RADARBONANG.ID — Pukul sepuluh pagi, sebuah kafe di pusat kota Tuban belum sepenuhnya ramai. Namun di beberapa sudut, laptop sudah menyala. Kabel charger menjuntai di bawah meja, sementara secangkir kopi perlahan mendingin.
Tak ada rapat tatap muka. Tak ada seragam kantor. Yang ada hanya layar, koneksi internet, dan tenggat waktu.
Inilah potret Work From Café (WFC), pola kerja yang kian akrab di kalangan anak muda. Bukan sekadar mengikuti tren, WFC menjadi pilihan sadar untuk mencari suasana kerja yang terasa lebih hidup dan manusiawi.
“Kalau di rumah gampang terdistraksi. Di kafe justru lebih fokus,” ujar Dito (25), pekerja remote di bidang desain grafis.
Baca Juga: Boiyen Rayakan Ulang Tahun dengan Air Mata di Tengah Kasus Suami
Bekerja Tanpa Merasa Terisolasi
Fenomena WFC lahir dari kejenuhan.
Setelah lama menjalani work from home dengan segala fleksibilitasnya, banyak pekerja muda menyadari satu hal: bekerja sendirian di rumah, terus-menerus, juga melelahkan secara mental.
Kafe menawarkan jalan tengah.
Ada keramaian, tapi tak memaksa interaksi. Ada suara, namun bukan kebisingan yang mengganggu. Suasana ini membuat otak tetap “terjaga” tanpa merasa tertekan.
Sejumlah riset psikologi kerja menunjukkan, tingkat kebisingan ringan—seperti percakapan samar di kafe—dapat membantu meningkatkan fokus dan kreativitas. Otak merasa aktif, tetapi tetap aman.
Kopi, WiFi, dan Ilusi “Berangkat Kerja”
Bagi Gen Z, WFC bukan hanya soal tempat, melainkan ritual.
Memesan kopi, memilih meja, lalu membuka laptop menjadi penanda psikologis bahwa hari kerja dimulai. Ada batas yang jelas antara waktu pribadi dan waktu produktif.
“Kalau WFC rasanya kayak kerja beneran. Ada niatnya,” kata Sari (23), penulis konten lepas.
Menyadari peluang ini, banyak kafe mulai beradaptasi. Stop kontak diperbanyak, WiFi dipercepat, bahkan tersedia meja panjang khusus pekerja.
Kafe perlahan bertransformasi dari ruang nongkrong menjadi ruang kerja alternatif.
Ekonomi Kreatif Ikut Bergerak
Tumbuhnya WFC sejalan dengan meningkatnya jumlah pekerja digital dan ekonomi kreatif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tren kenaikan pekerja informal dan berbasis digital dalam beberapa tahun terakhir.
Pola kerja pun tak lagi terikat ruang kantor. Kafe, secara tak langsung, ikut menyesuaikan diri dengan perubahan ini. Tak heran, hari kerja yang dulu sepi kini justru dipenuhi laptop dan earphone.
Produktif atau Sekadar Estetik?
Meski tampak ideal, WFC tetap menyimpan tantangan.
Biaya kopi yang kecil tapi rutin, godaan berpindah kafe, hingga rasa sungkan berlama-lama di satu tempat menjadi hal yang kerap dirasakan.
Belum lagi soal teknis: musik terlalu keras, meja kurang nyaman, atau WiFi yang tiba-tiba melambat.
Tak semua orang cocok dengan pola ini. Psikolog kerja menekankan bahwa produktivitas sangat personal. Ada yang fokus di tengah keramaian, ada pula yang justru membutuhkan sunyi total.
Pilihan, Bukan Kewajiban
Kini, banyak anak muda memandang WFC dengan lebih realistis.
Bukan gaya hidup yang wajib dipamerkan, melainkan opsi kerja yang dipilih sesuai kebutuhan.
Kadang di kafe, Kadang di rumah, Kadang di mana pun, asal pikiran tenang.
Pada akhirnya, work from café bukan tentang kopi mahal atau foto estetik di media sosial. Melainkan tentang mencari ruang kerja yang membuat hidup terasa seimbang, bukan sekadar menyelesaikan tugas.
Di era kerja yang makin cair, barangkali itulah definisi produktivitas yang paling masuk akal.
Editor : Muhammad Azlan Syah