Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Parenting Era Digital: Antara Screen Time, Batasan, dan Hati yang Tetap Hadir

Widodo • Jumat, 16 Januari 2026 | 07:47 WIB

Mengasuh di era layar bukan soal melarang, tapi soal hadir. Antara screen time, batasan yang bijak, dan hati orang tua yang tetap terhubung dengan anak.
Mengasuh di era layar bukan soal melarang, tapi soal hadir. Antara screen time, batasan yang bijak, dan hati orang tua yang tetap terhubung dengan anak.

RADABONANG.ID — Pagi belum benar-benar matang, tapi layar sudah menyala. Di ruang keluarga, seorang anak kecil cekikikan menonton video pendek.

Di sampingnya, orang tua setengah sadar memeriksa notifikasi kerja. Pemandangan ini terasa akrab—bukan hanya di kota besar, tapi juga di rumah-rumah Tuban.

Di era digital, parenting tak lagi soal boleh atau tidak boleh. Ia bergeser menjadi soal bagaimana mengelola.

Teknologi sudah telanjur menjadi bagian hidup. Yang tersisa adalah seni: menjaga jarak tanpa memutuskan hubungan.

Baca Juga: Napoli Dikuasai Statistik Tapi Tak Jebolkan Gawang Parma: Evaluasi Ketajaman Serangan Tim Panas

“Anak sekarang pintar, tapi gampang terdistraksi,” ujar Nisa, 29 tahun, ibu muda yang mencoba membatasi gawai tanpa berubah menjadi polisi di rumah sendiri.

Dari Aturan Kaku ke Pendekatan yang Lebih Manusiawi

Dulu, larangan bisa tegas dan final. Kini, pendekatan itu tak selalu relevan. Gawai dipakai untuk belajar, berkomunikasi, bahkan hiburan yang—jika dipilih dengan tepat—bisa mendidik.

Organisasi seperti UNICEF menekankan pentingnya guided screen time: anak didampingi, bukan ditinggal.

Artinya, bukan sekadar menghitung jam layar, melainkan hadir secara emosional saat anak berinteraksi dengan konten digital.

Orang tua yang duduk menemani, lalu bertanya, “lagi nonton apa?” atau “menurutmu ceritanya gimana?” sedang membangun jembatan—bukan tembok.

Batasan Tetap Perlu, Tapi Fleksibel

Di banyak keluarga muda, aturan kini dibuat lebih kontekstual. Hari sekolah berbeda dengan akhir pekan. Waktu layar diimbangi dengan aktivitas fisik, membaca, dan interaksi nyata.

World Health Organization (WHO) merekomendasikan pembatasan screen time pada anak usia dini, serta menekankan pentingnya tidur berkualitas dan aktivitas fisik.

Pesannya sederhana: layar boleh, tapi hidup tak boleh habis di layar.

Batasan yang konsisten, dijelaskan dengan alasan yang masuk akal, terbukti lebih efektif daripada larangan mendadak yang hanya memicu konflik.

Orang Tua Juga Perlu Melek Digital

Parenting era digital tidak bisa berjalan satu arah. Orang tua dituntut untuk mengenal platform yang digunakan anak—bukan untuk mengintai, tapi memahami.

Konten apa yang sedang ramai? Bahasa apa yang digunakan? Nilai apa yang diselipkan? Dengan memahami konteks, orang tua bisa berdialog tanpa menggurui.

American Academy of Pediatrics menyebut, komunikasi terbuka soal media digital membantu anak membangun kebiasaan online yang sehat dan aman.

Teladan Lebih Keras dari Aturan

Anak meniru lebih banyak daripada mendengar. Ketika orang tua terus menatap ponsel saat makan bersama, pesan yang sampai sangat jelas: layar lebih penting daripada kebersamaan.

Seni parenting di era digital dimulai dari hal-hal kecil—menaruh ponsel saat berbincang, menunda membalas chat ketika anak bercerita, dan menunjukkan bahwa hadir sepenuhnya itu mungkin.

Baca Juga: BPOM Ungkap Daftar Produk Susu Nestlé yang Ditarik di Indonesia, Orang Tua Diminta Cek Batch

Mengasuh untuk Jangka Panjang

Tujuan parenting bukan menjauhkan anak dari teknologi, melainkan mempersiapkan mereka hidup di dalamnya—dengan nilai, empati, dan kendali diri.

Di era digital, anak yang paling siap bukan yang paling cepat mengoperasikan aplikasi, melainkan yang tahu kapan harus berhenti, mampu memilah informasi, dan menghargai manusia di balik layar.

Dan di situlah seni parenting bekerja: tenang, konsisten, dan penuh kehadiran.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Pola asuh digital #parenting era digital #batasan gadget anak #screen time anak #anak dan gawai #Parenting gen z