Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Jempol Aktif, Dompet Reaktif: Fenomena Melek Digital tapi Buta Finansial di Kalangan Gen Z

Widodo • Kamis, 25 Desember 2025 | 22:48 WIB

Jempol makin aktif, dompet makin reaktif. Melek digital belum tentu melek finansial—Gen Z mulai diuji soal uang.
Jempol makin aktif, dompet makin reaktif. Melek digital belum tentu melek finansial—Gen Z mulai diuji soal uang.

RADARBONANG.ID – Generasi Z dikenal sebagai generasi paling adaptif terhadap teknologi. Mengedit video, membaca algoritma media sosial, mencari penghasilan dari platform digital, hingga membangun personal branding terasa nyaris refleks.

Namun di balik kecakapan itu, ada satu persoalan yang kerap membuat dahi berkerut: urusan keuangan.

Ironisnya, di tengah akses informasi yang begitu luas dan cepat, literasi finansial justru tertinggal. Banyak Gen Z tahu cara menghasilkan uang, tetapi belum tentu paham cara mengelolanya. Scroll media sosial lancar, tapi saldo perlahan menipis tanpa terasa.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Unik Kampung Jalawastu di Brebes: Bahasa Sunda dan Ritual Ngasa

Cashless, Paylater, dan Ilusi Aman

Perkembangan dompet digital dan sistem pembayaran cashless membuat transaksi terasa semakin ringan.

Tinggal tap, belanja selesai. Tanpa uang fisik berpindah tangan, rasa “kehilangan” uang pun ikut memudar. Inilah ilusi aman yang sering menipu.

Layanan paylater menjadi contoh paling nyata. Awalnya terasa membantu, terutama saat kebutuhan mendesak.

Namun tanpa kontrol, cicilan kecil yang terlihat sepele bisa menumpuk di akhir bulan. Banyak anak muda baru sadar ketika tagihan datang bersamaan.

Masalah utamanya bukan pada teknologi, melainkan cara menggunakannya. Tanpa pemahaman keuangan yang memadai, kemudahan justru berubah menjadi jebakan konsumtif.

Gaya Hidup Digital, Pola Konsumsi Ikut Ngebut

Media sosial tidak hanya membentuk cara berpikir, tetapi juga cara belanja. Tren viral, rekomendasi influencer, hingga algoritma yang terasa “paham selera” mendorong keputusan impulsif. Belanja tak lagi didasarkan pada kebutuhan, melainkan rasa takut tertinggal.

Kopi kekinian, outfit tren terbaru, gadget rilis baru—semuanya terasa wajar karena terus muncul di linimasa.

Padahal, pengeluaran kecil yang dilakukan berulang justru menjadi kebocoran terbesar dalam keuangan.

Literasi finansial sejatinya bukan sekadar soal punya penghasilan, melainkan kemampuan merencanakan, mengelola risiko, dan mengambil keputusan keuangan secara sadar. Tanpa itu, uang hanya menjadi alat pemuas sesaat.

Uang Datang Cepat, Pergi Lebih Cepat

Gen Z memiliki banyak pintu penghasilan. Freelance, content creator, online shop, hingga berbagai side hustle digital membuka peluang cuan sejak usia muda. Sayangnya, arus uang yang cepat sering tidak diimbangi dengan perencanaan.

Tanpa budgeting, tanpa dana darurat, dan tanpa tujuan jangka panjang, uang hanya singgah sebentar. Hari ini ada, besok habis. Pola ini terlihat sepele, tetapi dampaknya bisa panjang jika terus dibiarkan.

Keuangan yang tidak tertata sejak muda berpotensi menjadi beban di masa depan. Bukan karena kurang penghasilan, tetapi karena tidak terbiasa mengelola.

Mulai Sadar, Tapi Belum Sepenuhnya Siap

Kabar baiknya, kesadaran finansial di kalangan Gen Z mulai tumbuh. Istilah seperti financial freedom, budgeting, dan investasi semakin sering dibahas di media sosial. Konten edukasi keuangan pun kian mudah ditemukan.

Namun, kesadaran tanpa praktik hanya berhenti di wacana. Banyak yang tahu pentingnya menabung, tetapi bingung memulai.

Tahu investasi itu perlu, tetapi takut salah langkah. Literasi finansial masih terasa rumit dan menakutkan, padahal seharusnya sedekat notifikasi ponsel.

Baca Juga: Penyanyi Yuni Shara Bagikan Momen Spesial dan Pesan Hangat di Hari Ibu

Melek Finansial Bukan Soal Jadi Kaya

Melek finansial bukan berarti harus hidup super hemat atau anti jajan. Bukan pula soal cepat kaya.

Intinya adalah memahami batas, menentukan prioritas, dan sadar akan konsekuensi dari setiap keputusan keuangan.

Gen Z tidak kekurangan akses informasi. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berhenti sejenak, mengevaluasi kebiasaan konsumsi, dan belajar mengelola uang dengan kepala dingin—bukan emosi sesaat.

Karena di era digital, pintar teknologi saja tidak cukup. Tanpa literasi finansial, dompet akan terus bereaksi terhadap jempol yang terlalu aktif. Dan pada akhirnya, yang kaget bukan hanya saldo, tapi juga masa depan.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#paylater anak muda #literasi finansial Gen Z #gaya hidup digita #Gen Z dan keuangan