan untuk fokus pada dunia nyata.
Di tingkat global, sejumlah instansi kesehatan mulai menyoroti dampak algoritme media sosial terhadap kesehatan mental remaja.
Tekanan sosial daring dan dorongan untuk selalu terhubung dikaitkan dengan meningkatnya risiko kecemasan, gangguan tidur, dan kelelahan mental.
Dari Cemas Menuju Burnout Digital
FOMO bukan hanya tentang rasa cemas sesaat. Jika terus dipelihara oleh kebiasaan scrolling tanpa batas, kondisi ini dapat berkembang menjadi burnout digital.
Beberapa tanda yang sering muncul antara lain gangguan tidur akibat memikirkan unggahan atau notifikasi terakhir, perbandingan sosial yang merugikan, serta perasaan kesepian meski terus terhubung secara online.
Instagram pun berubah fungsi menjadi ruang sosial kedua. Banyak pengguna merasa harus selalu hadir dan responsif agar tidak tertinggal momen hidup orang lain. Tekanan inilah yang perlahan menggerus ketenangan mental.
Cara Gen Z Mengelola FOMO
Meski terdengar mengkhawatirkan, FOMO bukan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.
Langkah awalnya adalah menyadari bahwa media sosial hanya menampilkan potongan realitas, bukan gambaran hidup secara utuh.
Membuat batasan digital menjadi kunci. Mengatur waktu penggunaan Instagram, memanfaatkan fitur mute atau unfollow, serta melakukan detoks digital secara berkala dapat membantu menurunkan intensitas kecemasan.
Baca Juga: Bukan Benci, Bukan Drama: Kenapa Unfollow Sekarang Justru Jadi Bentuk Self Care
Yang tidak kalah penting, memperkuat koneksi di dunia nyata memberi dampak emosional yang lebih stabil dibanding validasi digital.
FOMO di Instagram bukan mitos. Ia nyata, terasa, dan memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.
Namun kendali tetap ada di tangan pengguna. Instagram bisa menjadi sumber inspirasi, bukan tolok ukur hidup.
Dengan kesadaran dan batasan yang tepat, media sosial dapat kembali berfungsi sebagai alat, bukan penentu nilai diri.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah