RADARBONANG.ID — Dulu, satu akun media sosial sudah dianggap cukup untuk mewakili kehidupan digital seseorang.
Kini, situasinya berubah drastis. Memasuki 2026, memiliki akun kedua, ketiga, bahkan keempat bukan lagi sesuatu yang aneh. Bagi banyak orang, justru itulah bentuk adaptasi paling masuk akal.
Satu akun dipakai untuk urusan kerja dan citra profesional. Satu akun lain untuk teman dekat. Ada pula akun khusus untuk curhat, meluapkan emosi, atau berbagi hal-hal yang tak bisa diungkapkan secara terbuka.
Bahkan, tak sedikit yang menyimpan satu akun lagi hanya untuk menjadi diri sendiri tanpa beban. Fenomena ini perlahan membentuk pola baru dalam kehidupan digital: orang tidak lagi sepenuhnya hidup di satu identitas.
Baca Juga: Jalan Sendiri Bukan Kesepian: Tren Solo Date di Kalangan Anak Muda
Akun Utama sebagai Etalase Kehidupan
Akun utama kini berfungsi layaknya etalase publik. Isinya tertata, aman, dan penuh pertimbangan.
Foto-foto terbaik dipilih dengan cermat, caption dibuat netral, dan pendapat disampaikan tanpa sudut ekstrem.
Banyak pengguna mengakui bahwa akun utama bukan lagi ruang kejujuran, melainkan ruang keamanan.
Aman dari konflik, aman dari salah tafsir, dan aman dari penilaian sosial. Tak heran jika akun ini terasa aktif tetapi dingin. Ramai interaksi, namun minim keintiman emosional.
Akun Kedua sebagai Ruang Bernapas
Berbeda dengan akun utama, akun kedua menjadi ruang yang lebih longgar. Jumlah pengikut lebih sedikit, lingkaran pertemanan lebih sempit, tetapi kontennya jauh lebih personal.
Di sinilah muncul curhat ringan, keluhan soal pekerjaan, foto tanpa filter, hingga pikiran acak yang tidak perlu terlihat “sempurna”.
Akun kedua menjadi ruang bernapas, tempat orang bisa menjadi manusia biasa, bukan versi terbaik yang dituntut algoritma. Menariknya, banyak yang justru merasa lebih jujur di akun kedua dibandingkan di dunia nyata.
Akun Ketiga dan Keempat: Identitas yang Dipisah
Pada 2026, tren ini berkembang lebih jauh dengan hadirnya akun ketiga dan keempat yang memiliki fungsi sangat spesifik.
Ada akun anonim untuk meluapkan emosi, akun khusus hobi yang sangat niche, akun diskusi topik sensitif, hingga akun “rahasia” yang bahkan tidak diketahui oleh teman terdekat.
Ini bukan tentang pamer atau sensasi. Ini tentang mengelola identitas. Di dunia digital yang cepat dan penuh penilaian, memisahkan peran menjadi cara banyak orang menjaga kewarasan.
Tekanan Sosial Digital yang Tak Terlihat
Pertanyaan besarnya: mengapa satu akun terasa tidak lagi cukup? Jawabannya terletak pada tekanan sosial digital yang semakin berat.
Setiap unggahan bisa ditafsirkan beragam, disimpan, disebarkan, atau bahkan dipelintir di luar konteks.
Akibatnya, orang belajar beradaptasi. Bukan dengan menghilang, tetapi dengan membagi diri. Satu identitas untuk publik, satu untuk lingkar aman, dan satu lagi untuk isi kepala yang tidak bisa dibagikan kepada siapa pun.
Bukan Munafik, tapi Adaptif
Sebagian orang memandang banyak akun sebagai tanda kepalsuan. Namun, banyak pula yang melihatnya sebagai strategi bertahan hidup.
Di dunia nyata, manusia juga memiliki banyak peran: sebagai profesional, teman, anak, pasangan, dan individu.
Media sosial hanya memperjelas fragmentasi itu. Yang berubah bukan manusianya, melainkan panggung tempat peran-peran tersebut dimainkan.
Dampak Psikologis: Antara Lega dan Lelah
Memiliki banyak akun memang memberi kelegaan. Emosi bisa tersalurkan, pikiran tidak terus dipendam, dan identitas terasa lebih fleksibel. Namun di sisi lain, mengelola banyak akun juga melelahkan.
Baca Juga: Alpukat Setiap Hari, Apa Pengaruhnya pada Gula Darah dan Berat Badan?
Pengguna harus mengingat peran di tiap akun, menjaga batas agar tidak tertukar, dan hidup dalam beberapa versi diri sekaligus.
Ironisnya, media sosial yang dulu menyatukan kini justru membuat identitas semakin terpecah.
Menuju Era Identitas Digital yang Fleksibel
Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: manusia berubah lebih cepat daripada platform. Selama media sosial belum sepenuhnya aman sebagai ruang jujur, orang akan terus mencari celah.
Akun kedua, ketiga, dan keempat bukan sekadar tren sesaat. Ia mencerminkan kebutuhan manusia modern untuk tetap didengar tanpa harus selalu dinilai.
Dan di 2026, pertanyaannya mungkin bukan lagi mengapa orang punya banyak akun, melainkan bagaimana rasanya hidup hanya dengan satu identitas digital saja. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah