RADARBONANG.ID - Kontroversi baru kembali memanas di jagat musik Indonesia setelah sebuah lagu yang diduga merupakan balasan terhadap karya legendaris band Slank menjadi viral di media sosial.
Lagu berjudul Tak Diberi Tulang Lagi tersebar luas di berbagai platform, terutama TikTok, dengan narasi yang menyebut karya itu sebagai sindiran terhadap karya terbaru Slank, Republik Fufufafa.
Namun, klarifikasi langsung datang dari pihak yang namanya dicatut: Kuburan Band.
Baca Juga: Quiet Luxury: Gaya Hidup Mewah Tanpa Logo yang Diam-Diam Digemari
Lagu Viral yang Diperdebatkan
Beberapa pengguna media sosial dengan cepat membagikan potongan lagu Tak Diberi Tulang Lagi, mengklaim bahwa lagu tersebut merupakan sebuah “jawaban” atau kritik balik terhadap Slank atas rilisan mereka yang baru saja dirilis menjelang akhir tahun lalu.
Lagu Slank, Republik Fufufafa, sendiri terkenal sebagai karya yang membawa tema sosial-politik yang kuat, menjadi perbincangan luas di kalangan penggemar musik tanah air.
Namun, kubu Kuburan Band dengan tegas membantah klaim tersebut. Band yang dikenal dengan gaya unik dan nama yang nyentrik ini menegaskan bahwa lagu yang beredar itu bukanlah karya mereka, melainkan hasil produksi teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang dibuat oleh pihak lain tanpa persetujuan mereka.
Klarifikasi dari Kuburan Band
Vokalis Kuburan Band, Resa Rizkyan, menyatakan lewat kanal resmi mereka bahwa lagu Tak Diberi Tulang Lagi sama sekali bukan bagian dari katalog resmi band.
Bahkan, lagu tersebut tidak ditemukan dalam saluran distribusi musik digital resmi seperti platform streaming.
Menurut Resa, lagu itu mudah dikenali sebagai hasil produksi AI karena karakter musik dan gaya vokalnya yang berbeda secara signifikan dari karakter khas Kuburan Band.
Resa juga meminta para netizen untuk lebih berhati-hati dalam menyebarkan konten yang belum jelas asal-usulnya.
“Boleh bantu viralkan lagu baru Kuburan yang berjudul Ajeng, bukan lagu yang viral di TikTok, yang hoaks karena itu lagu AI,” ujar Resa melalui postingannya.
Pernyataan ini menunjukkan upaya band untuk meluruskan kesalahpahaman yang sudah meluas ke publik musik online.
Reaksi Personil Kuburan Band
Selain vokalis, anggota lain Kuburan Band juga angkat suara. Denny Rahmat Ramdani, sang bassist, mengungkapkan bahwa sejak awal ketika mendengar lagu tersebut, mereka sudah curiga karena terdapat karakteristik yang “terlalu sempurna” dan tidak lazim untuk produksi musik manusia biasa.
Ia menegaskan bahwa ada kemungkinan besar lagu itu adalah produk AI.
Gitaris band, Raka Auliantara, menambahkan bahwa teknik permainan musik dalam lagu itu terlalu rapi, sehingga semakin menguatkan dugaan bahwa audio itu dihasilkan oleh sistem komputer, bukan rekaman band sungguhan.
Ungkapan ini menunjukkan bagaimana para musisi profesional dapat membedakan antara karya manusia dan produksi berbasis AI.
DM ke Kaka Slank untuk Klarifikasi Cepat
Tak ingin isu yang tidak jelas asal-usulnya berkembang lebih jauh, pihak Kuburan Band langsung menghubungi vokalis Slank, Kaka, melalui pesan langsung di Instagram.
Mereka ingin memastikan bahwa kesalahpahaman ini tidak merusak hubungan baik antar-musisi yang selama ini terjalin.
Menurut pernyataan kubu Kuburan Band, Kaka menyambut baik klarifikasi tersebut dan menunjukkan sikap yang santai.
Bahkan, Kaka memahami bahwa lagu yang viral itu jelas merupakan karya AI dan bukan merupakan upaya nyata dari Kuburan Band untuk menyerang atau menanggapi karya Slank secara langsung.
Ia juga sempat meminta maaf karena nama Kuburan Band ikut terseret dalam kontroversi ini, yang berpotensi mengganggu promosi lagu terbaru mereka sendiri.
Fenomena AI dalam Dunia Musik
Kontroversi ini menunjukkan bagaimana teknologi AI kini menjadi fenomena yang semakin berpengaruh di dunia musik dan budaya digital.
Meski bisa memberi peluang besar dalam kreativitas, teknologi ini juga berpotensi disalahgunakan untuk membuat karya yang tampak asli dan menimbulkan kesalahpahaman.
Baca Juga: Jalan Sendiri Bukan Kesepian: Tren Solo Date di Kalangan Anak Muda
Banyak musisi bahkan menyebut karakter produksi AI mudah dikenali bagi telinga profesional, tetapi bagi publik umum, hal ini dapat memicu kebingungan dan konflik yang tidak perlu.
Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa di era digital, penting untuk selalu melakukan verifikasi terhadap informasi yang viral, terutama yang menyangkut karya seni dan identitas kreator yang sebenarnya.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah