RADARBONANG.ID — Ponsel ada di tangan, tapi pikiran melayang entah ke mana. Niatnya cuma scroll sebentar, tahu-tahu satu jam berlalu. Ingin istirahat, tapi notifikasi terus berdatangan tanpa jeda.
Begitulah potret keseharian banyak anak muda hari ini. Hidup di era digital memang serba mudah dan cepat, namun diam-diam menguras energi mental.
Di balik koneksi instan dan aplikasi canggih, muncul satu isu yang kian relevan: digital wellbeing.
Ini bukan ajakan memusuhi teknologi, apalagi hidup tanpa internet. Digital wellbeing berbicara tentang bagaimana tetap waras dan seimbang di dunia yang nyaris tak pernah benar-benar berhenti.
Terjebak di Dunia yang Selalu Online
Bagi Gen Z, online bukan lagi aktivitas tambahan—melainkan kondisi hidup. Bangun tidur mengecek ponsel, bekerja di depan layar, mencari hiburan juga lewat layar. Bahkan saat beristirahat, layar tetap menyala.
Masalahnya, otak manusia tidak dirancang untuk menerima rangsangan tanpa henti. Paparan layar berlebihan dapat memicu kelelahan mental, gangguan tidur, hingga penurunan kualitas hidup.
World Health Organization (WHO) mencatat bahwa penggunaan gawai berlebihan berkaitan erat dengan masalah kesehatan mental, terutama pada kelompok usia muda.
“Kadang capek, tapi takut ketinggalan info,” ujar Aldi (24), pekerja lepas yang hidupnya sangat bergantung pada notifikasi digital.
Fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO)—ketakutan tertinggal yang membuat seseorang sulit benar-benar offline.
Overload Informasi, Pikiran Ikut Lelah
Setiap hari, linimasa dipenuhi berita, opini, tren, dan drama. Tanpa disadari, otak dipaksa memproses terlalu banyak informasi sekaligus.
Akibatnya, fokus menurun, emosi lebih mudah terpancing, dan rasa cemas muncul meski tanpa sebab jelas.
American Psychological Association (APA) menyebut konsumsi digital berlebihan dapat meningkatkan stres dan kecemasan, terutama pada usia produktif.
Ironisnya, banyak orang membuka ponsel untuk mencari hiburan, namun justru pulang dengan pikiran yang semakin ruwet.
Kerja Fleksibel, Tapi Tak Pernah Benar-Benar Usai
Teknologi memang membuat kerja lebih fleksibel. Namun di sisi lain, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur.
Pesan kerja masuk di malam hari. Email datang saat akhir pekan. Dan muncul rasa bersalah jika tak segera membalas.
Digital wellbeing menantang kita untuk kembali menetapkan batas yang jelas: kapan harus produktif, kapan berhak sepenuhnya beristirahat. Tanpa batas itu, burnout hanya soal waktu.
Media Sosial dan Tekanan Sosial Baru
Di media sosial, hidup orang lain terlihat selalu rapi dan bahagia. Karier menanjak, pencapaian berderet, senyum tak pernah hilang. Padahal itu hanya potongan kecil dari kenyataan.
Perbandingan sosial yang terus-menerus dapat menggerus kepercayaan diri. Studi dari Pew Research Center menunjukkan banyak anak muda menyadari dampak media sosial terhadap kesehatan mental—baik positif maupun negatif.
Masalahnya bukan pada platformnya, melainkan pada cara kita mengonsumsinya.
Menemukan Seimbang di Tengah Arus Digital
Digital wellbeing bukan soal menghapus aplikasi atau menolak teknologi. Yang dibutuhkan adalah perubahan kebiasaan.
Mulai dari hal sederhana:
-
Menyadari durasi screen time
-
Mengatur notifikasi seperlunya
-
Berani offline tanpa rasa bersalah
-
Menyediakan jeda tanpa layar
Langkah kecil, tapi berdampak besar.
Karena hidup bukan sekadar respons cepat dan pembaruan linimasa. Ada tubuh yang butuh istirahat. Ada pikiran yang perlu sunyi.
Dan di era digital yang serba bising, kemampuan untuk berhenti sejenak justru menjadi bentuk kekuatan baru.
Editor : Muhammad Azlan Syah