RADARBONANG.ID — Pemandangan ini kian akrab di banyak rumah: anak duduk anteng menatap layar gawai, sementara orang tua merasa punya waktu bernapas sejenak.
Di satu sisi, teknologi memang membantu—anak terhibur, belajar, bahkan berkomunikasi. Namun di sisi lain, muncul kegelisahan yang sulit diabaikan.
Apakah waktu layarnya kebanyakan? Apakah kontennya aman? Apakah orang tua terlalu membiarkan?
Di era digital, pola pengasuhan tidak lagi hitam-putih. Parenting bukan sekadar soal boleh atau tidak boleh menggunakan gawai, melainkan bagaimana orang tua hadir dan mendampingi.
Tantangannya nyata, dan solusi yang dibutuhkan pun harus realistis, bukan ideal versi teori semata.
Baca Juga: Ciplukan Jadi Trending Topic X, Ini Manfaat dan Alasan Harganya Mahal
Screen Time yang Mudah Kebablasan
Gawai kini hadir hampir di setiap aspek kehidupan anak: belajar, hiburan, hingga komunikasi.
Tanpa batas yang jelas, waktu layar dengan mudah melampaui kebutuhan dan mulai berdampak pada kualitas tidur, fokus belajar, hingga emosi anak.
Pendekatan yang efektif bukanlah larangan total, melainkan aturan yang kontekstual.
Orang tua dapat membedakan aturan antara hari sekolah dan akhir pekan, menetapkan jam bebas gawai sebelum tidur, serta menjelaskan alasan di balik aturan tersebut. Anak cenderung lebih patuh ketika merasa dilibatkan, bukan ditakuti.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri merekomendasikan pembatasan screen time sesuai usia anak dan menekankan pentingnya aktivitas fisik serta tidur yang berkualitas untuk tumbuh kembang optimal.
Konten yang Tak Selalu Ramah Usia
Tantangan berikutnya adalah konten digital. Algoritma tidak mengenal usia atau kesiapan emosional anak.
Satu klik saja bisa membawa mereka ke video atau informasi yang belum tentu dapat dipahami dengan baik.
Karena itu, orang tua perlu melek platform. Mengaktifkan fitur kontrol orang tua, memilih aplikasi yang ramah anak, serta mendampingi saat anak menonton menjadi langkah penting.
Pendampingan sederhana—seperti duduk bersama dan menanyakan apa yang ditonton—dapat membantu anak merasa aman dan terbuka.
UNICEF menekankan pentingnya guided screen time, yakni waktu layar yang disertai pendampingan orang dewasa, bukan anak dibiarkan sendirian di dunia digital.
Distraksi dan Fokus yang Menurun
Notifikasi yang terus berdatangan membuat anak mudah terdistraksi. Banyak orang tua mengeluhkan anak cepat bosan, sulit fokus, dan terbiasa berpindah aktivitas dalam waktu singkat.
Solusinya adalah menciptakan ritme offline di rumah. Menjadwalkan waktu tanpa layar untuk membaca, bermain fisik, atau sekadar berbincang dapat membantu anak melatih konsentrasi.
Aktivitas sederhana yang dilakukan secara rutin jauh lebih efektif dibanding aturan ketat yang tidak konsisten.
American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan keseimbangan antara penggunaan media digital dan interaksi langsung agar perkembangan sosial dan emosional anak tetap sehat.
Jarak Emosional di Dalam Rumah
Ironisnya, teknologi yang menghubungkan dunia justru bisa menciptakan jarak di dalam rumah. Anak sibuk dengan layarnya, orang tua pun tak jarang tenggelam dalam ponsel masing-masing.
Perubahan bisa dimulai dari teladan. Meletakkan ponsel saat makan bersama, menatap mata anak ketika mereka bercerita, dan hadir sepenuhnya meski sebentar memiliki dampak besar.
Kehadiran yang utuh lebih bermakna daripada waktu lama yang dijalani setengah hati.
Tekanan Sosial dan Perbandingan
Media sosial juga membawa standar baru dalam pengasuhan. Anak orang lain terlihat lebih cepat pintar, lebih aktif, atau lebih berprestasi. Tanpa disadari, orang tua ikut terbawa arus perbandingan.
Padahal, setiap anak memiliki ritme perkembangan yang berbeda.
Fokus pada proses dan kebutuhan anak sendiri jauh lebih penting daripada mengejar pencapaian yang tampak di layar. Parenting bukan perlombaan, melainkan perjalanan jangka panjang.
Orang Tua Juga Bisa Kewalahan
Tak sedikit orang tua merasa tertinggal teknologi dan kelelahan menghadapi tantangan parenting digital. Kondisi ini wajar. Orang tua pun manusia yang butuh dukungan.
Belajar secara bertahap, berdiskusi dengan sesama orang tua, guru, atau tenaga profesional dapat membantu.
Orang tua yang sehat secara mental akan lebih mampu mendampingi anak dengan sabar dan konsisten.
Seni Mengasuh di Era Digital
Pada akhirnya, parenting digital adalah seni, bukan rumus pasti. Akan ada proses mencoba, keliru, lalu memperbaiki.
Anak tidak membutuhkan orang tua yang paling paham teknologi, tetapi orang tua yang mau hadir, konsisten, dan terus belajar.
Di balik layar yang terus menyala, ada anak yang ingin diperhatikan dan dipahami—itulah inti dari pengasuhan di zaman digital.
Editor : Muhammad Azlan Syah