Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Kenalan Sama FOMO: Budaya Takut Kudet yang Diam-Diam Menguras Energi Gen Z

Widodo • Selasa, 16 Desember 2025 | 18:25 WIB

ILUSTRASI
ILUSTRASI

RADARBONANG.ID – Di dunia yang bergerak secepat scroll jempol, ada satu istilah yang makin sering mampir di ruang obrolan anak muda: FOMO, singkatan dari Fear of Missing Out. Sekilas terdengar ringan, bahkan lucu.

Namun di baliknya, FOMO perlahan menjelma menjadi tekanan sosial baru—halus, tak kasat mata, tapi menguras energi.

Tak sadar, banyak Gen Z menjalani hari dengan satu kecemasan yang sama: takut tertinggal. Takut tak tahu tren terbaru, takut tak ikut momen viral, takut dianggap kudet. Hidup seakan berubah menjadi perlombaan tanpa garis akhir.

Baca Juga: Redakan Maag Tanpa Obat, Ini Tips yang Disarankan Ahli

Apa Sih FOMO Itu?

FOMO adalah rasa takut ketinggalan hal-hal yang dianggap penting, seru, atau sedang ramai dibicarakan.

Bentuknya beragam: takut telat nonton film yang sedang viral, takut belum coba kafe baru, takut tak ikut konser, sampai takut tak nyambung obrolan karena ketinggalan tren TikTok.

Istilah FOMO pertama kali dipopulerkan lewat penelitian Dr. Andrew Przybylski dari University of Oxford pada 2013.

Ia menjelaskan bahwa FOMO muncul ketika seseorang merasa hidup orang lain tampak lebih menarik, lebih cepat, dan lebih penuh warna dibanding hidupnya sendiri. Media sosial kemudian memperbesar efek ini berkali-kali lipat.

Timeline: Arena Perbandingan Tanpa Henti

Coba jujur, berapa kali dalam sehari kita membuka Instagram atau TikTok, lalu tiba-tiba muncul pikiran, “Kok hidup orang lain seru banget?”

Itulah titik awal FOMO.

Laporan We Are Social & Meltwater 2024 mencatat, masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari tiga jam per hari di media sosial.

Paparan konten yang masif ini membuat kita terus disuguhi standar hidup yang sering kali tidak realistis.

Foto liburan teman, video unboxing gawai baru, konser penuh lampu warna-warni, hingga konten healing di tempat estetik—semuanya menanamkan perasaan yang sama: aku harus ikut, aku nggak boleh ketinggalan.

Gen Z, Kelompok Paling Rentan

Survei American Psychological Association (APA) 2023 menunjukkan bahwa FOMO paling tinggi dialami generasi muda.

Alasannya sederhana: hidup Gen Z sangat terhubung dengan online presence dan validasi sosial.

Beberapa mahasiswa di Tuban mengaku FOMO bisa muncul bahkan untuk hal sepele.
“Teman-teman bahas film baru, aku belum nonton. Rasanya kayak orang asing di tongkrongan. Akhirnya besoknya nonton juga biar nyambung,” ujar seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi.

FOMO sering dibungkus sebagai keinginan untuk update. Padahal, di baliknya ada tuntutan untuk terus hadir di setiap momen—bahkan ketika tenaga dan waktu sudah habis.

Saat FOMO Mengubah Cara Kita Hidup

Pelan-pelan, FOMO menggeser makna aktivitas sehari-hari:

Psikolog dari Universitas Indonesia dalam diskusi publik 2024 menyebut FOMO sebagai “tekanan sosial digital yang menurunkan kualitas kehadiran seseorang”. Tubuh memang ada di satu tempat, tapi pikiran sibuk membandingkan diri dengan orang lain.

Ketika FOMO Mulai Menguras Energi

WHO dalam laporan kesehatan mental remaja 2023 memperingatkan bahwa paparan media sosial berlebih dapat memicu kecemasan dan rasa tidak puas terhadap hidup sendiri.

FOMO membuat seseorang merasa hidupnya kurang “wah”, padahal yang dilihat hanyalah potongan terbaik dari hidup orang lain.

Di Tuban, efek FOMO bahkan terlihat di ruang publik. Event lokal bisa mendadak viral hanya karena satu video street food yang estetik. Antrean mengular bukan semata karena lapar, tapi karena “semua orang ke sana”.

Seorang pedagang di sekitar Alun-Alun Tuban bercerita sambil tersenyum, “Anak-anak muda sekarang datang foto dulu, baru beli. Kadang fotonya lebih lama dari makannya.”

Baca Juga: Rumah Kecil, Hidup Lebih Ringan: Tren Hunian Fungsional

Haruskah Takut pada FOMO?

Tidak. FOMO tidak selalu buruk. Dalam kadar tertentu, ia bisa mendorong kita mencoba hal baru. Masalah muncul ketika FOMO yang mengendalikan, bukan sekadar menemani.

Ketika hidup terasa seperti lomba mengejar tren, kita kehilangan ruang bernapas. Kita lupa bahwa:

Jawabannya: JOMO

Kini, sebagian Gen Z mulai melirik “saudara sehat” FOMO: JOMO (Joy of Missing Out). Seni menikmati momen tanpa harus ikut semua hal.

Di tengah dunia yang bising, mungkin JOMO adalah tren paling tenang—dan paling waras—yang bisa kita pilih.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Gen Z #takut ketinggalan #budaya media sosial #fomo #fear of missing out