Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Quiet Quitting Versi Gen Z: Bukan Malas, Ini Cara Bertahan di Dunia Kerja yang Melelahkan

Defy Maulida Puspaaji • Rabu, 17 Desember 2025 | 17:00 WIB

ilustrasi Quiet Quitting
ilustrasi Quiet Quitting

RADARBONANG.ID – Istilah quiet quitting kembali ramai diperbincangkan, terutama di kalangan Generasi Z.

Fenomena ini kerap disalahpahami sebagai bentuk kemalasan atau minimnya etos kerja anak muda.

Padahal, bagi banyak Gen Z, quiet quitting justru merupakan strategi bertahan hidup di tengah dunia kerja yang semakin menekan, kompetitif, dan melelahkan secara mental.

Quiet quitting bukan berarti mengundurkan diri dari pekerjaan. Para pelakunya tetap datang bekerja, menyelesaikan tugas, dan memenuhi tanggung jawab sesuai deskripsi kerja.

Baca Juga: Kenalan Sama FOMO: Budaya Takut Kudet yang Diam-Diam Menguras Energi Gen Z

Perbedaannya terletak pada sikap: mereka berhenti memberikan tenaga, waktu, dan emosi berlebihan di luar kewajiban formal tanpa kejelasan penghargaan atau dampak positif bagi kesejahteraan diri.

Bagi Gen Z, bekerja keras tanpa batas tidak lagi dipandang sebagai simbol kesuksesan. B

anyak dari mereka menyaksikan langsung bagaimana budaya kerja ekstrem justru melahirkan kelelahan mental, stres kronis, dan hilangnya kehidupan personal.

Dari pengalaman itulah muncul kesadaran baru untuk menarik garis batas yang lebih tegas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Quiet quitting versi Gen Z bisa dibaca sebagai bentuk perlawanan halus terhadap ekspektasi yang tidak realistis.

Alih-alih menolak secara frontal, mereka memilih menurunkan intensitas kerja ke level yang wajar.

Sikap ini bukan bentuk ketidakpedulian, melainkan upaya menjaga kesehatan mental agar tetap stabil di tengah tekanan target dan tuntutan performa yang terus meningkat.

Perubahan cara pandang ini tak lepas dari konteks zaman. Generasi Z tumbuh di tengah pandemi, ketidakpastian ekonomi, ancaman krisis global, serta paparan media sosial yang konstan.

Semua itu membentuk perspektif bahwa hidup tidak bisa hanya diisi oleh pekerjaan. Waktu istirahat, relasi personal, dan kesejahteraan emosional kini dianggap setara pentingnya dengan karier.

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung memaknai kerja sebagai pusat identitas, Gen Z melihat pekerjaan sebagai salah satu bagian hidup, bukan segalanya.

Mereka mulai berani menolak lembur tanpa kompensasi, pesan pekerjaan di luar jam kerja, hingga tuntutan selalu siap sedia. Bagi mereka, batasan bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan kebutuhan dasar.

Stigma “malas” kerap diarahkan kepada pelaku quiet quitting. Namun kenyataannya, banyak dari mereka justru adalah pekerja yang lelah secara mental.

Beban kerja yang tidak seimbang, minimnya apresiasi, serta ketidakjelasan jenjang karier membuat semangat perlahan terkikis.

Quiet quitting hadir sebagai mekanisme perlindungan diri agar kelelahan tersebut tidak berubah menjadi burnout berkepanjangan.

Fenomena ini juga memberi dampak pada dunia kerja secara luas. Di satu sisi, perusahaan melihat quiet quitting sebagai ancaman terhadap produktivitas.

Namun di sisi lain, fenomena ini menjadi cermin penting bagi organisasi untuk berbenah.

Lingkungan kerja yang sehat, komunikasi terbuka, transparansi karier, serta penghargaan yang adil dinilai sebagai faktor kunci untuk membangun loyalitas pekerja muda.

Gen Z sejatinya tidak menuntut perlakuan istimewa. Mereka hanya menginginkan sistem kerja yang manusiawi, di mana usaha dihargai secara layak dan kesehatan mental tidak dikorbankan demi target semata.

Baca Juga: Inovasi Limbah Daun Nanas Jadi Serat Pakaian, Produk Lokal Siap Tembus Pasar Ekspor

Tanpa perubahan mendasar, quiet quitting berpotensi berkembang menjadi gelombang resign diam-diam yang lebih besar.

Menariknya, bagi sebagian orang, quiet quitting hanyalah fase. Ada yang menjadikannya cara bertahan sementara, ada pula yang memanfaatkannya sebagai waktu untuk mencari peluang baru.

Dalam banyak kasus, quiet quitting menjadi sinyal awal bahwa seseorang tengah mengevaluasi masa depannya dan mempertimbangkan langkah berikutnya.

Pada akhirnya, quiet quitting versi Gen Z bukan sekadar tren media sosial. Ia adalah tanda perubahan zaman dalam memaknai kerja, sukses, dan keseimbangan hidup. Alih-alih menghakimi, dunia kerja dituntut untuk beradaptasi.

Sebab jika tidak, bukan hanya quiet quitting yang akan terjadi, melainkan hilangnya potensi besar dari generasi pekerja masa depan.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#quiet quitting #burnout #kesehatan mental karyawan #gen z kerja #budaya kerja