Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Wajib Tahu Strategi Investasi Rasulullah SAW Yang Masih Sangat Relevan di Era Sekarang

M Robit Bilhaq • Minggu, 18 Januari 2026 | 08:15 WIB

Teladan investasi Rasulullah SAW bukan hanya soal untung, tetapi keberkahan, kejujuran, dan manfaat bagi sesama.
Teladan investasi Rasulullah SAW bukan hanya soal untung, tetapi keberkahan, kejujuran, dan manfaat bagi sesama.

RADARBONANG.ID - Investasi kerap dipersepsikan semata-mata sebagai upaya mengejar keuntungan materi dan akumulasi kekayaan.

Padahal, dalam perspektif Islam, investasi memiliki makna yang jauh lebih luas.

Teladan yang diberikan Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa aktivitas investasi bukan hanya tentang untung rugi, tetapi juga tentang keberkahan, kemaslahatan sosial, dan persiapan masa depan yang berlandaskan nilai moral.

Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok pedagang dan investor ulung jauh sebelum diangkat menjadi nabi.

Prinsip-prinsip bisnis dan investasinya bahkan hingga kini masih dinilai relevan untuk diterapkan dalam konteks ekonomi modern yang dinamis dan penuh tantangan.

Baca Juga: Jika Perkataan Dharma Pongrekun Terjadi, Ini Dia Tips Lengkap Persiapan Keluarga Hadapi Keadaan Darurat 7 Hari

membangun modal kepercayaan

Berdasarkan riset yang tertuang dalam The Rasulullah Way of Business (2021), langkah awal investasi Rasulullah SAW adalah membangun modal kepercayaan.

Kejujuran (shiddiq) dan amanah menjadi fondasi utama yang membuat banyak pihak bersedia menitipkan modal kepadanya.

Di tengah dunia bisnis modern yang sering diwarnai manipulasi dan spekulasi berlebihan, prinsip ini justru semakin penting.

Kepercayaan adalah aset tak berwujud yang nilainya jauh melampaui modal finansial. Reputasi yang baik membuka peluang investasi lebih besar dan berkelanjutan.

sistem bagi hasil yang adil

Setelah mengelola dana para investor, Rasulullah SAW menerapkan sistem bagi hasil atas keuntungan yang diperoleh.

Skema ini mencerminkan keadilan, transparansi, dan pembagian risiko yang seimbang antara pemilik modal dan pengelola usaha.

Dalam ekonomi Islam, konsep ini dikenal sebagai mudharabah. Sistem ini masih banyak diterapkan hingga kini, baik dalam perbankan syariah, usaha mikro, maupun investasi berbasis kemitraan.

Prinsipnya sederhana: keuntungan dibagi sesuai kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung bersama secara proporsional.

fokus pada aset produktif dan pendapatan pasif

Salah satu keunggulan strategi investasi Rasulullah SAW adalah orientasinya pada aset produktif yang mampu menghasilkan pendapatan pasif (passive income). Salah satu sektor utama yang digeluti beliau adalah peternakan.

Sejak kecil, Nabi Muhammad SAW telah terbiasa menggembala ternak. Keahlian ini kemudian diasah hingga dewasa, bahkan beliau tercatat memiliki puluhan ekor unta.

Selain unta, Rasulullah juga memelihara kuda, sapi, keledai, dan domba. Hewan ternak pada masa itu bukan hanya simbol kekayaan, tetapi juga aset produktif yang memberikan manfaat berkelanjutan.

investasi lahan dan properti

Selain peternakan, Rasulullah SAW juga menanamkan kekayaannya pada sektor lahan dan properti.

Merujuk laporan dari Musaffa, Nabi Muhammad SAW melakukan praktik penyewaan lahan kepada orang Yahudi dengan skema bagi hasil.

Di wilayah Khaybar, Rasulullah menyewakan tanah dan kebun kurma kepada orang Yahudi setempat.

Mereka diperbolehkan mengelola dan menempati lahan tersebut, dengan kewajiban membagi hasil panen sesuai kesepakatan.

Pola ini menunjukkan fleksibilitas, toleransi, serta kecerdasan ekonomi dalam mengelola aset.

Hingga kini, investasi properti dan lahan produktif masih menjadi salah satu instrumen paling stabil dan diminati, terutama untuk jangka panjang.

sedekah sebagai kunci keberkahan

Aspek terpenting dari strategi investasi Rasulullah SAW adalah sedekah. Dalam ajaran Islam ditegaskan bahwa di dalam harta yang dimiliki seseorang terdapat hak orang lain yang wajib ditunaikan.

Rasulullah SAW tidak pernah menimbun kekayaan. Sebaliknya, beliau dikenal sangat dermawan dan rutin bersedekah, baik dalam bentuk uang, pakaian, maupun bahan makanan.

Prinsip ini menegaskan bahwa keberkahan harta tidak terletak pada jumlahnya, melainkan pada manfaat yang diberikan kepada sesama.

Baca Juga: Mengejutkan! Perlakuan Kasar ke ChatGPT Akan Memberikan Jawaban Lebih Akurat, Berikut Penjelasan Dari Riset Penn State

relevansi di era sekarang

Strategi investasi Rasulullah SAW—mulai dari kejujuran, sistem bagi hasil, kepemilikan aset produktif, hingga konsistensi bersedekah—tetap relevan diterapkan di era modern.

Nilai-nilai tersebut justru menjadi penyeimbang di tengah sistem ekonomi yang sering kali berorientasi pada keuntungan jangka pendek.

Dengan meneladani prinsip Rasulullah SAW, investasi tidak hanya menjadi sarana memperkaya diri, tetapi juga jalan untuk menciptakan kesejahteraan dan keberkahan bersama.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Investasi dalam Islam #Bisnis Nabi Muhammad #teladan ekonomi Rasulullah #strategi investasi Rasulullah SAW #Investasi syariah