RADARBONANG.ID — Tren hidup hemat kembali ramai diperbincangkan. Di media sosial, istilah frugal living muncul di berbagai konten: tantangan belanja Rp50 ribu seminggu, masak seadanya tanpa bumbu, hingga kebanggaan memakai barang rusak bertahun-tahun demi disebut konsisten.
Sekilas terlihat inspiratif, tapi bagi banyak orang, gaya hidup ini justru terasa melelahkan.
Tak sedikit yang akhirnya merasa tertekan. Hidup jadi serba menahan, penuh rasa bersalah, dan kehilangan kesenangan kecil yang seharusnya membuat hari lebih manusiawi.
Dari sinilah muncul kesadaran baru: hidup hemat tidak harus ekstrem, apalagi menyiksa diri.
Baca Juga: Realita “Budget Gaming” Anak Zaman Sekarang: Katanya Irit, Kok Saldo E-Wallet Ikut Menangis?
Frugal Ekstrem: Saat Niat Baik Berubah Jadi Beban
Pada dasarnya, frugal living lahir dari keinginan melawan gaya hidup konsumtif. Namun di era media sosial, praktiknya sering bergeser menjadi ajang pembuktian diri.
Siapa yang paling sedikit belanja, paling jarang jajan, atau paling “tahan menderita” justru dianggap paling sukses.
Banyak orang akhirnya menutup semua kran pengeluaran: tak pernah nongkrong, tak pernah jajan, bahkan merasa berdosa hanya karena membeli kopi favorit.
“Banyak yang lupa bahwa hemat itu alat, bukan tujuan,” ujar pengamat gaya hidup urban. Ketika hemat berubah menjadi tekanan, yang terdampak bukan hanya keuangan, tetapi juga kesehatan mental.
Hemat Versi Baru: Sadar, Realistis, dan Manusiawi
Berbeda dengan frugal ekstrem, tren hemat versi baru menekankan kesadaran, bukan pengorbanan berlebihan.
Ukurannya bukan seberapa kecil uang yang keluar, melainkan apakah pengeluaran itu masuk akal dan sejalan dengan kebutuhan hidup.
Contohnya sederhana:
-
Tetap beli kopi favorit, tapi tidak setiap hari
-
Tetap liburan, tapi memilih destinasi yang realistis
-
Tetap belanja, tapi menghindari impuls semata karena tren
Hemat tidak lagi berarti menahan segalanya, melainkan memilih dengan tenang dan penuh kendali. Pendekatan ini terasa lebih berkelanjutan karena tidak memicu rasa tertekan.
Gen Z Pilih Realistis, Bukan Idealis
Menariknya, pola hemat yang lebih fleksibel ini banyak dipilih Gen Z dan milenial muda. Mereka tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi, harga kebutuhan pokok yang terus naik, serta standar hidup tinggi yang dipamerkan media sosial.
Alih-alih memaksakan frugal ekstrem, generasi ini cenderung memilih:
-
Menikmati hal kecil tanpa rasa bersalah
-
Mengurangi gengsi, bukan kualitas hidup
-
Mengatur keuangan tanpa harus terlihat “sengsara”
Bagi mereka, hidup hemat bukan ajang pamer kesederhanaan, melainkan cara menjaga kewarasan di tengah tekanan hidup modern.
Hemat Boleh, Nikmat Harus
Psikolog keuangan menilai, manusia tetap membutuhkan reward kecil agar bisa konsisten.
Terlalu keras pada diri sendiri justru memicu kelelahan mental dan berujung pada “balas dendam” lewat belanja impulsif di kemudian hari.
Karena itu, hidup hemat yang sehat justru memberi ruang untuk:
-
Makan enak sesekali
-
Nongkrong seperlunya
-
Membeli barang yang benar-benar disukai dan dibutuhkan
Bukan soal banyak-banyakan menahan, tetapi soal pintar mengatur.
Baca Juga: Low Profile Lifestyle: Saat Anak Muda Pamer Tanpa Perlu Pamer, Ini Alasan Tren Ini Makin Digandrungi
Bukan Pelit, Tapi Cerdas Mengelola Uang
Pendekatan hemat versi baru juga mengubah stigma lama. Hidup sederhana tidak identik dengan pelit.
Tidak ikut tren bukan berarti tertinggal. Justru mereka yang mampu mengelola uang tanpa drama adalah orang-orang yang paling siap menghadapi masa depan.
Di tengah ekonomi yang tak selalu ramah, kemampuan hidup hemat dengan waras menjadi life skill penting—bukan sekadar gaya hidup musiman.
Hemat Itu Fleksibel, Bukan Paksaan
Tak semua orang harus hidup frugal ekstrem untuk disebut bijak finansial. Yang terpenting adalah punya kendali atas uang, bukan sekadar ikut tren.
Karena pada akhirnya, hidup hemat seharusnya membuat hidup terasa lebih ringan—bukan lebih berat.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah