Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Haus Validasi atau Butuh Didengar? Cara Media Sosial Mengubah Rasa Percaya Diri Gen Z

Widodo • Selasa, 30 Desember 2025 | 16:15 WIB

ilustrasi
ilustrasi

RADARBONANG.ID – Di era media sosial, satu notifikasi kecil bisa berdampak besar pada perasaan.

Ketika jumlah like bertambah, suasana hati ikut terangkat. Sebaliknya, saat unggahan sepi respons, muncul rasa ragu, overthinking, bahkan mempertanyakan diri sendiri.

Bagi Gen Z, validasi bukan lagi sekadar istilah dalam buku psikologi, melainkan pengalaman sehari-hari yang hadir setiap kali layar ponsel menyala.

Media sosial telah mengubah cara manusia mendapatkan pengakuan. Jika dulu validasi datang dari keluarga, sahabat, atau lingkungan terdekat, kini pengakuan itu hadir dalam bentuk angka.

Like, komentar, share, dan views menjadi simbol penerimaan sosial yang terlihat jelas dan mudah dibandingkan. Dampaknya terasa cepat, kadang menyenangkan, tapi juga bisa melelahkan secara mental.

Baca Juga: Staycation Jadi Pilihan Favorit: Liburan Hemat atau Sinyal Masyarakat Makin Lelah?

Memahami Arti Validasi di Era Digital

Validasi pada dasarnya adalah kebutuhan manusia untuk merasa diakui, diterima, dan dipahami. Dalam konteks media sosial, validasi diterjemahkan menjadi respons digital dari orang lain.

Angka-angka tersebut kerap dianggap sebagai ukuran popularitas, keberhasilan, bahkan nilai diri.

Masalah mulai muncul ketika validasi eksternal dijadikan satu-satunya tolok ukur kebahagiaan.

Ketika apresiasi orang lain menjadi penentu rasa berharga, individu rentan kehilangan kendali atas emosi dan kepercayaan dirinya sendiri.

Media sosial, yang seharusnya menjadi ruang berekspresi, perlahan berubah menjadi sumber tekanan.

Media Sosial sebagai Panggung dan Cermin

Bagi Gen Z, media sosial adalah panggung besar untuk mengekspresikan opini, karya, pencapaian, hingga sisi rapuh diri. Namun tanpa disadari, media sosial juga berfungsi sebagai cermin pembanding.

Timeline dipenuhi potret hidup orang lain yang tampak sempurna: liburan mewah, pencapaian akademik, karier cemerlang, hingga standar tubuh ideal.

Paparan terus-menerus ini membuat banyak anak muda merasa tertinggal. Validasi pun terasa seperti bukti bahwa diri mereka cukup baik dan layak diakui.

Ketika respons tidak sesuai harapan, muncul rasa cemas, takut diabaikan, dan kehilangan kepercayaan diri.

Di Antara Kebutuhan Diakui dan Rasa Takut Diabaikan

Validasi sejatinya bukan hal negatif. Semua manusia membutuhkannya dalam kadar tertentu.

Namun ketika rasa berharga sepenuhnya bergantung pada jempol orang lain, validasi berubah menjadi beban psikologis.

Tak jarang seseorang menghapus unggahan karena minim interaksi atau merasa gagal hanya karena kontennya tak seramai milik orang lain.

Pada titik ini, media sosial tidak lagi menjadi ruang aman, melainkan arena kompetisi yang melelahkan. Perasaan “cukup” ditentukan oleh respons eksternal, bukan oleh penerimaan diri sendiri.

Kesadaran Baru di Kalangan Gen Z

Menariknya, di tengah derasnya arus validasi digital, Gen Z juga dikenal sebagai generasi yang paling terbuka membicarakan kesehatan mental.

Kesadaran akan pentingnya self-worth, batasan pribadi, dan jeda digital mulai tumbuh.

Sebagian memilih menyembunyikan jumlah like, membatasi waktu layar, atau rehat sementara dari media sosial.

Ada pula yang lebih selektif dalam berbagi, bukan lagi demi pengakuan, tetapi untuk kejujuran dan kenyamanan diri. Perlahan, validasi ditarik kembali ke ruang yang lebih personal: kepuasan atas proses, dukungan orang terdekat, dan penerimaan diri.

Baca Juga: Merasa Tahun Ini Kok Cepat Banget? Ini Fenomena Waktu yang Terasa Singkat

Belajar Memvalidasi Diri Sendiri

Kemampuan memvalidasi diri sendiri menjadi keterampilan penting di era digital. Mengakui perasaan, menghargai usaha, dan menerima kekurangan tanpa menunggu tepuk tangan publik adalah bentuk kesehatan mental yang mulai disadari banyak anak muda.

Tidak semua pencapaian harus diumumkan. Tidak semua kebahagiaan perlu dipamerkan. Kesunyian di layar bukan berarti kegagalan dalam hidup nyata.

Di tengah riuh notifikasi dan algoritma, Gen Z mulai belajar bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh angka.

Media sosial hanyalah alat, bukan penentu harga diri. Dan mungkin, validasi paling penting adalah yang tumbuh perlahan dari dalam diri sendiri—tenang, jujur, dan tidak bergantung pada jempol siapa pun.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Gen Z dan media sosial #validasi digital #validasi media sosial #self worth di era digital #kesehatan mental Gen Z