RADARBONANG.ID – Momen libur Natal dan Tahun Baru selalu dinanti oleh jutaan orang.
Selain jadi kesempatan berkumpul keluarga dan liburan, periode ini juga identik dengan lonjakan aktivitas digital: dari pemesanan tiket perjalanan, belanja online, hingga transaksi keuangan daring yang meningkat drastis.
Sayangnya, di balik euforia itu, ancaman penipuan digital ikut meningkat tajam dan bisa mengintai siapa saja yang kurang waspada.
Tren penipuan siber semakin marak karena pelaku memanfaatkan kondisi libur panjang. Pengguna sering lengah, fokus pada kegiatan akhir tahun, dan kurang memerhatikan keamanan digitalnya.
Modus-modus ini tak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga berpotensi mencuri data pribadi yang sangat sensitif.
1. Promo Tiket Palsu dan Penawaran Paket Liburan Bohong
Salah satu modus paling sering muncul adalah tawaran tiket transportasi atau paket liburan super murah yang tersebar di media sosial, pesan instan, atau iklan daring.
Penawaran tersebut sering menampilkan logo dan tampilan yang tampak profesional seperti agen resmi.
Korban diminta segera melakukan pembayaran karena “kuota terbatas”, tetapi setelah transfer dilakukan, tiket atau paket liburan tak pernah diterima — dan penjual pun menghilang.
Modus seperti ini memanfaatkan semangat liburan yang tinggi dan keterbatasan waktu, sehingga banyak orang tergiur mengambil keputusan cepat.
Penting untuk selalu memastikan bahwa penjual memiliki reputasi yang jelas, ulasan yang bisa diverifikasi, dan alamat fisik atau kontak resmi.
2. Flash Sale dan Belanja Online Palsu
Belanja online menjelang Natal dan Tahun Baru sering disertai promo besar, tetapi di sinilah celah penipuan digital banyak terjadi.
Pelaku membuat situs tiruan yang tampak seperti platform e-commerce populer dan menyebarkan tautan diskon besar melalui pesan atau iklan digital. Korban kemudian diarahkan ke situs palsu dan diminta memasukkan informasi sensitif seperti data kartu kredit atau detail pembayaran.
Akibatnya, bukan barang yang datang, tetapi data pribadi dan finansial korban yang bocor atau disalahgunakan.
Selalu periksa URL resmi dan jangan klik tautan sembarangan dari sumber yang tidak jelas — lebih baik membuka situs resmi platform belanja langsung melalui aplikasi atau mesin pencari.
3. Undian Berhadiah Bohong
Modus lain yang kerap muncul adalah penipuan berbasis undian berhadiah Natal atau Tahun Baru. Pesan singkat, email, atau DM media sosial menjanjikan hadiah uang tunai, gadget, bahkan liburan gratis.
Namun syaratnya sering mencurigakan: meminta verifikasi data pribadi atau biaya administrasi terlebih dahulu. Padahal, undian tersebut tidak pernah resmi diselenggarakan.
Korban yang lengah bisa mengalami kerugian finansial sekaligus kebocoran data sensitif yang sangat berbahaya jika disalahgunakan.
4. Phishing Mengatasnamakan Bank dan Layanan Digital
Jenis penipuan yang juga meningkat selama musim liburan adalah phishing — yakni upaya mendapatkan informasi sensitif dengan menyamar sebagai institusi tepercaya.
Pelaku bisa menghubungi korban melalui telepon, SMS, WhatsApp, atau email dengan alasan seperti masalah akun, transaksi mencurigakan, atau pembaruan sistem.
Tautan atau pesan tersebut mungkin tampak resmi, tetapi jika diklik atau diikuti, korban diminta memasukkan data seperti PIN, kode OTP, atau detail rekening.
Begitu informasi diberikan, pelaku bisa mengambil alih akun perbankan atau dompet digital korban.
5. Social Engineering dan Modus Lainnya
Selain phishing, bentuk penipuan lain yang ikut meningkat adalah social engineering — di mana pelaku berpura-pura menjadi petugas bank atau instansi resmi untuk memancing informasi.
Modus ini bisa berupa panggilan telepon atau pesan yang tampak meyakinkan sehingga korban memberikan data pribadi tanpa sadar.
Baca Juga: Ngapak Banyumasan, Kekayaan Bahasa Jawa yang Punya Akar Sejarah Kuno
Cara Melindungi Diri di Era Digital
Tidak cukup hanya berhati-hati — pengguna perlu menerapkan langkah keamanan yang lebih konkret:
-
Verifikasi sumber sebelum membuka tautan atau memasukkan data pribadi.
-
Gunakan koneksi aman, hindari jaringan Wi-Fi publik ketika bertransaksi.
-
Aktifkan autentikasi dua faktor (2FA) pada akun penting.
-
Periksa secara berkala aktivitas finansial di rekening dan dompet digital.
-
Unduh aplikasi resmi saja dari platform terpercaya untuk transaksi digital.
Selain langkah di atas, beberapa penyedia layanan digital kini memiliki fitur keamanan tambahan, seperti fitur cek risiko penipuan (scam checker) di dompet digital tertentu, yang membantu mendeteksi tautan dan nomor yang mencurigakan sebelum pengguna terjebak.
Editor : Muhammad Azlan Syah