Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Stres, Capek, Mumet? Anak Muda Sekarang Pilih Angkat Barbel

Widodo • Rabu, 21 Januari 2026 | 07:51 WIB

Saat kepala penuh dan hidup terasa berat, anak muda memilih angkat barbel. Gym kini jadi ruang aman baru melawan stres.
Saat kepala penuh dan hidup terasa berat, anak muda memilih angkat barbel. Gym kini jadi ruang aman baru melawan stres.

RADARBONANG.ID – Menjelang sore, sebuah gym sederhana di Tuban mulai dipenuhi suara besi beradu.

Musik berdentum, keringat menetes, dan wajah-wajah serius tampak berjejer di depan cermin besar.

Namun yang datang ke tempat ini bukan semata mereka yang mengejar tubuh atletis. Banyak di antaranya membawa satu alasan yang lebih mendasar: stres.

Tekanan hidup yang menumpuk membuat gym kini menjelma menjadi ruang pelarian baru bagi anak muda, terutama Generasi Z.

Baca Juga: Party Jamu Menggema di Kalangan Gen Z: Bukan Mabuk, Tapi Ngehits dan Sehat

Dari mahasiswa hingga pekerja kantoran, angkat beban dipilih sebagai cara meredakan mumet yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

“Kalau lagi pusing mikirin kerjaan, mending ke gym,” ujar Fikri (23), karyawan swasta yang hampir setiap sore rutin berlatih. “Capeknya badan, tapi kepala jadi lebih enteng.”

Dari Overthinking ke Overhead Press

Tekanan yang dihadapi anak muda hari ini datang dari berbagai arah. Deadline pekerjaan, tuntutan produktivitas, ekspektasi keluarga, hingga perbandingan hidup tanpa henti di media sosial menciptakan kelelahan mental yang nyata.

Alih-alih meluapkan emosi lewat keluhan panjang atau memendam sendiri, banyak anak muda memilih melawan stres secara fisik.

Barbel, treadmill, dan alat angkat beban menjadi sarana menyalurkan emosi yang sulit diungkapkan.

“Daripada overthinking di kamar, mending capek fisik,” kata Ayu (21), mahasiswi yang baru enam bulan rutin ke gym. “Habis olahraga rasanya lebih tenang, tidur juga lebih nyenyak.”

Secara ilmiah, pengalaman tersebut bukan sekadar sugesti. Aktivitas fisik, termasuk latihan kekuatan, memicu pelepasan endorfin—hormon yang berperan dalam memperbaiki suasana hati dan menurunkan tingkat stres.

Gym sebagai Ruang Aman Baru

Bagi sebagian anak muda, gym menawarkan suasana yang jarang mereka temukan di luar: tidak dituntut bercerita, tidak dihakimi, dan tidak harus terlihat baik-baik saja. Semua orang sibuk dengan versinya masing-masing.

Ada yang fokus menurunkan berat badan, ada yang mengejar bentuk tubuh ideal, dan ada pula yang hanya ingin berkeringat lalu pulang dengan pikiran lebih ringan.

Di dalam gym, kesunyian emosional justru terasa menenangkan.

Psikolog mencatat bahwa aktivitas fisik terstruktur membantu seseorang merasa memiliki kendali atas tubuhnya—sesuatu yang sering hilang saat stres melanda.

American Psychological Association menyebut olahraga teratur mampu mengurangi gejala kecemasan dan depresi ringan hingga sedang.

Media Sosial Ikut Mengerek Tren

Media sosial turut berperan dalam mengubah citra gym. Konten “gym after work”, transformasi tubuh, hingga video olahraga sebagai bentuk healing membuat aktivitas ini terlihat tidak hanya sehat, tetapi juga relevan dengan gaya hidup anak muda.

Namun di balik visual estetik, realitasnya jauh lebih dalam. Banyak yang datang ke gym bukan untuk dipamerkan di linimasa, melainkan untuk bertahan secara mental.

“Capek lihat hidup orang lain di medsos,” ujar Dimas (24). “Di gym fokusnya cuma satu: satu repetisi lagi.”

Bukan Solusi Tunggal, tapi Jalan Keluar Sehat

Meski olahraga terbukti membantu meredakan stres, para ahli menegaskan bahwa gym bukan pengganti bantuan profesional.

Jika stres sudah mengganggu aktivitas harian, konsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan tetap diperlukan.

Baca Juga: Cuaca Tak Bersahabat, Tren Wisata Tuban Awal 2026 Bergerak Naik-Turun

Namun sebagai mekanisme coping, gym menawarkan alternatif yang relatif sehat dibanding pelarian ke kebiasaan destruktif.

Ia membantu menyalurkan emosi, membangun disiplin, dan memberi jeda dari kebisingan pikiran.

Dari Besi, Anak Muda Belajar Kuat

Menariknya, banyak anak muda mengaku gym mengajarkan lebih dari sekadar kekuatan fisik. Tentang proses, tentang konsistensi, dan tentang menerima bahwa hasil tidak datang instan.

Setiap angkatan beban menjadi pengingat bahwa hidup memang berat, tetapi bisa dihadapi pelan-pelan.

Dan mungkin itu sebabnya, saat stres datang, anak muda hari ini tak lagi mencari tempat sepi—mereka mencari barbel kosong.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#stres gen z #tren gym gen z #angkat beban untuk stres #gym anak muda #olahraga dan kesehatan mental