RADARBONANG.ID – Di tengah tren fashion yang datang dan pergi, satu gaya justru bertahan dan bahkan makin menguat: outfit oversized.
Ketika siluet ramping dan potongan fit kembali meramaikan etalase, anak muda—terutama Gen Z—tetap setia dengan pakaian longgar yang terkesan santai.
Pertanyaannya, mengapa gaya oversized tak pernah benar-benar ditinggalkan? Jawabannya ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar alasan kenyamanan.
Lebih dari Sekadar Baju Longgar
Outfit oversized memang bukan tren baru. Namun, maknanya kini berkembang. Bagi generasi muda, pakaian longgar bukan hanya soal ukuran, tetapi soal rasa aman dan kebebasan.
Baca Juga: Work-Life Balance Bukan Mitos, Ini Cara Orang Kota Menjaganya
Baju oversized tidak menekan tubuh, tidak memaksa mengikuti standar bentuk tertentu.
Di era ketika penampilan sering menjadi sumber tekanan, gaya ini hadir sebagai perlawanan halus terhadap tuntutan tampil “ideal”.
Pesannya sederhana namun kuat: tubuh tidak harus menyesuaikan baju, baju yang seharusnya mengikuti tubuh.
Nyaman Dipakai, Fleksibel ke Mana Saja
Alasan klasik namun tetap relevan: oversized nyaman. Tapi keunggulannya tak berhenti di situ. Gaya ini juga fleksibel dipakai di berbagai situasi—ke kampus, nongkrong, konser, hingga bekerja dengan suasana santai.
Kaos oversized, hoodie besar, atau kemeja longgar mudah dipadukan dengan jeans, cargo pants, bahkan rok. Satu outfit bisa digunakan untuk banyak agenda. Praktis dan efisien, selaras dengan karakter Gen Z yang cenderung anti ribet.
Cerminan Gaya Hidup Santai
Oversized juga mencerminkan perubahan gaya hidup. Kerja hybrid, kelas online, dan mobilitas tinggi membuat banyak orang memilih pakaian yang nyaman namun tetap pantas tampil di ruang publik.
Gaya ini lekat dengan kesan santai, cuek, tapi tetap terlihat “niat”. Estetika effortless justru menjadi nilai utamanya. Tidak berlebihan, tidak kaku, tapi tetap punya karakter.
Dari Streetwear ke Arus Utama
Awalnya, oversized identik dengan streetwear dan budaya hip-hop. Namun kini, gaya ini sudah menembus arus utama fashion.
Brand global hingga lokal berlomba menghadirkan koleksi oversized dengan potongan yang lebih rapi dan modern.
Peran influencer dan kreator konten juga tak bisa diabaikan. Outfit oversized kerap viral karena terlihat relatable dan mudah ditiru. Tidak membutuhkan tubuh ideal atau teknik styling yang rumit—cukup percaya diri.
Ruang Aman untuk Ekspresi Diri
Bagi sebagian orang, outfit oversized adalah “ruang aman”. Baju longgar memberi rasa percaya diri karena tidak menonjolkan bagian tubuh tertentu.
Di sisi lain, oversized juga menjadi kanvas berekspresi. Mulai dari grafis kaos, layering, hingga permainan aksesori, gaya ini tetap bisa tampil personal meski siluetnya sederhana. Setiap orang bisa memberi sentuhan khasnya sendiri.
Baca Juga: Denny Sumargo Tetap Lakukan Aksi Sosial Meski Dibilang Pencitraan
Tren yang Sulit Mati
Meski tren fashion berputar cepat, oversized punya satu keunggulan utama: relevan lintas zaman. Potongannya mungkin berubah mengikuti era, tetapi esensinya tetap sama—kenyamanan dan kebebasan.
Selama gaya hidup serba cepat dan kebutuhan akan pakaian fungsional masih ada, outfit oversized diprediksi tak akan benar-benar menghilang. Ia mungkin berevolusi, tapi tidak punah.
Bukan Sekadar Gaya, tapi Pilihan Sikap
Hari ini, outfit oversized bukan hanya soal tampilan luar. Ia adalah sikap terhadap tubuh, tekanan sosial, dan standar penampilan yang kerap membebani.
Dalam satu baju longgar, tersimpan pesan tentang penerimaan diri dan kebebasan berekspresi. Dan mungkin, itulah alasan terbesar mengapa banyak anak muda belum siap meninggalkannya.
Editor : Muhammad Azlan Syah