RADARBONANG.ID — Di tengah linimasa media sosial yang dipenuhi unggahan pencapaian, liburan estetik, dan potret hidup yang tampak “sempurna”, muncul fenomena yang bergerak ke arah sebaliknya.
Semakin banyak anak muda, khususnya dari generasi Z, yang jarang memperbarui media sosial, memilih hidup lebih tenang, dan enggan memamerkan keseharian mereka ke ruang publik digital.
Fenomena ini dikenal sebagai low profile lifestyle. Gaya hidup ini bukan menandakan hidup yang sepi, apalagi kurang bahagia.
Justru sebaliknya, banyak yang memilih jalur ini karena mulai lebih selektif: mana yang perlu dibagikan, dan mana yang cukup dinikmati sendiri.
Baca Juga: Ciplukan Jadi Trending Topic X, Ini Manfaat dan Alasan Harganya Mahal
Bagi Gen Z, keputusan untuk jarang update bukanlah bentuk pelarian, melainkan kesadaran.
Dari Budaya Pamer ke Menjaga Energi
Beberapa tahun lalu, mengunggah story hampir menjadi refleks otomatis.
Makan di tempat baru, ngopi cantik, lembur di kantor, hingga sekadar duduk di kafe, semuanya terasa layak dibagikan. Media sosial menjadi semacam album harian yang selalu diperbarui.
Namun kini, sebagian anak muda mulai mempertanyakan kebiasaan itu. Perlu atau tidak? Penting atau sekadar impuls?
Bagi penganut low profile lifestyle, setiap unggahan memiliki “biaya” tersendiri. Bukan hanya soal kuota atau waktu, tetapi juga energi mental.
Komentar, perbandingan sosial, hingga ekspektasi dari orang lain sering kali datang bersamaan dengan satu unggahan sederhana. Pada titik tertentu, diam justru dipilih sebagai bentuk perlindungan diri.
Tidak semua momen harus diketahui publik, dan tidak semua kebahagiaan perlu pembuktian.
Bahagia Tanpa Validasi Digital
Perubahan paling mencolok dari tren ini terlihat dari cara Gen Z memaknai kebahagiaan.
Jika sebelumnya rasa senang terasa lebih sah ketika diiringi like, view, atau komentar positif, kini banyak yang merasa cukup tanpa validasi digital.
Mereka tetap menikmati hidup: berjalan-jalan, berkumpul dengan teman, mengejar hobi, dan merayakan pencapaian pribadi.
Bedanya, semua itu tidak selalu diabadikan dan dipamerkan. Bahagia menjadi pengalaman personal, bukan performa di hadapan audiens.
“Bukan anti sosial, tapi ingin hadir sepenuhnya di momen,” menjadi prinsip tak tertulis yang banyak dianut. Tanpa kamera dan notifikasi, perhatian bisa benar-benar tertuju pada pengalaman itu sendiri.
Relasi yang Lebih Sehat dengan Media Sosial
Low profile lifestyle juga mengubah cara Gen Z berinteraksi dengan media sosial. Mereka tidak sepenuhnya meninggalkan platform digital, tetapi menggunakannya dengan lebih sadar dan terkontrol.
Sebagian memilih akun privat, sebagian lain hanya aktif sebagai penonton.
Ada pula yang membatasi waktu layar atau hanya mengunggah konten saat benar-benar ingin berbagi, bukan karena takut tertinggal tren atau merasa wajib eksis.
Dengan cara ini, media sosial kembali ke fungsi dasarnya: alat, bukan pusat kehidupan. Tekanan untuk selalu terlihat produktif, bahagia, dan sukses perlahan berkurang.
Bukan Menarik Diri, Tapi Menyederhanakan Hidup
Penting untuk digarisbawahi, low profile lifestyle bukan berarti menarik diri dari dunia. Anak muda tetap bersosialisasi, bekerja, dan berkarya.
Perbedaannya terletak pada pilihan untuk tidak menjadikan semua itu konsumsi publik.
Lingkaran pertemanan pun cenderung menyempit, tetapi menjadi lebih bermakna. Interaksi terasa lebih intim, obrolan lebih jujur, dan waktu bersama dijalani dengan kehadiran penuh.
Dalam kesederhanaan itu, banyak yang justru merasa hidupnya lebih utuh dan seimbang.
Alih-alih mengejar pengakuan luas, mereka memilih koneksi yang nyata.
Baca Juga: Trump Klaim Dirinya Presiden Sementara Venezuela di Truth Social
Lahir dari Kelelahan Digital
Low profile lifestyle tumbuh dari kelelahan kolektif terhadap budaya pamer, kompetisi halus, dan tuntutan untuk selalu terlihat “baik-baik saja”.
Di dunia yang semakin bising dan serba terbuka, pilihan untuk jarang update menjadi bentuk perlawanan yang sunyi.
Bagi Gen Z, ini bukan tentang menghilang, melainkan menjaga kewarasan. Dan mungkin, di era ketika segalanya bisa dibagikan, hidup yang tenang dan tidak dipertontonkan justru menjadi kemewahan baru.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah