RADARBONANG.ID – Banyak Gen Z merasa gaya hidupnya sudah cukup sederhana. Jarang membeli barang mahal, tidak impulsif belanja besar, bahkan sering merasa hanya “jajan dikit”.
Namun kenyataannya, saldo rekening kerap menipis lebih cepat dari perkiraan. Gaji baru masuk, belum pertengahan bulan, dompet sudah terasa kosong.
Fenomena jajan kecil tapi sering kini menjadi pola umum di kalangan anak muda. Nominalnya tampak sepele, mulai dari Rp15 ribu hingga Rp30 ribu.
Sekilas tidak terasa berat. Namun karena dilakukan hampir setiap hari, bahkan beberapa kali dalam sehari, pengeluaran ini diam-diam menggerogoti keuangan.
Baca Juga: Regulasi Berubah dan Waktu Sempit, Puluhan BUMDes Tuban Gagal Kelola Modal Ketahanan Pangan
Jajan Kecil yang Terasa Tidak Mengganggu
Kopi susu di pagi hari, camilan siang, dessert sore, lalu pesan minuman malam. Semua terasa wajar dan pantas sebagai “hadiah kecil” untuk diri sendiri. Apalagi harganya jauh dari kategori mahal.
Dibanding membeli sepatu atau gawai baru yang butuh pertimbangan panjang, jajan harian sering lolos tanpa pikir panjang.
Justru di sinilah masalahnya. Pengeluaran kecil yang berulang jarang terasa sebagai beban. Karena nominalnya rendah, otak menganggapnya tidak signifikan, padahal jika dikumpulkan, nilainya bisa mengejutkan.
Efek Psikologis: Murah Dianggap Aman
Secara psikologis, banyak Gen Z menganggap pengeluaran di bawah Rp50 ribu sebagai sesuatu yang aman dan tidak perlu dicatat.
Ada batas imajiner di kepala bahwa selama nominalnya kecil, tidak masalah. Padahal, jika jajan Rp20 ribu dilakukan empat kali sehari, jumlahnya bisa mencapai Rp80 ribu. Dalam sebulan, angka ini setara dengan cicilan atau tagihan tetap.
Inilah jebakan psikologisnya. Otak lebih mudah memaafkan banyak pengeluaran kecil dibanding satu pengeluaran besar, meskipun totalnya sama atau bahkan lebih besar.
Budaya Nongkrong yang Sulit Dipisahkan dari Jajan
Gaya hidup nongkrong juga berperan besar. Nongkrong tanpa jajan sering terasa janggal. Duduk di kafe hampir selalu diiringi minum atau camilan.
Bahkan saat tidak lapar, pesan minuman dianggap sebagai “tiket masuk” untuk bisa berlama-lama.
Tekanan sosial turut memperkuat kebiasaan ini. Tidak sedikit Gen Z merasa tidak enak jika ikut nongkrong tapi tidak memesan apa pun. Akhirnya, jajan menjadi kebiasaan sosial, bukan lagi soal kebutuhan.
Pembayaran Digital Membuat Uang Terasa Abstrak
Sistem pembayaran cashless membuat uang terasa semakin tidak nyata. Tinggal tap, scan, atau klik, transaksi selesai.
Tidak ada sensasi fisik uang berpindah tangan. Secara emosional, pengeluaran terasa ringan, meski secara finansial tetap menguras saldo.
Karena tidak melihat uang keluar secara langsung, banyak orang baru sadar jumlah pengeluaran ketika saldo sudah menipis. Di titik ini, biasanya muncul pertanyaan klasik: ke mana perginya uang?
Self-Reward yang Terlalu Sering
Bagi banyak Gen Z, jajan juga berfungsi sebagai self-reward. Sedikit lelah, jajan. Stres ringan, pesan makanan.
Hari terasa berat, kopi jadi pelarian. Self-reward sebenarnya tidak salah dan justru penting untuk kesehatan mental.
Masalah muncul ketika self-reward dilakukan terlalu sering tanpa batas yang jelas. Perlahan, jajan bukan lagi hadiah, melainkan kebiasaan otomatis setiap kali emosi naik turun.
Kenapa Akhirnya Selalu Boncos?
Uang habis bukan karena satu keputusan besar, melainkan ratusan keputusan kecil yang dianggap sepele.
Jajan kecil jarang masuk dalam daftar anggaran, sehingga tidak terasa sebagai pengeluaran serius. Tanpa disadari, total jajan bisa mengalahkan tabungan, bahkan kebutuhan pokok.
Solusinya Bukan Berhenti Jajan
Melarang diri untuk jajan total sering kali tidak realistis dan berujung gagal. Pendekatan yang lebih masuk akal adalah menyadari polanya.
Menentukan batas jajan harian, memilih hari tanpa jajan, atau mengganti nongkrong mahal dengan opsi yang lebih sederhana.
Bukan soal pelit, melainkan soal sadar dan mengendalikan kebiasaan.
Pelan-pelan Lebih Aman
Di tengah tekanan hidup dan tuntutan produktivitas, wajar jika Gen Z mencari pelarian kecil. Namun jika tidak dikontrol, kebiasaan ini justru bisa menjadi sumber stres baru, terutama secara finansial.
Mungkin pertanyaannya bukan lagi “kenapa uang cepat habis?”, melainkan berapa banyak jajan kecil yang selama ini kita anggap tidak berarti.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah