Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Capek Tapi Nggak Bisa Offline: Tantangan Digital Wellbeing Anak Zaman Now

Widodo • Kamis, 15 Januari 2026 | 07:05 WIB

Selalu online, tapi makin lelah. Di tengah notifikasi tanpa henti, digital wellbeing jadi kunci agar anak muda tetap waras di era layar
Selalu online, tapi makin lelah. Di tengah notifikasi tanpa henti, digital wellbeing jadi kunci agar anak muda tetap waras di era layar

RADARBONANG.ID — Ponsel ada di tangan, tapi pikiran melayang entah ke mana. Niatnya cuma scroll sebentar, tahu-tahu satu jam berlalu. Ingin istirahat, tapi notifikasi terus berdatangan tanpa jeda.

Begitulah potret keseharian banyak anak muda hari ini. Hidup di era digital memang serba mudah dan cepat, namun diam-diam menguras energi mental.

Di balik koneksi instan dan aplikasi canggih, muncul satu isu yang kian relevan: digital wellbeing.

Ini bukan ajakan memusuhi teknologi, apalagi hidup tanpa internet. Digital wellbeing berbicara tentang bagaimana tetap waras dan seimbang di dunia yang nyaris tak pernah benar-benar berhenti.

Baca Juga: Bill Gates Tunjuk Sri Mulyani Jadi Pimpinan Gates Foundation, Perkuat Misi Kesehatan dan Pengentasan Kemiskinan

Terjebak di Dunia yang Selalu Online

Bagi Gen Z, online bukan lagi aktivitas tambahan—melainkan kondisi hidup. Bangun tidur mengecek ponsel, bekerja di depan layar, mencari hiburan juga lewat layar. Bahkan saat beristirahat, layar tetap menyala.

Masalahnya, otak manusia tidak dirancang untuk menerima rangsangan tanpa henti. Paparan layar berlebihan dapat memicu kelelahan mental, gangguan tidur, hingga penurunan kualitas hidup.

World Health Organization (WHO) mencatat bahwa penggunaan gawai berlebihan berkaitan erat dengan masalah kesehatan mental, terutama pada kelompok usia muda.

“Kadang capek, tapi takut ketinggalan info,” ujar Aldi (24), pekerja lepas yang hidupnya sangat bergantung pada notifikasi digital.

Fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO)—ketakutan tertinggal yang membuat seseorang sulit benar-benar offline.

Overload Informasi, Pikiran Ikut Lelah

Setiap hari, linimasa dipenuhi berita, opini, tren, dan drama. Tanpa disadari, otak dipaksa memproses terlalu banyak informasi sekaligus.

Akibatnya, fokus menurun, emosi lebih mudah terpancing, dan rasa cemas muncul meski tanpa sebab jelas.

American Psychological Association (APA) menyebut konsumsi digital berlebihan dapat meningkatkan stres dan kecemasan, terutama pada usia produktif.

Ironisnya, banyak orang membuka ponsel untuk mencari hiburan, namun justru pulang dengan pikiran yang semakin ruwet.

Kerja Fleksibel, Tapi Tak Pernah Benar-Benar Usai

Teknologi memang membuat kerja lebih fleksibel. Namun di sisi lain, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur.

Pesan kerja masuk di malam hari. Email datang saat akhir pekan. Dan muncul rasa bersalah jika tak segera membalas.

Digital wellbeing menantang kita untuk kembali menetapkan batas yang jelas: kapan harus produktif, kapan berhak sepenuhnya beristirahat. Tanpa batas itu, burnout hanya soal waktu.

Media Sosial dan Tekanan Sosial Baru

Di media sosial, hidup orang lain terlihat selalu rapi dan bahagia. Karier menanjak, pencapaian berderet, senyum tak pernah hilang. Padahal itu hanya potongan kecil dari kenyataan.

Perbandingan sosial yang terus-menerus dapat menggerus kepercayaan diri. Studi dari Pew Research Center menunjukkan banyak anak muda menyadari dampak media sosial terhadap kesehatan mental—baik positif maupun negatif.

Masalahnya bukan pada platformnya, melainkan pada cara kita mengonsumsinya.

Baca Juga: Lesti Kejora Dihitung Per Menit Sekali Manggung, Begini Fakta Uang yang Diraih Penyanyi Dangdut Ternama

Menemukan Seimbang di Tengah Arus Digital

Digital wellbeing bukan soal menghapus aplikasi atau menolak teknologi. Yang dibutuhkan adalah perubahan kebiasaan.

Mulai dari hal sederhana:

Langkah kecil, tapi berdampak besar.

Karena hidup bukan sekadar respons cepat dan pembaruan linimasa. Ada tubuh yang butuh istirahat. Ada pikiran yang perlu sunyi.

Dan di era digital yang serba bising, kemampuan untuk berhenti sejenak justru menjadi bentuk kekuatan baru.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#kecanduan gadget #digital wellbeing #kesehatan mental digital #screen time berlebihan #gen z dan teknologi