Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Akhir Tahun Bukan Ajang Lembur Tanpa Henti! Ini Cara Cerdas Menghadapi Workaholic yang Mulai “Kambuh”

Defy Maulida Puspaaji • Selasa, 16 Desember 2025 | 16:15 WIB

Bekerja keras itu perlu, tapi kelelahan bukan prestasi. Saat tubuh menyerah, itu tanda istirahat bukan kemewahan—melainkan kebutuhan
Bekerja keras itu perlu, tapi kelelahan bukan prestasi. Saat tubuh menyerah, itu tanda istirahat bukan kemewahan—melainkan kebutuhan

RADARBONANG.ID – Target belum tercapai, laporan menumpuk, kalender kerja penuh coretan merah.

Bagi banyak pekerja, akhir tahun sering datang bukan sebagai penutup yang menenangkan, melainkan fase paling melelahkan dalam setahun. Di sinilah satu “penyakit” klasik dunia kerja kembali kambuh: workaholic akut.

Tak sedikit orang yang merasa bangga bisa bekerja hingga larut malam, tetap membuka laptop saat liburan, atau membalas email kantor di hari cuti.

Ironisnya, perilaku ini kerap dianggap sebagai bukti dedikasi dan profesionalisme. Padahal, bekerja tanpa henti bukan tanda produktif. Justru, itu alarm bahaya yang sering diabaikan.

Baca Juga: Skateboard dan Emas Indonesia: Basral Graito Buktikan Prestasi Tak Selalu Lahir dari Fasilitas Mewah

Fenomena Workaholic Akhir Tahun: Kenapa Selalu Terulang?

Akhir tahun memang identik dengan tekanan. Perusahaan mengejar target tahunan, melakukan evaluasi kinerja, menutup laporan keuangan, sekaligus menyiapkan rencana kerja untuk tahun berikutnya. Beban kerja menumpuk dalam waktu yang relatif singkat.

Di tengah tekanan itu, banyak pekerja terjebak pada pola pikir “sedikit lagi”. Sedikit lagi lembur, sedikit lagi diselesaikan, sedikit lagi dikorbankan.

Tanpa disadari, jam kerja memanjang, waktu istirahat menghilang, dan stres meningkat drastis.

Ironisnya, semakin keras tubuh dipaksa bekerja, produktivitas justru menurun. Fokus melemah, emosi mudah tersulut, dan kualitas keputusan ikut menurun.

Namun, siklus ini terus berulang setiap akhir tahun, seolah menjadi tradisi tak tertulis di dunia kerja.

Tanda-tanda Anda Sudah Masuk Zona Workaholic

Workaholic tidak selalu terlihat dari banyaknya pekerjaan. Ia sering menyamar sebagai “tanggung jawab” dan “komitmen”.

Beberapa tanda yang patut diwaspadai antara lain merasa gelisah saat tidak bekerja, sulit berhenti meski tubuh sudah lelah, membawa pekerjaan ke rumah dan akhir pekan, serta muncul rasa bersalah ketika beristirahat.

Ciri lain yang kerap muncul adalah jam kerja yang semakin panjang, tetapi hasil kerja justru tidak sebanding. Jika kondisi ini terasa akrab, bisa jadi tubuh dan pikiran Anda sedang mengirim sinyal darurat.

Cara Cerdas Menghadapi Workaholic di Akhir Tahun

Menghadapi workaholic bukan soal mengurangi ambisi atau menjadi malas. Ini soal strategi bertahan agar tetap sehat dan efektif.

Pertama, pisahkan mana yang benar-benar penting dan mana yang hanya terasa mendesak. Tidak semua pekerjaan harus selesai hari ini. Bertanya pada diri sendiri, “Apakah ini benar-benar fatal jika ditunda?” sering kali membantu menurunkan kepanikan.

Kedua, tetapkan batas jam kerja dengan tegas. Akhir tahun bukan alasan untuk bekerja tanpa henti. Produktivitas tinggi lahir dari pikiran segar, bukan dari mata lelah dan emosi yang terkuras.

Ketiga, ambil cuti tanpa rasa bersalah. Cuti bukan hadiah, melainkan hak. Dengan istirahat, otak punya kesempatan untuk “reset” dan kembali bekerja lebih fokus.

Perusahaan bisa mengganti posisi, tetapi kesehatan fisik dan mental tidak bisa diganti.

Keempat, hentikan kebiasaan menganggap lembur sebagai prestasi. Budaya bangga lembur masih kuat, padahal kerja cerdas jauh lebih bernilai dibanding kerja lama.

Orang yang efektif bukan yang paling sering terlihat sibuk, melainkan yang mampu mengambil keputusan tepat dalam waktu yang efisien.

Kelima, jaga batas digital. Email tengah malam dan pesan kerja di hari libur adalah jebakan klasik workaholic.

Mematikan notifikasi kerja di luar jam kantor bukan bentuk ketidakpedulian, melainkan cara melindungi diri.

Baca Juga: Rumah Kecil, Hidup Lebih Ringan: Tren Hunian Fungsional

Akhir Tahun Seharusnya Jadi Waktu Pulih, Bukan Ajang Adu Lelah

Idealnya, akhir tahun menjadi momen refleksi: mengevaluasi pencapaian, menyusun rencana hidup, dan memulihkan energi fisik serta mental. Bukan ajang adu kuat siapa paling sibuk dan paling lelah.

Bekerja keras memang penting. Namun, hidup yang seimbang jauh lebih berharga.

Karena produktivitas sejati tidak lahir dari kelelahan yang dipaksakan, melainkan dari tubuh dan pikiran yang terjaga.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#kesehatan mental pekerja #lembur akhir tahun #workaholic #keseimbangan kerja #stres kerja