Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Baper, Cemas, Takut Ketinggalan? Ini Cara Instagram Bikin Mental Gen Z Goyah

Widodo • Selasa, 27 Januari 2026 | 07:05 WIB

Baper, Cemas, Takut Ketinggalan? Ini Cara Instagram Bikin Mental Gen Z Goyah
Baper, Cemas, Takut Ketinggalan? Ini Cara Instagram Bikin Mental Gen Z Goyah

RADARBONANG.COM — Bangun tidur, membuka Instagram. Sebelum mandi, mengecek Stories. Menjelang tidur, menonton Reels tanpa terasa waktu berlalu.

Pola ini bukan hal asing bagi generasi Z. Media sosial, khususnya Instagram, telah menjadi bagian dari rutinitas harian yang nyaris tak terpisahkan.

Namun di balik kebiasaan scrolling tersebut, tersembunyi dampak psikologis yang tidak bisa dianggap remeh.

Fenomena itu dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out), yakni rasa takut tertinggal dari pengalaman, momen, atau aktivitas orang lain.

Baca Juga: China Tegaskan Akan Tampilkan Bukti COVID-19 Bermula di Amerika Serikat, Serukan AS Buka Data Awal Virus

Ketika melihat unggahan teman nongkrong, liburan, atau sekadar menikmati kopi di kafe estetik, otak kita sering kali tidak hanya “melihat”, tetapi juga membandingkan.

Dari situlah muncul rasa baper, cemas, hingga perasaan hidup sendiri terasa kurang menarik.

Instagram dan Budaya Perbandingan Sosial

Secara psikologis, manusia memang cenderung membandingkan diri dengan orang lain. Instagram mempercepat dan memperluas proses tersebut.

Platform ini menyajikan potongan terbaik dari kehidupan banyak orang secara instan, terkurasi, dan berulang.

Masalahnya, apa yang ditampilkan sering kali bukan realitas utuh, melainkan versi terbaik yang sudah dipilih dan disunting.

Bagi Gen Z, yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri dan validasi sosial, paparan semacam ini dapat memicu rasa tidak cukup.

Produktivitas, kebahagiaan, hingga kesuksesan seolah punya standar baru yang ditentukan oleh feed dan Stories.

Akibatnya, muncul tekanan internal untuk selalu “ikut update” agar tidak merasa tertinggal dari lingkungan sosialnya.

Temuan Penelitian tentang FoMO

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa FoMO berkaitan erat dengan kesehatan mental pengguna media sosial.

Studi yang dilakukan di Universitas Negeri Malang, misalnya, menemukan bahwa FoMO memiliki hubungan signifikan dengan kesejahteraan psikologis pengguna Instagram aktif.

Meski kontribusinya secara statistik tidak besar, pengaruhnya tetap nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa individu dengan tingkat FoMO tinggi cenderung lebih sering memeriksa media sosial, bahkan saat sedang belajar, bekerja, atau berinteraksi langsung dengan orang lain. Kebiasaan ini membuat fokus terpecah dan meningkatkan risiko kelelahan mental.

Di tingkat global, sejumlah lembaga kesehatan mulai menyoroti peran algoritme media sosial dalam memperkuat tekanan sosial daring.

Dorongan untuk terus terhubung dan selalu mengetahui apa yang terjadi di sekitar dianggap dapat meningkatkan kecemasan, gangguan tidur, hingga perasaan kesepian.

Dari Cemas hingga Burnout Digital

FoMO tidak berhenti pada rasa cemas sesaat. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat berkembang menjadi burnout digital.

Beberapa tanda yang sering dilaporkan antara lain gangguan tidur akibat memikirkan unggahan atau notifikasi, kebiasaan membandingkan diri secara berlebihan, serta perasaan hampa meski terus terhubung secara online.

Instagram pun tidak lagi sekadar platform hiburan, melainkan ruang sosial kedua. Banyak pengguna merasa harus selalu hadir dan responsif agar tidak kehilangan momen penting dalam kehidupan orang lain. Tekanan inilah yang perlahan menggerus ketenangan mental.

Cara Gen Z Mengelola FOMO

Meski terdengar mengkhawatirkan, FoMO bukan kondisi yang tidak bisa dikendalikan. Langkah pertama adalah membangun kesadaran bahwa apa yang tampil di media sosial bukanlah gambaran hidup secara menyeluruh.

Mengatur batasan waktu penggunaan Instagram dapat membantu mengembalikan kendali atas perhatian.

Baca Juga: Redmi Note 15 Pro Resmi Meluncur, Baterai Jumbo Diklaim Tahan Seharian untuk Pemakaian Intensif

Selain itu, fitur mute atau unfollow bisa dimanfaatkan untuk membersihkan feed dari konten yang memicu perbandingan negatif.

Detoks digital secara berkala juga terbukti membantu memperbaiki suasana hati. Yang tidak kalah penting, memperkuat hubungan di dunia nyata dapat memberikan kepuasan emosional yang jauh lebih stabil dibanding sekadar likes dan views.

FOMO di Instagram bukan sekadar istilah populer, melainkan fenomena psikologis yang nyata dirasakan banyak Gen Z.

Ia memengaruhi cara berpikir, merasa, dan menilai diri sendiri. Namun kabar baiknya, media sosial tetap bisa digunakan secara sehat.

Instagram seharusnya menjadi sumber inspirasi, bukan tolok ukur nilai diri. Kendali ada di tangan pengguna, bukan pada algoritme.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#kecemasan digital #dampak media sosial #FOMO Instagram #burnout digital #mental Gen Z #kesehatan mental remaja