RADARBONANG.ID – Banyak anak tumbuh dengan sosok orang tua yang terlihat kuat, tenang, dan jarang mengeluh. Mereka hadir setiap hari, memastikan anak makan, sekolah, dan pulang ke rumah dengan aman.
Namun, ada satu hal yang sering terasa janggal: orang tua sulit sekali mengungkapkan perasaannya kepada anak.
Kalimat sederhana seperti “Ayah capek hari ini” atau “Ibu sebenarnya sedih” hampir tak pernah terdengar.
Baca Juga: Telur Dituding Biang Kerok Kolesterol? Fakta Terbaru Ini Bikin Banyak Orang Kaget!
Yang lebih sering muncul justru nasihat, aturan, dan kekhawatiran yang disampaikan dengan nada serius.
Hal ini kerap menimbulkan pertanyaan di benak anak: apakah orang tua tidak ingin berbagi perasaan, atau justru terlalu peduli hingga memilih diam?
Dididik untuk Kuat, Bukan untuk Bercerita
Banyak orang tua saat ini dibesarkan dalam budaya yang mengajarkan bahwa emosi adalah tanda kelemahan.
Menangis dianggap cengeng, mengeluh dinilai tidak bersyukur, dan menceritakan perasaan sering dipandang tidak dewasa.
Sejak kecil, mereka belajar bahwa orang dewasa harus terlihat kuat dan tidak boleh rapuh. Pola ini kemudian terbawa hingga mereka menjadi orang tua.
Mengungkapkan rasa lelah, sedih, atau takut kepada anak dianggap tidak pantas dan berisiko membebani.
Padahal, tanpa disadari, sikap tertutup justru bisa menciptakan jarak emosional yang perlahan membesar.
Takut Kehilangan Wibawa di Mata Anak
Bagi sebagian orang tua, wibawa adalah hal yang harus dijaga. Mereka merasa perlu selalu terlihat tahu, benar, dan mampu mengendalikan situasi. Mengakui perasaan dianggap bisa meruntuhkan citra tersebut.
Ada ketakutan bahwa jika anak mengetahui orang tuanya juga bisa bingung, sedih, atau gagal, maka rasa hormat akan berkurang.
Akhirnya, emosi disimpan rapat-rapat di balik sikap tegas dan komunikasi yang kaku. Yang tertinggal adalah hubungan yang terasa formal, bukan emosional.
Ekspresi Sayang Orang Tua Sering Salah Terjemahan
Menariknya, banyak orang tua sebenarnya mengekspresikan perasaan—namun tidak lewat kata-kata. Rasa sayang diwujudkan dalam bentuk kerja keras, larangan, dan kekhawatiran berlebihan.
Ketika orang tua berkata, “Jangan pulang malam,” yang sebenarnya mereka maksud sering kali adalah, “Aku khawatir.”
Saat mereka marah karena nilai anak menurun, di baliknya ada rasa takut anak tidak punya masa depan cerah.
Sayangnya, tanpa penjelasan emosional, anak lebih sering menangkap amarahnya, bukan rasa cintanya.
Perbedaan Generasi Memperlebar Jarak
Generasi orang tua tumbuh dengan pola komunikasi satu arah: orang tua berbicara, anak mendengarkan.
Sementara generasi anak saat ini terbiasa dengan dialog, curhat, dan validasi perasaan.
Perbedaan ini membuat banyak orang tua kebingungan. Mereka ingin dekat, tapi tidak tahu caranya.
Ingin terbuka, tapi takut salah ucap. Dalam kebingungan itu, diam sering terasa sebagai pilihan paling aman.
Orang Tua Juga Tak Pernah Diajari Cara Mengungkapkan Emosi
Hal yang sering dilupakan: orang tua juga manusia yang belajar sambil jalan. Tidak semua orang tumbuh dengan contoh komunikasi emosional yang sehat.
Banyak orang tua tidak pernah mendengar kalimat seperti “Aku bangga padamu” atau “Perasaanmu itu wajar” dari orang tuanya dulu.
Akibatnya, meski ingin mengatakan hal serupa kepada anak, kata-kata terasa kaku dan sulit keluar.
Saat Anak Dewasa, Barulah Kesadaran Datang
Ironisnya, kesadaran sering muncul ketika anak sudah dewasa dan jarak emosional terlanjur terbentuk.
Di sisi lain, banyak anak baru mulai memahami orang tuanya setelah mereka sendiri merasakan lelahnya hidup dan tanggung jawab.
Kesadaran ini memang sering datang terlambat, tetapi bukan berarti hubungan tidak bisa diperbaiki.
Baca Juga: Rumah Kecil, Hidup Lebih Ringan: Tren Hunian Fungsional
Hubungan yang Lebih Sehat Dimulai dari Empati
Mengungkapkan perasaan bukan soal siapa yang lebih lemah. Justru di sanalah hubungan yang sehat bertumbuh.
Saat orang tua berani jujur tentang perasaannya, anak belajar bahwa menjadi manusia tidak harus selalu kuat.
Dan ketika anak belajar mendengarkan tanpa menghakimi, orang tua perlahan merasa aman untuk membuka diri.
Karena pada akhirnya, orang tua bukan tidak ingin bercerita—mereka hanya terlalu lama belajar untuk memendam.
Editor : Muhammad Azlan Syah