Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Jempol Aktif, Dompet Reaktif: Fenomena Melek Digital tapi Buta Finansial di Kalangan Gen Z

Widodo • Selasa, 30 Desember 2025 | 19:05 WIB

Jempol boleh aktif, tapi dompet jangan reaktif. Melek digital perlu diimbangi literasi finansial yang sehat.
Jempol boleh aktif, tapi dompet jangan reaktif. Melek digital perlu diimbangi literasi finansial yang sehat.

RADARBONANG.ID – Generasi Z kerap disebut sebagai generasi paling melek digital sepanjang sejarah.

Mengedit video, membaca algoritma media sosial, mencari peluang cuan dari platform digital, hingga memanfaatkan teknologi untuk kehidupan sehari-hari dilakukan nyaris tanpa berpikir panjang.

Namun di balik kelincahan jempol dan kecanggihan teknologi, ada satu persoalan yang masih sering luput dari perhatian: pengelolaan uang.

Ironisnya, di tengah arus informasi yang terbuka lebar, literasi finansial justru tertinggal.

Banyak anak muda tahu cara menghasilkan uang, tetapi belum tentu memahami bagaimana mengaturnya.

Akibatnya, penghasilan datang cepat, namun pergi lebih cepat lagi. Scroll media sosial lancar, sementara saldo di dompet digital menipis perlahan.

Baca Juga: Bagaimana Mexico City Hidup di Atas Tapak Kawah Vulkanik Purba Tepepolco

Cashless, Paylater, dan Rasa Aman yang Semu

Kemudahan transaksi digital mengubah cara Gen Z memandang uang. Dompet digital dan pembayaran cashless membuat proses belanja terasa ringan.

Tinggal tap atau klik, transaksi selesai. Tanpa uang fisik berpindah tangan, rasa “kehilangan” uang pun ikut memudar.

Paylater menjadi contoh paling nyata. Di awal, fitur ini terasa sangat membantu. Cicilan kecil terlihat sepele dan tidak memberatkan.

Namun tanpa perhitungan matang, cicilan demi cicilan bisa menumpuk dan berubah menjadi beban di akhir bulan.

Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada cara penggunaannya yang sering kali impulsif.

Banyak anak muda terjebak pada ilusi aman: merasa mampu membayar nanti, tanpa benar-benar menghitung kemampuan keuangan jangka panjang.

Gaya Hidup Digital, Konsumsi Ikut Berlari

Media sosial tidak hanya memengaruhi cara berpikir, tetapi juga pola konsumsi.

Tren viral, rekomendasi influencer, hingga algoritma yang terasa sangat memahami selera pengguna, semuanya mendorong keputusan belanja yang cepat dan emosional.

Belanja tidak lagi didorong oleh kebutuhan, melainkan oleh rasa takut ketinggalan tren.

Kopi kekinian, pakaian terbaru, gadget canggih, hingga langganan aplikasi digital terasa wajar karena sering muncul di linimasa.

Tanpa disadari, pengeluaran kecil yang berulang menjadi lubang besar dalam keuangan pribadi.

Dalam konteks ini, literasi finansial bukan sekadar soal memiliki uang, tetapi tentang kemampuan membuat keputusan yang bijak di tengah godaan digital yang terus datang.

Uang Datang Cepat, Hilang Lebih Cepat

Salah satu keunggulan Gen Z adalah fleksibilitas dalam mencari penghasilan. Freelance, content creator, online shop, hingga berbagai side hustle digital membuka banyak pintu cuan.

Namun, arus uang yang cepat sering kali tidak diimbangi dengan perencanaan.

Tanpa budgeting yang jelas, tanpa dana darurat, dan tanpa tujuan keuangan jangka panjang, uang hanya singgah sebentar.

Gaji atau hasil proyek habis sebelum benar-benar dimanfaatkan untuk masa depan. Pola ini terlihat sepele, tetapi dampaknya bisa panjang jika dibiarkan terus-menerus.

Masalah keuangan hari ini berpotensi menjadi beban serius di kemudian hari.

Mulai Sadar, Tapi Masih Ragu Melangkah

Kabar baiknya, kesadaran tentang pentingnya literasi finansial mulai tumbuh di kalangan Gen Z.

Istilah seperti financial freedom, budgeting, investasi, dan dana darurat semakin sering dibahas di media sosial. Namun, kesadaran ini belum selalu diikuti praktik nyata.

Banyak yang tahu pentingnya menabung, tetapi bingung harus mulai dari mana. Tertarik investasi, tetapi takut salah langkah.

Literasi finansial masih terasa rumit dan menakutkan, padahal seharusnya menjadi bagian dasar dari kehidupan sehari-hari—sedekat notifikasi ponsel.

Baca Juga: Menjelajah Harbin, Kota Es yang Setiap Musim Dingin Jadi Magnet Dunia

Melek Finansial Bukan Soal Kaya Raya

Melek finansial bukan berarti hidup super hemat atau anti jajan. Ini tentang memahami batas kemampuan, menentukan prioritas, dan menyadari konsekuensi dari setiap keputusan keuangan.

Mengelola uang dengan sadar bukan untuk membatasi hidup, tetapi untuk memberi rasa aman di masa depan.

Gen Z tidak kekurangan akses informasi. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berhenti sejenak, mengevaluasi kebiasaan, dan belajar mengelola uang dengan kepala dingin—bukan emosi sesaat.

Di era digital, pintar teknologi saja tidak cukup. Tanpa literasi finansial, dompet akan terus menjadi korban dari jempol yang terlalu aktif.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#cashless dan paylater #keuangan anak muda #gaya hidup digital #buta finansial Gen Z #Gen Z dan literasi finansial