Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Hidup Online ala Gen Z: Bangun Tidur Pegang HP, Tapi Kok Makin Merasa Sendirian?

Defy Maulida Puspaaji • Kamis, 18 Desember 2025 | 16:59 WIB

ilustrasi
ilustrasi

RADARBONANG.ID – Gen Z lahir dan tumbuh di era digital. Internet bukan lagi sekadar alat, melainkan ruang hidup. Namun di balik layar yang selalu menyala, ada lelah yang kerap tak terlihat.

Bagi generasi ini, hidup online bukan pilihan, melainkan kebiasaan yang nyaris otomatis. Bangun tidur, tangan refleks mencari ponsel.

Belum sepenuhnya sadar, notifikasi sudah dibuka, linimasa digeser, pesan dibalas. Dunia digital bergerak lebih cepat daripada dunia nyata. Begitulah keseharian jutaan anak muda hari ini: hidup online, hampir tanpa jeda.

Baca Juga: Kenalan Sama FOMO: Budaya Takut Kudet yang Diam-Diam Menguras Energi Gen Z

Selalu Terhubung, Tapi Tak Pernah Benar-Benar Hadir

Media sosial menjanjikan kedekatan. Chat instan, video singkat, dan reaksi cepat membuat komunikasi terasa mudah. Namun ironisnya, semakin lama terhubung, banyak Gen Z justru merasa semakin jauh dari diri sendiri.

Percakapan ada di mana-mana, tetapi kehadiran terasa kosong. Teman terlihat banyak, namun rasa memiliki tempat pulang semakin menipis.

Fenomena ini bukan sekadar perasaan personal. Curhatan tentang kelelahan mental, kecemasan sosial, hingga rasa kesepian kerap berseliweran di TikTok, X, dan Instagram, disukai ribuan orang yang merasakan hal serupa.

Identitas yang Dibentuk Algoritma

Hidup online turut mengubah cara Gen Z mengenal diri sendiri. Algoritma menentukan apa yang muncul di layar, apa yang dianggap menarik, bahkan apa yang pantas diinginkan.

Yang viral dijadikan standar. Yang sepi dianggap gagal. Tanpa disadari, banyak anak muda mulai mengukur harga diri dari angka—views, likes, dan followers—bukan lagi dari rasa cukup atau bahagia.

“Posting sudah bagus tapi respons sepi rasanya kayak ditolak,” tulis seorang pengguna di X. Kalimat singkat ini mencerminkan betapa emosi kini ikut bergantung pada layar.

Antara Eksistensi dan Tekanan

Bagi Gen Z, eksis di dunia online sering terasa seperti kewajiban. Tidak update dianggap tertinggal. Tidak ikut tren takut kehilangan relevansi.

Di titik inilah tekanan muncul. Hidup online menuntut performa: harus terlihat bahagia, produktif, dan selalu baik-baik saja.

Padahal realitas tidak selalu demikian. Banyak yang tersenyum di kamera, namun kelelahan di balik layar. Aktif di grup chat, tetapi merasa tidak benar-benar didengarkan.

Scroll Tanpa Henti, Lelah yang Tak Diakui

Scrolling tanpa tujuan menjadi ciri lain hidup online ala Gen Z. Bukan sekadar mengisi waktu, melainkan upaya melarikan diri sejenak dari pikiran sendiri.

Baca Juga: Quiet Quitting Versi Gen Z: Bukan Malas, Ini Cara Bertahan di Dunia Kerja yang Melelahkan

Sayangnya, alih-alih menenangkan, otak justru semakin lelah. Informasi datang bertubi-tubi: berita buruk, standar hidup tinggi, hingga pencapaian orang lain. Semua bercampur tanpa jeda. Psikolog menyebut kondisi ini sebagai kelelahan digital—tubuh diam, tetapi pikiran terus bekerja.

Offline Jadi Kemewahan Baru

Menariknya, di tengah padatnya hidup online, muncul keinginan sederhana: ingin offline. Bukan berarti menolak teknologi atau membenci media sosial, melainkan rindu hidup tanpa harus selalu terlihat.

Sebagian Gen Z mulai mencari ruang aman dengan membatasi waktu layar, mematikan notifikasi, atau menikmati momen tanpa kamera. Offline kini bukan tanda ketinggalan zaman, melainkan bentuk perawatan diri.

Hidup Online, Tapi Tetap Ingin Menjadi Manusia

Hidup online ala Gen Z adalah paradoks. Selalu terhubung, tetapi sering merasa sendirian. Bebas berekspresi, namun tertekan oleh standar tak tertulis.

Di balik semua itu, satu hal jelas: Gen Z sedang berusaha menyeimbangkan dunia digital dengan kesehatan mental.

Mereka tidak ingin meninggalkan internet. Mereka hanya ingin tetap menjadi manusia di tengah layar yang terus menyala. Dan mungkin, di era serba online ini, keinginan tersebut justru yang paling masuk akal.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Gen Z #kesehatan mental Gen Z #hidup online #media sosia #kelelahan digital