RADARBONANG.ID – Sabtu sore di sudut pasar loak mulai ramai. Tumpukan jaket denim, kemeja flanel, hoodie oversized, hingga celana kargo berserakan di atas terpal.
Anak-anak muda tampak sibuk mengaduk karung pakaian, sebagian berdiskusi kecil sambil membandingkan warna dan potongan. Sesekali terdengar komentar khas, “Ini vintage banget.”
Fenomena thrifting—berburu pakaian bekas layak pakai—kini bukan lagi sekadar cara berhemat.
Di kalangan anak muda, khususnya Generasi Z, thrifting telah bertransformasi menjadi gaya hidup. Lebih personal, lebih berkarakter, dan sekaligus menjadi bentuk pernyataan gaya.
Baca Juga: Emas Batangan Antam Cetak All Time High Lagi, Harga 1 Gram Capai Rp2.705.000
Anti Mainstream dan Lebih “Gue Banget”
Bagi anak muda, tampil beda adalah bagian penting dari identitas. Thrifting menawarkan keunikan itu.
Setiap potong pakaian memiliki cerita, usia, dan karakter tersendiri. Risiko mengenakan baju yang sama dengan banyak orang pun nyaris nol.
Item seperti jaket varsity lawas, kaus band jadul, hingga celana vintage kembali naik daun. Media sosial berperan besar dalam memperkuat tren ini.
Di TikTok dan Instagram, konten “thrift haul” atau “mix and match thrifting outfit” dengan mudah menarik perhatian ratusan ribu penonton.
Hemat di Kantong, Masuk Akal di Kondisi Ekonomi
Meski nilai gaya semakin menonjol, faktor harga tetap menjadi daya tarik utama. Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, thrifting menjadi solusi realistis bagi anak muda.
Dengan uang ratusan ribu rupiah, mereka bisa membawa pulang beberapa potong pakaian sekaligus.
Kelompok usia muda dikenal lebih selektif dalam membelanjakan uang dan cenderung mencari alternatif konsumsi yang lebih efisien.
Thrifting hadir sebagai jalan tengah: tetap bisa tampil modis tanpa harus menguras dompet.
Bagi sebagian anak muda, thrifting bukan hanya soal murah, tetapi soal cerdas mengelola keuangan.
Kesadaran Lingkungan yang Ikut Tumbuh
Tren thrifting juga sejalan dengan meningkatnya kepedulian anak muda terhadap isu lingkungan. Industri fashion global dikenal sebagai salah satu penyumbang limbah terbesar.
Produksi pakaian baru dalam jumlah masif berdampak pada penggunaan air, energi, dan pencemaran lingkungan.
Dengan membeli pakaian bekas, siklus hidup pakaian dapat diperpanjang. Konsep sustainable fashion inilah yang mulai dipegang Gen Z. Mereka tidak hanya ingin tampil keren, tetapi juga merasa berkontribusi pada lingkungan.
Baca Juga: Bukan Benci, Bukan Drama: Kenapa Unfollow Sekarang Justru Jadi Bentuk Self Care
Di Balik Tren, Tetap Ada Catatan
Meski digandrungi, tren thrifting juga tidak lepas dari sorotan. Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menegaskan larangan impor pakaian bekas demi melindungi industri tekstil dalam negeri dan menjaga standar kesehatan.
Namun, jual beli pakaian bekas yang berasal dari dalam negeri tetap diperbolehkan. Artinya, thrifting sebagai gaya hidup masih memiliki ruang, selama dilakukan secara bijak dan sesuai aturan.
Lebih dari Tren Sesaat
Melihat antusiasme anak muda, thrifting tampaknya bukan tren musiman. Ia telah menjelma menjadi bagian dari identitas generasi muda: kreatif, sadar lingkungan, dan cermat secara finansial.
Dari pasar loak hingga lapak daring, dari rak pakaian bekas hingga feed Instagram, thrifting terus hidup dan berkembang.
Bagi Gen Z, ini bukan sekadar soal baju lama, melainkan tentang cerita, ekspresi diri, dan pilihan hidup yang mereka yakini.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah